Jaga Kewarasan Suporter dengan Tidak Mencaci Maki di Medsos

294
Bonek di Si Jalak Harupat. Foto: Yosia Reborn for EJ
Shares

Pertandingan Liga 1 2019 telah dibuka di Sleman. Salah satu liga dan pertandingan yang sudah dinanti oleh khalayak pecinta sepak bola di Indonesia. Meski pertandingan ini mundur dari jadwal karena alasan tertentu, tapi masyarakat sangat antusias untuk menyambutnya. Namun, pertandingan yang disiarkan langsung itu malah menjadi ajang pembuka yang tidak pantas, karena terdapat ulah “oknum” suporter yang mengacaukan hingga pertandingan dihentikan sementara waktu.

Tapi baiknya pertandingan dimulai lagi dan diakhiri oleh kemenangan tuan rumah yakni PSS Sleman dengan skor 3-1. Sayangnya pertandingan itu masih menjadi luka baru karena sejatinya sepak bola menjadi alat pemersatu tapi menimbulkan korban jiwa yakni kalangan suporter sampai orang umum.

Karena masalah ini juga merembet ke media sosial, yang ujung-ujungnya terdapat sebuah ejekan bahwa yang menyebabkan di Sleman itu Bonek. Ah itu akal-akalan orang yang benci Bonek saja. sampai ada slogan “gak gampang dadi Bonek”

Kita lihat rumah kita sendiri saja

Pada pertandingan selanjutnya sangatlah dinanti oleh semua pendukung berbagai klub di tanah air, seperti halnya Bonek. Setelah pertandingan pembuka selesai, esoknya Persebaya bertandang ke Bali untuk melakoni away pertamanya. Ini kan pertandinganawal, jadi kudu isok namu seng apik nang tuan rumah.

Kata-kata itu pun terus didengungkan di medsos besar para suporter Persebaya. Bahwa kita akan melakoni pertandingan yang jauh dan tentu saja dengan “kuota” yang tidak banyak. Meski begitu lini masa sudah menyebarkan virus “Tamu Harus Baik”

Meskipun demikian kampanye ini juga sangat kontradiktif saat salah seorang “oknum” yang nakal menjadi benalu di tubuh Bonek yang sudah beranjak meninggalkan masa kelamnya .

BACA:  Tanyakan Cak Mahardika Nurdiansyah, Song For Pride untuk Apa dan Siapa?

Dunia suporter memang bagai es campur segar buat lini masa medsos. Ya karena memang semua konflik dimulai dari medsos dan akan merambah ke dunia nyata.

Kejelian kita memaknai media sosial dan menumbuhkan rasa kemanusiaan sebesar-besarnya terhadap manusia lain adalah cara yang tepat untuk menentukan arah ke depan suporter kita.

Beranjak dari yang sudah-sudah, mari bersama untuk tetap menjaga kewarasan bermedia sosial kita dan menjaga tangan-tangan mungil kita untuk mencaci maki di media sosial. Karena sepak bola hanyalah sebuah alat pemersatu bangsa.

Apa kita tidak capek? Apa kita tidak melihat orang-orang di federasi yang masih cari keuntungan karena ulah suporter?

Mari bergandengan tangan untuk mengubah semua yang sudah kita lewati bersama. Meski hanya sedikit-sedikit, Insya Allah akan menjadi bukit dan akan tetap diteruskan oleh para suporter Persebaya di masa yang akan datang.

Jaga nama Persebaya dan Surabaya dengan tidak mengotorinya dengan hal-hal yang merugikan orang lain. Karena harus menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

Semua demi Persebaya dan sepak bola kita!

Salam Satu Nyali! Wani!

Facebook Comments