Persebaya Itu Virus

87
Hansamu Yama usai penandatanganan kontrak bersama Persebaya. Foto: Rizka Perdana Putra for EJ
538Shares

Plong, begitu perasaan Bonek mendengar kabar bahwa Hansamu Yama Pranata bergabung bersama Persebaya. Pemain yang digadang-gadang bisa bergabung bersama Green Force itu akhirnya berlabuh juga dengan nomor punggung 23. Tentu bukan harga yang murah untuk mendapatkan Kapten Timnas Indonesia tersebut. Kira-kira berapa nilai transfer pemain kelahiran Kota Mojokerto ini? Puluhan atau ratusan juta kah?

Mencermati tayangan YouTube Official Persebaya berjudul Interview Hansamu Yama Pranata, rasanya patut diapresiasi setinggi-tingginya. Bagi Hansamu, Persebaya adalah dambaan dan cita-citanya. Bukan hal yang muluk-muluk memiliki cita-cita untuk bergabung bersama Persebaya. Tetapi bertepatan pada hari ulang tahun yang ke-24, ia mewujudkan cita-cita tersebut. Sebuah pilihan yang tepat menjadikan Persebaya sebagai rumahnya saat ini. Tentunya sebagai pemain profesional, bukan karena ukuran materi saja yang menjadi pertimbangan. Bisa jadi pertimbangan itu bernama loyalitas.

Menjadi atlet profesional pada bidang olah raga itu semacam keharusan yang tidak tertulis. Keahlian, kemampuan, dan pengalaman menjadi pertimbangan seseorang direkrut oleh sebuah klub. Ada nilai kepantasan yang sesuai dengan usaha para atlet untuk memberikan yang terbaik kepada klub yang sedang dibelanya. Atlet berlatih dari usia muda, menghabiskan masa mudanya dengan berlatih dan berlatih sehingga menjadi sangat ahli. Tentu bukan harga yang murah untuk digantikan dengan materi apapun.

Wajar kiranya, seorang atlet mempertimbangkan angka pada setiap proses negosiasi. Nilai tersebut bukan tanpa dasar, tentu banyak pertimbangan yang rumit dalam menentukan nilai profesionalisme para atlet profesional. Belum lagi, kepastian kontrak para atlet. Ada yang berdurasi panjang, bahkan ada yang sangat singkat. Rasanya tidak adil juga menggadaikan kemampuan para atlet untuk berjuang dan membela klubnya selama satu musim saja. Terlalu singkat. Tapi itulah olah raga profesional.

BACA:  Kapan Kita Punya UU Suporter Sepak Bola?

Jika profesional dijadikan acuan, tentu Hansamu tidak akan memilih Persebaya sebagai klub yang dibelanya. Banyak klub lain yang mampu memberikan angka fantastis untuk kemampuannya tersebut. Siapa yang tidak tergiur jika ada klub yang mampu membayar 3x lipat dari nilai kontraknya? Hanya manusia gila yang menolak tawaran tersebut.

Ya benar, kata orang Surabaya itu “kepincut”. Perasaan senang, gembira, bahagia, kepada sesuatu. Lebih-lebih sesuatu itu yang diinginkan sejak dulu. Mungkin perasaan itulah yang dirasakan oleh Hansamu kepada Persebaya. Virus sang ayah yang ditularkan kepadanya sejak kecil ternyata menancap dalam hatinya. Sulit untuk dilepaskan. Baginya Persebaya semacam virus yang bisa menyakitkan, harus bergabung bersama Persebaya itulah obatnya. Bagi Hansamu, kepincut sudah mengalahkan segala-galanya, bahkan nilai angka sekalipun. Kepincut itulah loyalitas, tidak ada harganya. Jika dihargai tentu sangat mahal sekali.

Selamat Datang Hansamu!

Bangkalan 2019

Facebook Comments