Junior yang “Terpinggirkan”, Bonek yang Menengadahkan

Foto: Yosia Reborn for EJ
Iklan

Persebaya memang tak bisa jauh dari prestasi di segala level kompetisi dan turnamen. Nama besarnya menjadi jaminan sebuah kompetisi dan turnamen memiliki kadar kualitas, itu karena ada Persebaya di dalamnya.

Terbaru, Persebaya junior kelompok umur 17 tahun berhasil menjuarai Piala Soeratin 2018 setelah di final mengalahkan Persipan Pandeglang dua gol tanpa balas. 17 tahun lalu piala atas nama pendiri PSSI ini diraih Persebaya ketika anak-anak peraih juara tahun ini masih berusia 9 bulan dalam kandungan, kira-kira begitu.

Bicara Persebaya tentu tak lepas dari “kemewahan” sebuah tim yang di kelola secara profesional bisnis di dalamnya. Namun apakah pengelolahan itu mencakup level junior dan pembinaan? mari kita raba perlahan sejauh mana bahasa sustainable membumi hingga “sawah ladang” produk pemain di tempa Chandradimuka yang bernama Karanggayam itu.

Persebaya nampak menjadi satu kesatuan di dalam tim senior yang saat ini di huni Misbakus Solikin dkk. Kita seakan hanya dihadapkan situasi bahwa itulah Persebaya yang peringkat kelima musim kompetisi 2018, dan segala energi di pusatkan ke tim yang bermarkas di apartemen Marina Surabaya.

Iklan

Kemewahan itu jelas. Tim yang dikelola secara bisnis akan keluar sebagai tim profesional. Begitu seruan Presiden klub Azrul Ananda. Artinya, pengelolaan bisnis dan profesional hanya berlaku pada Ruben Sanadi dkk, namun tidak bagi level di bawahnya yang memang koridor mereka bukanlah klub profesional.

To the point. Jika melihat kontestan Piala Soeratin yang representasi dari tim seniornya memang terdapat beberapa klub, yang kasat mata di semifinal adalah Bali United U-17. Jersey yang mereka gunakan persis kita melihat pasukan tridatu senior mereka. Banyak sponsor mereka yang juga sepakat digunakan pada level junior, entah bagaimana marketing BU melobi sponsor hingga terlibat di level junior mereka.

Foto: Yosia Reborn for EJ

Persebaya?

Anda boleh berbangga memiliki Jersey orisinil seharga Rp 750 ribu, pemilik store resmi 16 outlet, pemilik Jersey 3 jenis untuk 1 musim kompetisi, jersey latihan, staff pelatih, kitman, dll. “Kemewahan” itu tidak terlihat di level junior di bawah U-19.

Jersey U-19 pernah terpajang di store dibandrol dengan harga yang tidak murah, apa karena U-19 bermain dalam Liga 1 U-19 hingga harus menjadi cerminan kelompok senior? jika memang demikian, rantai itu hanya terhenti di usia 19 yang menerima segala fasilitas yang ada.

Saleh Hanifa, direktur pembinaan Persebaya rupanya meminjam bahasa ibunda Supriadi di sebuah iklan minuman isotonik. “Tidak penting sepatunya, yang penting bisa buat gol sebanyaknya,” begitu kata Supriadi mengisahkan perjalanannya di iklan tersebut. Artinya, Saleh beranggapan tak penting jersey yang bagus, yang penting permainan, seperti di kutip oleh media Indosport lalu. Dan, apa yang dikatakan Saleh benar adanya.

Jersey persebaya U-17 tidak representasi dari Persebaya senior. Jika saja tak ada logo persebaya di jersey kusam itu, kita tak akan tahu bahwa tim ini adalah Persebaya Surabaya usia 17 tahun. Kasihan adik-adik yang telah mati matian membela nama klub yang menjadi cita-cita mereka sejak mengenal sepakbola. Jersey tambal sulam itu bukan sengaja melengkapi stigma “gembel” yang lekat disebut rival Persebaya yaitu “gembel” dan “maling gorengan”.

Beruntung segala sesuatu yang bernama Persebaya dalam kondisi apapun tetap dicintai Boneknya. Sambutan pawai kedatangan rombongan U-17 tadi menjadi jawaban bahwa Bonek itu hadir untuk Persebaya, apapun itu. Persebaya U-17 yang “terpinggirkan” itu dikembalikan ke tengah serta diberi ruang apresiasi setingginya oleh Bonek sepanjang jalan Bundaran Waru hingga Karanggayam. Dan, anak-anak U-17 tak boleh berkecil hati dengan jersey yang didapat. Kapten Ruben Sanadi dan official menyambut dalam kemewahan cara Bonek, yang melihat segala sesuatu dengan dan atas nama Persebaya adalah kebanggaan.

Bagaimana dengan official Persebaya?

Komentar Artikel

Iklan

No posts to display