Lupakan GBT, Lupakan G10N, Ingat Sardegna Arena

1847
Sardegna Arena, menjadi kandang Cagliari di samping Sant’Elia yang sedang dibongkar.

Persebaya dan bonek sedang galau menatap musim kompetisi 2020 ini. Kali ini bukan masalah tranfer pemain, tapi lebih karena geregetan dengan sikap Pemkot yang terkesan mempersulit pemakaian stadion sebagai kandang Persebaya.

Untuk klub, ketidakjelasan kandang ini jelas menjadi ancaman salah satu pilar pemasukan yaitu ticketing. Juga berpotensi mengancam pilar pemasukan yang lain yaitu sponsor. Kecuali sponsornya nekat tetap mendukung Persebaya meskipun tiap pertandingannya hanya ditonton oleh seribuan suporter karena digelar di pulau lain.

Sebenarnya ada satu case study menarik yang bisa dicontoh Persebaya agar bisa tetap berkandang di Surabaya saat dua stadion harus direnovasi. Cagliari 2012-2017.

Nasibnya mirip, bedanya di sana tidak ada agenda Piala Dunia. Stadion Sant`Elia kandang Cagliari harus direnovasi karena faktor usia. Awalnya renovasi minor. Tapi tetap saja renovasi itu membuat Cagliari harus menjadi musafir selama bertahun-tahun.

Cagliari dan pendukungnya harus berpindah-pindah kandang, dari Stadion Is Arenas, Ennio Tardini dan di Nereo Rocco. Ini sangat merepotkan suporter karena jaraknya yang jauh dari pulau Sardinia. Persis yang akan dihadapi bonek nanti kalau tidak ada satupun stadion di Jawa yang bisa menjadi kandang Persebaya.

Awal 2017 bahkan ada keputusan pemerintah kota bahwa Stadion Sant’Elia harus dirombak total. Alias dihancurkan dan diganti stadion baru Nouvou Cagliari yang akan selesai 2020. Kapok menjadi musafir, manajemen kemudian memutuskan untuk membangun stadion sementara yang akan dipakai sampai Sant’Elia selesai dibangun.

Diberi nama Sardegna Arena, stadion sementara ini dibangun di lahan parkir stadion lama. 200 meter sebelah timur Sant’Elia. Pemda Cagliari sangat mendukung rencana ini dengan menghibahkan kepemilikan lahan dan memberi ijin pembangunan untuk dimulai pada April 2017.

Bergerak cepat, manajemen Cagliari kemudian menggandeng desainer Alessandro Gosti dan Kontraktor Blue Shark SRL. Targetnya jelas, Cagliari harus segera berkandang di kota sendiri sebelum musim baru dimulai. Desain stadion ini kemudian dibikin simple dan modular. Menghabiskan biaya ‘hanya’ 8 juta euro atau sekitar 125 milyar rupiah. Sardegna Arena dibangun hanya dalam waktu 127 hari oleh 200 pekerja konstruksi. Iya, cuma sekitar 4 bulan! Rencananya Sardegna Arena ini akan menjadi kandang Cagliari selama 4 musim.

Sardegna Arena selesai dibangun dalam 127 hari!
Sardegna Arena, menjadi kandang Cagliari di samping Sant’Elia yang sedang dibongkar.

Kalau buat Persebaya hitung-hitungannya masuk gak ya?

Taruhlah stadion ini kapasitasnya persis seperti Sardegna Arena yaitu 16.416 penonton. Anggaplah bangku VIP ada 3000 dengan tiket dijual seharga 250.000. Sisanya bangku biasa dengan harga 75.000. Iya, bonek mungkin harus berkorban membeli tiket lebih mahal untuk mendukung tim kebanggaannya. Kalau terisi penuh maka dalam satu game ada pemasukan 1,771 milyar. Dengan 18 game semusim, total ada pendapatan 31,9 milyar. Itu masih bisa bertambah kalau Persebaya mengadakan pertandingan eksibisi atau turnamen mini. Oh ya, ada Piala Presiden dan AFF Cup. 10 game tambahan per tahun sepertinya bukan hil yang mustahal. Kalo beneran kejadian, ada potensi pendapatan 50 milyar setahun.

Masih kurang banyak ya?

Itu kalo setahun. Gimana kalo dipakainya 1,5 tahun? Toh belum jelas juga kapan renovasi GBT selesai. Anggap aja GBT baru bisa dipakai setelah Pildun U20 selesai sekitar Juni 2021. Artinya ada pendapatan 75 milyar.

BACA:  Saran Bonek untuk Persebaya Usai Kalah dari Arema FC

Ternyata masih kurang 50 Milyar. Tapi bukankah sangat memungkinkan nama stadion ini dijual kepada sponsor biar bisa BEP. Gelora Kapal Api, Gelora Polytron, Gelora Maspion atau mungkin Gelora Gojek? Kalau perlu Persebaya bisa berkandang di stadion ini 3-4 musim demi sponsor. Kalo bigmatch baru memakai GBT.

Kalaupun pemasukan tidak seperti yang direncanakan, karena manajemen tidak tega menaikkan harga tiket misalnya, mencontoh Cagliari dan Sardegnanya tetap layak untuk diusahakan. Ide ini jauh lebih baik daripada menerima nasib sebagai tim musafir. Karena menjadi tim musafir artinya pengeluaran jauh lebih banyak terutama transport dan akomodasi laga home rasa away, lebih susah mendapatkan sponsor, minim atau tanpa pemasukan dari tiket dan bermain tanpa dukungan bonek.

Setelah Persebaya kembali berkandang di GBT, lapangan dan tribun utama Gelora baru ini bisa dipertahankan dan menjadi stadion untuk menggelar kompetisi internal. 1 tribun bisa dipindahkan untuk lapangan Karanggayam. 2 tribun lainnya bisa dihibahkan ke lapangan latihan yang ada di sekitar GBT. Misalnya.

Atau, gimana kalo 3 lapangan latihan yang sedang dibangun di sekitar GBT untuk pildun U-20 salah satunya dipakai sebagai stadion sementara ini? Ini jauh lebih bermanfaat untuk semua. Persebaya tidak perlu lagi mencari lahan dan kota Surabaya akan memiliki stadion madya yang dibangun tanpa APBD.

Syaratnya cuma satu: Pemkot mau mendukung konsep ini.

Kalau tidak ada dukungan Pemkot, jangan-jangan ini saatnya Persebaya bikin stadion sendiri? Sekalianlah daripada bikin stadion temporer.

Untuk yang ini, Persebaya bisa mencoba Bear Stadiums, sebuah ide membangun stadion masa depan tanpa harus membobol bank.

Bear Stadium adalah konsep konstruksi stadion dengan sistem kayu modular memanfaatkan teknologi glulam (glue-laminated wood) yang dikembangkan oleh sebuah perusahaan bernama Rubner Holzbau. Berbahan dasar potongan kayu yang dilem bersilangan, bahan ini diklaim sekuat baja dengan berat cuma setengahnya. Bahan ini memungkinkan untuk membuat kontruksi yang lebih besar dan lebih tinggi dibanding baja atau beton. Konstruksi Bear Stadium disebut bisa bertahan selama 50 tahun dengan biaya yang jauh lebih murah.

Untuk stadion berkapasitas 20.000 penonton membutuhkan dana 30 juta euro atau sekitar 466 milyar rupiah. Pengerjaan dari desain sampai selesai dalam waktu 210 hari. Bisa secepat itu karena sifatnya yang modular. Semua komponen dibikin di pabriknya di Italia, dipaketin dalam 40 kontainer lalu dirakit di lokasi oleh kontraktor lokal. Selama komponen konstruksi dibuat di pabrik, kontraktor lokal bisa pararel menyiapkan lahan dan lapangannya.

Asiknya, karena sifatnya yang modular itu pembangunan Bear stadiums ini bisa dicicil sesuai kantong dan kebutuhan klub. Bisa dimulai dari paket 1.500 penonton dan bisa terus bertambah sampai 20.000 kursi. Karena modular tribun stadion ini juga bisa dibongkar pasang dan dipindahkan ke tempat lain.

Paket tribun utama 2.500 penonton.
Stadion berkapasitar 10.000 penonton.
Desain tribun untuk stadion berkapasitas 20.000 penonton.

Jadi gimana, pasrah menjadi musafir atau mulai berpikir membangun stadion sendiri? Pertanyaan ini ditujukan untuk manajemen Persebaya.

Jadi gimana, mau mempersulit wargamu atau memudahkan dan melayani rakyatmu? Ini bisa kita lemparkan ke Pemkot.

Piala Dunia untuk sementara, Persebaya untuk selamanya.

@zzzeen

Komentar Artikel