PSSI Zaman Now

86
Joko Driyono. Foto: Rizka Perdana Putra for EJ
257Shares

Sejenak cooling down membahas Persebaya dengan segala hiruk-pikuk di dalamnya. Bolehlah sedikit menikung tajam membahas sesuatu yang lebih serius untuk disuarakan. Betul sekali, PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia). Mendengar kata tersebut rasanya campur aduk. Marah, dongkol, kecewa, dan segala perasaan yang sama dirasakan oleh seluruh suporter se-Indonesia saat ini.

Rabu, 23 Januari 2019 menjadi peristiwa penting bagi Sepak bola Indonesia, setelah tayang berjilid-jilid. Tayangan Mata Najwa jilid 3 kemarin layak untuk diapresiasi. Mengambil tema Revolusi PSSI, sejumlah narasumber dihadirkan untuk memberikan klarifikasi langsung terhadap perkembangan sepak bola Indonesia. Pasca terpilihnya Joko Driyono menjadi Plt Ketua Umum PSSI, publik sepak bola Indonesia spontan menjadi sangat gaduh. Bagaimana tidak, di era milenial, kekinian dan zaman now seperti sekarang ini, PSSI dinahkodai seorang Old Leader. Mampukah?

Tidak bermaksud meremehkan kemampuan Jokdri dalam persepakbolaan Indonesia, tapi publik sepak bola sudah mengetahui bagaimana sepak terjangnya di dalam PSSI. Pemilik saham mayoritas klub Persija Jakarta ini salah satu orang yang paling lama berada di PSSI.

Dalam kariernya, ia hampir 30 tahun di PSSI. Joko Driyono telah merasakan enam Ketua Umum yang berbeda. Mulai dari Azwar Anas (1991-1999), Agum Gumelar (1999-2003), Nurdin Halid (2003-2011), La Nyalla Mattalitti (2015-2016), dan Edy Rahmayadi (2016-2019).

Jokdri juga pernah menyandang dua jabatan dalam sepak bola yakni CEO PT Liga Indonesia sekaligus Sekjen PSSI pada 2013. Saat jadi Waketum PSSI, ia juga ditunjuk sebagai Wakil Ketua AFF pada 2017.

Segudang jabatan di sepak bola Indonesia pernah didudukinya. Baik menjadi ketua, wakil ketua maupun pengurus. Tapi ditangannya pula, prestasi sepakbola Indonesia masih begitu-begitu saja, standart dan biasa sekali. Belum ada gagasan yang visioner terhadap sepak bola Indonesia di masa depan. Semuanya seolah-olah hanya meneruskan rutinitas pimpinan saja.

BACA:  Lawan Persebaya, Mitra Kukar Tak Bisa Mainkan Dua Pemain Inti

Memimpin organisasi besar yang modern akan sangat mudah jika pemimpinnya menggunakan kaca mata kekinian dalam menjalankan organisasinya. Keadaan sekarang tidak sama dengan dulu. Jangan terjebak romantisme masa lalu. Zaman sudah berubah.

Butuh banyak inovasi, kreatifitas, serta gagasan yang visioner mengelola organisasi sebesar PSSI. Pengalaman 30 tahun Jokdri di dalam PSSI harusnya mampu membawa PSSI terbang tinggi dengan segudang prestasi. Nyatanya, bagaimana kondisi sekarang?

Terlambatnya jadwal liga, match fixing, serta beberapa faktor lain merupakan contoh kecil buruknya pengurus PSSI mengurusi organisasi. Itulah yang menyebabkan publik sepak bola di Indonesia menjadi gaduh. Kecurigaan publik terhadap PSSI semakin tak terbantahkan. Harus segera dibenahi.

Lantas, bagaimana idealnya PSSI Zaman Now?
Kira-kira seperti apa kriteria Ketua Umum PSSI selanjutnya? Sosok seperti apa lagi yang pantas menjabat di sana?

Pertama, sosok yang sangat mengerti luar dalam sepak bola Indonesia. Minimal dua dekade terakhir mengikuti sepak terjang sepak bola Indonesia dan segala permasalahannya.

Kedua, tidak rangkap jabatan. Berkaca dari pemimpin sebelumnya, maka wajib bagi memimpin mendatang untuk tidak melakukan hal yang sama.

Ketiga, idealnya memiliki rekam jejak yang bersih terutama dalam hal finansial. Tidak memihak pada siapapun dan mau membangun sepak bola Indonesia.

Belum terlambat, PSSI Ayo Berbenah.

Bangkalan 2019

Facebook Comments