Catatan Awal Tahun 2020: Bu Risma, Piala Dunia Untuk Siapa?

1038
Foto: Joko Kristiono/EJ

Bu Risma yang kami sayangi, senang tak terkira kami rasakan saat mendengar Surabaya  diajukan  menjadi salah satu host Piala Dunia U-20 tahun 2021. Seperti halnya warga kota, kami, para pendukung Persebaya juga, terbuai dalam bayangan membanggakan, seperti apa kemeriahan di tahun 2021 nanti. Tim-tim hebat dari penjuru dunia hadir bersama kemeriahaan fansnya. Tentu saja, momen langka ini akan kami manfaatkan sehebat-hebatnya. Tak sekedar bertukar syal dan cinderamata. Kami pun, pasti akan mengenalkan dan mengajarkan, Song For Pride, pada mereka.

Bu Risma yang kami sayangi, kami pun dibikin sewot saat ‘Ibu’ yang satu itu menyoal bau sampah disekitar Stadion Gelora Bung Tomo. Apalagi, bau itu disebut-sebut bisa menjadi penghalang  Surabaya menjadi tuan rumah. Kami memang marah. Apalagi, dapat kabar,  venue akan dipindah ke  Kanjuruhan Malang. Alamak. Menampar sekali. Tetapi, beruntung, kami punya sampean Bu. Meski sulit ditampik Bu  Risma untuk tidak marah, tetapi tak sampai mengumbar ke wilayah publik. Itu yang kami suka. Karena itu, kami pun ringan tangan saja, diajak teman-teman Pemkot aksi bersih-bersih GBT. Kerja bhakti sekaligus menanam pohon. Melawan celaan dengan aksi bersih-bersih nyata di lapangan.

Bu Risma yang kami sayangi, perhelatan Piala Dunia 2021 di Surabaya nanti harus sukses. Tak ada kata lain. Bukan saja ini menjadi pertaruhan kota namun juga bangsa dan negara. Karena itu, langkah perbaikan, renovasi habis-habisan  GBT mutlak diperlukan. Jangan sampai, fasilitas yang disajikan nanti malah bikin malu muka sendiri. Untuk ini, 1000 persen kami dukung. Toh, sepeninggal Piala Dunia nanti, bukankah Persebaya dan Bonek yang akan menempati?

Bu Risma yang kami sayangi, hanya saja, kami dibikin gagap dan mengernyitkan dahi, saat salah satu pejabat jenengan, menyebut renovasi itu akan menjauhkan klub kebanggan kami, Persebaya dari kota ini. Lewat pernyataan yang dikutip media, renovasi itu sama sekali tak menyisakan ruang toleransi. Atas nama Piala Dunia dan renovasi, pintu Stadion GBT dan Tambaksari tertutup untuk aktifitas sepakbola. Duh, remuk redam dan benar-benar mengaduk-aduk emosi pernyataan pejabat satu ini. Padahal, tahun ini Persebaya harus jalani dua even besar. Selain membidik juara di kompetisi juga mewakili Indonesia tampil di kejuaran klub antar negara ASEAN.

Bu Risma yang kami sayangi, kami tak yakin ucapan pejabat ini menjadi cerminan kebijakan  Pemerintah Kota ini. Ucapan  itu penuh arogansi, jauh dari watak Bu Risma yang sangat mengayomi.  Setiap ada kejadian di kota ini, sekecil apapun, sampean begitu peduli. Banjir, jalanan macet, kebakaran atau apapun kejadian yang terjadi di kota ini, Bu Risma langsung  singsingkan lengan baju turun sendiri. Nah, jika hal-hal kecil  seperti ini begitu peduli, tentu urusan sebesar Persebaya dan Bonek tak akan dibiarkan sendiri.

BACA:  Status Tim Pembegal Calon Juara Tak Membuat Persebaya Jumawa
Stadion Gelora 10 November, Tambaksari.

Bu Risma yang kami sayangi, sering kami baca di media, bagaimana sampean tak kenal lelah menularkan virus optimistis ke anak-anak muda dan seluruh warga kota ini. Sering  bu Risma katakan, seberat apapun masalahnya, selalu ada solusinya. Begitu juga dengan urusan home base Persebaya. Tak ada yang sulit. Urusan renovasi tak lantas membuat  klub ini terusir  dari kota sendiri.  Bukankah Surabaya juga miliki Stadion Gelora 10 November Tambaksari? Jika  stadion ini juga direnovasi, bukankah tinggal diatur sedemikin rupa, antara GBT dan Tambaksari agar masih bisa dipakai? Sulit? Kata siapa. Ini sama saja meremehkan kapasitas Bu Risma. Mungkin mereka yang mengatakan sulit itu, tidak tahu  (atau tak mau tahu) bahwa Bu Risma menyabet penghargaan salah satu walikota terbaik di dunia?

Bu  Risma yang kami sayangi, ada selentingan yang menyebutkan, Stadion Tambaksari sulit dibuka untuk Persebaya. Katanya, Bu Risma masih trauma atas kejadian meninggalnya salah satu Bonek dilaga Persebaya vs Persija pada 2012 lalu. He he he, kami senyumin saja kabar itu. Pastilah, kami tak percaya. Dipaksa sekalipun. Bukankah, dimanapun Bu  Risma kerap mengingatkan agar kita semua tak berlama-lama terbenam dalam kubangan kenangan kelam? Harus move on. Bangkit untuk meraih yang lebih baik.  Karena itu, walau  sangat terpukul dan bersedih dengan kejadian pahit tersebut, bagi kami, kejadian kelam itu akan selalu dikenang tapi tidak untuk diulang.

Bu Risma yang kami sayangi, seperti yang sering dikatakan Pak Jokowi, pembangunan infrastruktur harus selaras dengan sejalan dengan pembangunan manusianya. Percuma semegah apapun, bangunann yang didirikan, tetapi menepikan atau menjauhkan dari masyarakat sekitar. Pun demikian dengan, renovasi yang akan dilaksanakan nanti.   Harusnya itu bisa dilakukan beriringan dengan aktifitas Persebaya  dengan boneknya. Malah, bisa berkolaborasi. Semisal, sepanjang tahun kembar, 2020 ini, dipadati dengan aktifitas demam Piala Dunia pada seluruh wrga kota. Pertandingan-pertaningan home Persebaya dikemas dalam nuasan itu juga. Apalagi, tahun ini Persebaya juga dapat panggung di tingkat ASEAN. Tentu ini akan menjadi sarana efektif menunjukkan kesiapan Surabaya menjadi tuan rumah Piala Dunia.

Sayang bila momen  itu dilewatkan hanya gara-gara alasan renovasi.  Semua pasti bisa disiasati asal ada political will untuk ini. Kecuali memang sudah tidak punya ruang hati dan kepedulian buat klub kebanggan kota ini. Jika demikian, pertanyaannya, Piala Dunia nanti untuk siapa? (alexi)

Komentar Artikel