Maraknya Tiket Palsu: Penggandaan Barcode dan Cara Menghindarinya

235
Penukaran Tiket. Foto: Donie VJ/EJ
Shares

Sudah menjadi hal lazim tentang sulitnya mendapat tiket pertandingan laga kandang Persebaya Surabaya ketika kedatangan tamu besar era perserikatan seperti Persib Bandung atau Persija Jakarta. Dua musim terakhir, tiket selalu ludes dan Gelora Bung Tomo penuh sesak oleh Bonek. Ironisnya, hal ini justru dimanfaatkan oleh oknum untuk mengeruk keuntungan dengan cara yang tidak sah atau melanggar hukum.

Tiket palsu kerap diperjualbelikan pada laga-laga spesial tersebut. Dengan iming-iming harga miring atau mendekati normal, kita bisa mendapatkan tiket abal-abal tersebut. Tentu saja tiket itu tidak akan pernah menghantarkan kita untuk duduk di tribun Gelora Bung Tomo karena sudah pasti terganjal dalam proses scanning barcode saat masuk.

Seberapa Penting Barcode pada Tiket?

Jawabannya jelas. SANGAT PENTING! Bahkan tidak salah ketika ada orang yang menyebut (istilahnya) bahwa sebenarnya kita membeli barcode untuk masuk stadion. Barcode adalah suatu kumpulan data optik yang dibaca mesin (Sere Saghraine).

Ketika membeli tiket, kita akan mendapat barcode (baik dari e-voucher maupun tiket gelang) yang sifat keduanya PRIVATE atau RAHASIA. Tidak untuk diberikan kepada siapapun, termasuk menyebarkannya di media sosial demi sekadar pamer kepada warganet. Itu sebuah blunder, lur!

Sebelum masuk stadion, akan ada pintu dengan perangkat Barcode Scanner yang dijaga oleh petugas. Perangkat tersebut tersambung dalam suatu jaringan nirkabel, dan akan mencocokkan barcode tiket kita dengan database tiket yang tersedia. Ketika proses scanning sukses (biasanya indikator berwarna hijau), maka setelah itu secara otomatis barcode tiket kita tidak akan bisa di-scan kembali.

Itulah mengapa kasus tiket palsu sering terjadi gagal scanning karena barcode telah digandakan oleh calo sehingga muncul konsep “siapa paling cepat, dia yang bisa masuk”. Contoh gampangnya, dari 10 tiket palsu, hanya 1 yang bisa lolos yaitu yang pertama kali di-scan. Ironis, padahal seharusnya tiket bisa lolos scanning kapan saja sesuai kehendak sang pemilik.

Catatan lain terkait barcode, yang paling penting bukan hanya garis-garis warna hitam dalam barcode saja, namun juga angka yang tertera dibawahnya. Angka tersebut adalah representasi dari garis-garis warna hitam tersebut. Jika angka tersebut bocor dan tersebar luas, maka ada peluang dari oknum yang tidak bertanggung jawab untuk memanfaatkannya. Contohnya ilustrasinya seperti ini :

ILUSTRASI – Jojo senang karena telah mendapat tiket untuk pertandingan Persebaya melawan Tottenham Hotspur. Ia membagikan foto tiket tersebut ke media sosial dan terlihat oleh “musuhnya”, Zoro. Zoro kemudian mencatat angka pada barcode milik Jojo tersebut, dan mulai mendesain/menduplikasi tiket sendiri semirip mungkin sesuai desain asli meski dengan alakadarnya karena selama ini tidak ada pemeriksanaan tiket secara mendetail dari petugas. Lalu ia meng-generate angka barcode milik Jojo di salah satu situs Barcode Generator. Tiket “home made” milik Zoro tersebut berhasil ia print. Ketika hari H pertandingan, ia berangkat sangat awal dan masuk beberapa detik setelah open gate. Taraaaa, Zoro berhasil lolos dari scanner. Sementara Jojo akan ditolak karena barcode tiketnya telah digunakan oleh Zoro.

Seperti itulah kira-kira ilustrasi penggandaan barcode atau pencurian tiket. Sangat mengerikan bukan? Maka dari itu, ayo jaga baik-baik barcode tiket masing-masing dan mulai berhenti membagikan foto tiket pertandingan di media sosial.

BACA:  Panduan Tepat Memilih Bonek Card Sesuai Isi Kantong

Lalu, Bagaimana Cara Mencegahnya?

Masalah klasik soal tiket palsu memang terus terjadi sejak dahulu. Bahkan ketika sudah era digital seperti saat ini, masih banyak yang memanfaatkan tindakan tidak sah tersebut demi mengeruk keuntungan. Namun, hal tersebut bukannya tidak bisa dicegah. Setidaknya untuk diri kita masing-masing. Ada beberapa catatan yang bisa membantu kita untuk mencegah penggandaan barcode tersebut.

  • Membeli dan Menukarkan Tiket Sendiri

Ini adalah kondisi paling aman. Sebab seluruh proses mulai dari pembelian hingga penukaran tiket dilakukan oleh kita sendiri. Sempat muncul keluhan pembaca di salah satu media cetak beberapa waktu lalu terkait tiket palsu dari outlet resmi. Sebenarnya hal itu hampir mustahil terjadi (ada yang menggandakan barcode sebelum disebar ke konsumen, Red) karena tentu orang-orang yang terlibat dibalik distribusi tiket telah diikat dengan kode etik berlapis perusahaan, punya integritas dan profesionalitas. Menurut penulis, kemungkinan besar kasus itu adalah kesalahan suporter sendiri yang dikenal kerap melakukan aksi “pamer” tiket di media sosial. Meski, sebenarnya kesalahan sistem saat pencetakan tiket bisa saja terjadi walaupun peluangnya sangat kecil atau hampir mustahil.

  • Jangan Sembrono! Rahasiakan Barcode!

Ini yang paling penting. Menjaga dan merahasiakan barcode pada tiket hukumnya adalah WAJIB! Jika angka tersebut menyebar luas, maka ada kemungkinan untuk digandakan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Ingat, tiket palsu atau tiruan bisa dibuat hanya dengan bermodalkan angka tersebut, rek!

  • Prioritaskan Beli Tiket di Teman Sendiri

Jika dalam kondisi kehabisan tiket dan tetap ingin menonton pertandingan, maka prioritaskan untuk membeli kepada rekan sendiri. Meski harganya mungkin diatas normal, namun setidaknya ada “jaminan” bahwa tiket tersebut asli, sebab rekan tentu akan segan untuk bermacam-macam dengan menjual tiket palsu.

  • Teliti Dahulu Jika Terpaksa Membeli di Calo

Untuk yang terpaksa membeli di calo, jangan sungkan untuk meneliti terlebih dahulu tiket yang akan dibeli. Mulai dari bahan kertas, tekstur, hingga perekat gelang. Cobalah untuk sedikit menyobek tiket tersebut, atau basahi dengan air. Perhatikan juga perekat gelang dan berat kertas (perkiraan saja), karena beberapa laporan di media sosial yang penulis temukan, banyak tiket palsu yang menggunakan potongan kertas A4 biasa. Bagi yang telah terbiasa menggunakan tiket gelang, rasanya hal ini tidak jadi masalah berarti. Namun bagi yang belum sering menggunakan, harus lebih jeli. Karena pada dasarnya, hampir mustahil untuk menduplikasi tiket gelang ini 100% seperti aslinya tanpa punya modal yang besar.

Dengan gencarnya sosialisasi dari media terkait fans komunitas penggemar Persebaya, maka kita bisa mempersempit ruang calo nakal yang menjual tiket palsu. Selain karena tindakan melanggar hukum, hal tersebut sangat merugikan suporter. Namun sayangnya masih banyak yang belum peduli dengan pentingnya barcode tiket. Tak mengapa, perlahan tapi pasti kedepan akan lebih banyak suporter yang memahami hal tersebut. Dan yang paling penting, mari mulai hal itu dari diri kita sendiri.

Salam Satu Nyali, WANI!

Facebook Comments