Nyala Flare: Mencari Solusi Antara Luapan Emosi dan Denda

315
Flare dinyalakan Bonek usai laga berakhir. Foto: Joko Kristiono/EJ
Shares

Tidak bisa dipungkiri bahwa dalam urusan mendukung tim kesayangannya Persebaya, Bonek melakukannya dengan sepenuh jiwa. Tidak saja di luar stadion, apalagi saat menyaksikan tim Persebaya bertanding dalam stadion. Wajar saja baik saat Persebaya menang apalagi kalah, berbagai bentuk ungkapan emosi ditampilkan oleh puluhan ribu Bonek yang pasti memadati stadion homebase Persebaya.

Teriakan pisuhan, caci-maki, ataupun yang tak jelas apa maksudnya terlepas bebas keluar dari Bonek yang tidak puas. Beberapa di antara mereka memilih melakukan aksi negatif non verbal seperti melempar apapun seperti botol, atau benda lain yang bisa dijangkau untuk diarahkan ke pihak yang dianggap bertanggungjawab atas kekecewaan yang mereka alami. Sebagian lainnya memilih memberikan tanda atau simbol kekecewaan berupa siulan panjang, menyalakan flare, atau bahkan membakar sesuatu di tribun hanya agar kekecewaan mereka dilihat dan direspon baik oleh pemain, pelatih, maupun manajemen Persebaya.

Itu dulu, saat belum ada aturan yang ketat tentang bentuk ekspresi suporter sepak bola Indonesia diberlakukan PSSI. Kalau Anda adalah pecinta sepak bola tanah air sejak dulu maka pasti Anda pernah temui atau menyaksikan sendiri tawuran antar pemain atau melibatkan suporter yang turun ke stadion. Saya sendiri saat masih kecil pernah diajak ayahanda yang juga suporter berat Persebaya jaman Syamsul Arifin dan Mustaqim, menonton pertandingan di Gelora 10 Nopember Tambaksari yang rusuh dan lari terbirit-birit karena kejaran anjing herder milik petugas keamanan. Tidak ada sanksi yang cukup signifikan untuk membuat kondisi lebih baik saat itu, selain berita heboh di media (koran), rasa malu, dilupakan, dan kemudian terulang lagi.

Namun saat ini, kondisi sudah berbeda. Meski prestasi sepakbola nasional cenderung menurun dari jaman sebelumnya, tapi PSSI sebagai federasi resmi sepak bola Indonesia telah beberapa langkah lebih maju dalam hal penegakan sportifitas baik kepada pemain, manajemen, maupun suporter. Khusus untuk suporter, sebagian bentuk ekspresi negatif yang dulu leluasa dilakukan telah dibatasi dengan tegas. Sanksi denda besar terhadap manajemen klub yang tidak bisa membina suporternya dengan baik adalah sebuah pukulan yang telak, mengingat pendanaan klub profesional Indonesia saat ini tidak lagi menyusu kepada pemerintah daerah setempat. Sedangkan sanksi larangan pertandingan dihadiri suporter (tanpa penonton) juga merupakan penderitaan berat bagi suporter termasuk Bonek yang merasa tidak bisa dipisahkan dari tim Persebaya saat bertanding.

Baru-baru ini, akibat kekalahan tandang di Bali serta dua hasil seri rasa kalah di kandang Persebaya menjadikan Bonek meluapkan kekecewaannya dengan menyalakan flare dalam stadion Gelora Bung Tomo saat pertandingan masih berjalan. Bukan cuma seri-nya (baca: kalah) yang membuat sesak, tapi cara kalahnya itu yang mengiris hati. Bagaimana tidak, beberapa dulur Bonek mengaku tidak tidur semalaman untuk mengerjakan spanduk raksasa agar pemain bersemangat seperti mereka. Sebagian lainnya dengan semangat 10 Nopember rame-rame ngamen angklung di perempatan lampu merah agar cukup dana membeli tiket. Namun apa yang dilihat? Nyala semangat arek Suroboyo hanya bertahan 15 menit saja saat pertandingan melawan PSIS. Setelah itu hanya beberapa pemain, dan justru termasuk di dalamnya pemain asing yang masih berusaha ngosek meski kurang mendapat support temannya.

BACA:  Tiga Lubang Persebaya yang Perlu Ditambal Jelang Liga 1

Alhasil, denda akibat nyala flare 4 kali (ternyata dihitung juga oleh PSSI) diterima oleh manajemen. Untungnya belum sampai pada larangan penonton pada pertandingan berikutnya. Untungnya juga manajemen cukup bijak untuk tidak menyalahkan Bonek dalam kasus ini. Bahkan pelatih menyatakan meminta maaf atas hasil yang dicapai sejauh ini. Sebenarnya bukan sekedar hasil, tapi api semangat sepanjang pertandingan itu yang diidamkan oleh Bonek.

Lalu bagaimana solusinya agar Bonek bisa mengingatkan pemain agar segera sadar dan terlecut semangatnya, serta terhindar dari kekalahan? Meski salah satu tugas pelatih adalah memompa semangat pemain, tapi itu sulit dilakukan saat pertandingan sedang berjalan ditengah hingar-bingar teriakan Bonek dalam stadion. Ya… Bonek-lah yang bisa melakukannya. Sedangkan menyalakan flare justru akan berujung sanksi berat.

Berangkat dari keprihatinan inilah kemudian penulis berusaha mencoba membuat sebuah solusi, melalui sinyal S.O.S. Sinyal SOS adalah sinyal berupa nyala lampu atau bunyi-bunyian atau kepulan asap yang biasa dibuat untuk menandakan tanda bahaya. Dengan sinyal lampu SOS yang menyala secara bersama-sama oleh Bonek dalam stadion maka pertanda bahwa tim Persebaya dalam bahaya kekalahan atau seri karena permainan yang tidak mendukung untuk menang. Dengan demikian (diharapkan) pemain akan segera tersadar dan terlecut semangatnya untuk berusaha memenangkan pertandingan. Sementara nyala flare yang berujung denda bisa dihindari.

Solusi berupa aplikasi handphone yang diberi nama “Bonek” ini semakin memperkaya aplikasi sejenis untuk suporter Persebaya yang selama ini hanya didominasi oleh kumpulan lagu-lagu perjuangan Persebaya. Selain itu terdapat menu rute mBonek menuju stadion lawan-lawan Persebaya di Liga 1 Indonesia 2019 untuk Bonek yang berniat mendampingi tim Persebaya away. Aplikasi dari Bonek untuk Bonek tersebut sudah tersedia di Google Play Store dan bisa dicari dengan kata kunci “Bonek edukaze.com”. Meski masih cukup sederhana dan butuh banyak masukan dan perbaikan, semoga bermanfaat bagi Bonek khususnya dan persepakbolaan Indonesia pada umumnya.

Salam satu Nyali!

*) Penulis adalah seorang Bonek yang kebetulan menjadi dosen di Unitomo Surabaya.

Facebook Comments