Sebuah Refleksi Untuk “Kita Persebaya”

327
Bonek di laga lawan PSS. Foto: Joko Kristiono/EJ

Rentetan hasil 3 imbang dan 4 kalah merupakan hasil yang sangat minor dari tim sekelas Persebaya. Bagaimana tidak, pada awal musim, Persebaya mampu bertenggar di 5 besar dan berpacu dalam mengejar gelar Juara Liga 1 2019. Hasil ini berbanding terbalik ketika sudah memasuki putaran kedua di mana puncaknya lengsernya dua pelatih yang belum genap 1 musim melatih tim persebaya.

Namun di sini saya tidak akan mengulas performa setiap pemain maupun kejadian pada 29 Oktober 2019 setelah pertanding melawan PSS Sleman. Ada hal yang menarik bagi saya yang ingin saya ulas dibanding dengan kejadian tersebut. Poin yang menarik tersebut adalah ketimpangan antara performa Home dan Away Persebaya.

Memang jika dilihat lebih rinci untuk jumlah poin yang didapat sedikit lebih tinggi poin home yakni 17 poin sedangkan away 15 poin (Home: 3x menang, 8x imbang, 1x kalah; Away: 4x menang, 3x imbang dan 7x kalah). Fakta ini tentunya harus menggugah kita semua, apa yang menyebabkan performa tandang dapat memberikan kemenangan lebih banyak dibandingkan jika bermain di kandang sendiri.

Dalam pandangan pribadi saya selama menyaksikan pertandingan Persebaya dari pekan awal hingga saat ini, salah satu akar masalahnya adalah terletak pada mental para pemain Persebaya ketika berlaga di lapangan Gelora Bung Tomo. Para pemain Persebaya seakan-akan memikul beban begitu berat di mana hal tersebut dapat terefleksikan dengan permainan di lapangan. Salah umpan, umpan yang terlalu terburu-buru, tidak tenang serta kesalahan-kesalahan elementer cukup banyak menghiasi selama pertandingan di kandang.

Logikanya, dengan dukungan puluhan ribu bonek mania yang setia mendukung seharusnya menjadi motivasi bagi pemain. Namun keadaan berbanding terbalik, para pemain terlihat nervous dan terbebani. Celakanya diperparah lagi dengan paido bonek secara personal ke setiap pemain yang dianggap sebagai biang keladi.

Hal ini seharusnya refleksi kita semua sebagai supporter apabila kita menyerang secara personal ke setiap pemain hasilnya bukan membaik akan tetapi malah memburuk. Sebagai contoh kasus pemain Arsenal, Granit Xhaka. Dia selalu menjadi bahan kekesalan oleh fans the gunners setiap bermain di kandang. Siulan ketika dia membawa bola hingga umpatan personal message di akun media sosial nya merupakan hal yang lumrah bagi kalangan supporter Arsenal. Puncaknya dapat kita ketahui semua, Granit membuang ban kapten dan gesture tangan yang seolah menantang para suporter. Tentunya hal tersebut tidak dibenarkan juga apalagi sebagai kapten. Akan tetapi kita juga perlu memahami bahwa Granit Xhaka juga merupakan seorang manusia biasa di mana ketika kesabaran itu sudah habis, maka dapat melakukan hal-hal yang di luar nalar.

BACA:  Persebaya “Bukan” Tim Promosi

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan bagi kita sebagai suporter dalam mengekspresikan kekecewaan bagi manajemen maupun pemain ketika hasil yang tidak maksimal. Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah dengan memboikot dengan mengosongkan stadion beberapa pertandingan kandang. Tentunya ini sifatnya sementara. Pak Presiden Persebaya, Azrul Ananda, menempatkan bonek sebagai customer. Jika demikian, maka dengan mengosongkan stadion beberapa pertandingan kandang akan membuat manajemen berfikir disebabkan tidak adanya pemasukan bagi manajemen sehingga dapat segera mengambil tindakan konkret untuk evaluasi agar memberikan hasil yang baik bagi Persebaya.

Usaha yang kedua yakni dengan benar-benar memaknai slogan Kalah Ku Dukung, Menang Ku Sanjung. Makna tersebut berarti setia mendukung pada saat apapun, baik kalah maupun menang. Kecewa dan sedih tentunya wajar jika pada saat kalah, akan tetapi daripada menghujat pemain di lapangan lebih baik memberikan apresiasi kepada mereka yang sudah berjuang sekuat tenaga meskipun hasil yang didapat berkata lain.

Saya sendiri percaya dengan memberikan umpatan bahkan makian secara langsung ke pemain, tidak akan membuat performa mereka menjadi baik bahkan dapat jauh lebih buruk. Kekecewaan serta kekesalan kepada manajemen tidak bisa kita luapkan secara terus-menerus langsung kepada pemain. Berilah mereka support semaksimal mungkin tanpa ada cacian dan makian. Sanksi tanpa ada suporter baik laga kandang dan tandang hingga akhir musim agar dapat menjadikan refleksi bagi kita semua baik bonek mania sebagai supporter dan manajemen Persebaya dapat terus berbenah menjadi lebih baik demi kejayaan Persebaya. Kritik boleh, asal jangan ada cacian dan makian.

SALAM SATU NYALI, WANI!

Aryn Williams, Idola Bonek dan Song For Pride

Komentar Artikel