Meletakkan “Maling Gorengan” Pada Tempatnya

Foto: Yosia Reborn for EJ

Sekiranya istilah maling gorengan muncul ketika Bonek yang melaksanakan awaydays nan bersamaan dengan pemberitaan negatif tentang Bonek. Tidak naif, memang begitulah kami. Bonek, suporter Persebaya, yang diakui maupun tidak adalah barometer suporter sepak bola pertama dan terbesar di Indonesia. Namun, apakah kami bangga? Bisa iya, mungkin saja tidak. Sebagaimana maling gorengan yang ditujukan kepada kami, bisa marah, mungkin saja kami banyak tertawanya, ha ha ha.

Gaung istilah tersebut justru muncul dari yang mengaku-ngaku sebagai rival Bonek, yang menumpang nama besar Bonek sebagai episentrum suporter sepak bola. Bukan bermaksud su’udzon, namun maling gorengan itu muncul tak lain adalah untuk membunuh karakter Bonek. Tapi nyatanya? Secara kualitas kami berubah walaupun secara kuantitas masih ada satu dua yang belum menemukan cara untuk berubah. Sudahlah, kebaikan-kebaikan Bonek hanya Tuhan yang tahu, malaikat Rokib yang mencatatnya. Soal keburukan Bonek, biarkan saja mereka yang membantu tugas malaikat Atid.

Yang akan kita rembug di platform ini adalah maling gorengan yang hinggap dalam perjalanan panjang Bonek. Istilah, atau tepatnya penulis menyebutkannya sebagai ‘jargon penyemangat’. Kok jargon penyemangat? Bukannya Salam Satu Nyali Wani? Oh tidak. Bukan maksud penulis untuk menyetarakan kelas dari Salam Satu Nyali Wani dan maling gorengan, tentu sangat tidak relevan, bukan kelasnya. Karena maling gorengan adalah hanyalah salah satu kategori dari taboo, slang or register words yang toh nantinya akan lenyap termakan zaman seperti yang sudah-sudah.

Halaman 1 2 3 4

Komentar Artikel