Persebaya “Surabaya”

287
Starter Persebaya lawan Badak Lampung. Foto: Joko Kristiono/EJ

Apa yang kalian ingat ketika kita berbicara mengenai Surabaya? Kota pahlawan, Wali Kotanya galak tapi penuh prestasi, Dolly, kota seribu Taman, Bung Tomo. Apakah kalian juga berpikir tentang Persebaya dan Bonek ketika kalian mendengar kata Surabaya? Tidak sedikit pula ketika ada reality show di media televisi yang bertemakan Surabaya, kita melihat ada Bonek yang dijadikan obyek pendukung sebagai bahan untuk menarik perhatian pemirsa televisi agar rating acaranya naik.

Tak jarang pula kita menemui hal itu di dalam YouTube. Para konten kreator di platform YouTube berbondong-bondong membuat konten yang bertemakan Persebaya ataupun Bonek. Menurut saya pribadi, nama Bonek dan Persebaya sangat menjual sehingga banyak sekali dibuat sebagai bahan mencari nafkah. Hal ini tentunya sudah banyak dirasakan oleh konten kreator YouTube atapun media Televisi. Entah disadari ataupun tidak oleh masyarakat.

Lalu bolehkah saya memasukkan nama Persebaya dan Bonek ketika kalian mendengar kata Surabaya? Menurut saya sih bisa, karena tidak dapat di pungkiri Persebaya dan Bonek adalah bagian dari Kota Surabaya. Jika kita tarik benang merah lebih ke arah politik praktis dalam ajang pemilihan Wali Kota, DPRD, DPR RI, hingga Gubernur. Tidak sulit kita menemui para pelaku politik yang memanfaatkan kebesaran nama Persebaya dan Bonek.

2020 Persebaya Surabaya terancam terusir dari Surabaya dikarenakan adanya renovasi Gelora Bung Tomo yang sebelumnya digunakan sebagai rumah tempat menjamu tamu bagi Persebaya dan Bonek. Untuk apa renovasi dilakukan? Renovasi dilakukan untuk Piala Dunia U-20.

Di Surabaya ada du stadion. Jika satu direnovasi mengapa tidak memakai yang satunya lagi? Iya di Surabaya ada stadion lagi yang bernama Gelora 10 November. Kata salah satu pejabat Pemkot, Gelora 10 November juga di renovasi sebagai venue pendukung yang akan digunakan sebagai tempat berlatihnya kontestan Piala Dunia U-20. Lalu bagaimana nasib Persebaya dalam kompetisi Liga 1 2020 ini? Persebaya tahun ini tidak hanya berkompetisi di Liga 1 loh. Ada juga Asean Club Championship bahkan jika Bali United lolos pada AFC Champions League kita juga akan berlaga di AFC cup. Ada 2-3 kompetisi besar yang akan diarungi Persebaya nanti. Bahkan hal ini masih bisa bertambah jika ada Piala Indonesia lagi.

Wa, keren ya Persebaya harusnya bangga dong Kota Surabaya dengan adanya Persebaya! Hahaha… entah mengapa Pemkot Surabaya kurang mendukung Persebaya. Padahal Persebaya juga merupakan salah satu ikon kota Surabaya sendiri. Lapangan Karanggayam yang dulu digunakan sebagai Mess Persebaya dan pembinaan sepak bola di Surabaya sekarang di segel Pemkot. Dan saat ini masih diperjuangkan di Pengadilan Negeri Surabaya supaya kita bisa melihat kembali bagaimana anak-anak masa depan Persebaya dan Timnas Indonesia berlatih dan berkompetisi di sana.

BACA:  Panduan Tepat Memilih Bonek Card Sesuai Isi Kantong

Dari dulu hingga sekarang pembinaan sepak bola usia dini selalu dilakukan oleh Persebaya dengan menggelar kompetisi internal antar usia yang mempertemukan berbagai SSB (Sekolah Sepak Bola) yang ada di Surabaya. Tak jarang pula para pemain Persebaya bahkan Timnas indonesia lahir dari sana. Selain hal itu Persebaya saat ini juga terusir dari Kota Surabaya sendiri dengan alasan Renovasi untuk Piala Dunia U-20. Padahal Renovasi selalu mempunyai perencanaan serta tahapan-tahapan dalam eksekusinya.

Harusnya Pemkot memberikan solusi pasti agar Persebaya tetap bisa berlaga di Surabaya dan Piala Dunia U-20 pun tetap digelar di Surabaya. Karena Persebaya adalah ikon Kota Surabaya dan tidak sedikit masyarakat Surabaya mencintai Persebaya. Jika rencana ini dilakukan, saya yakin Piala Dunia U-20 akan meriah di Surabaya. Namun jika tidak mungkin bisa jadi Piala Dunia U-20 di Surabaya akan menjadi catatan minus di mata penikmat sepak bola seluruh dunia.

Sudah saatnya Pemkot Surabaya menurunkan egonya dan berdiskusi bersama Manajemen serta penikmat sepak bola di Surabaya. Hal ini dilakukan agar semua pihak dapat legowo tanpa ada yang disakiti hatinya. Bahasa Suroboyoane “ben podo enake gak onok sing merongkol atine”. Pada dasarnya Piala Dunia U-20 adalah pesta akbar sepak bola usia muda di dunia. Jika bukan penikmat sepak bola yang meramakan acara tersebut, lalu siapa yang akan meramaikannya? Saat ini pemkot Wajib memikirkannya karena sebuah even besar bukan persiapannya saja yang matang namun eksekusinya juga harus matang! Jangan sampai persiapan maksimal namun eksekusinya malah memalukan karena Piala Dunia U-20 di Surabaya terasa hambar tanpa penikmat sepak bola lokal yang meramaikan.

Semoga saja Tuhan Yang Maha Esa mampu mengetuk hati dan membukakan pikiran Pemkot Surabaya agar nantinya Persebaya tetap berlaga di Surabaya serta Piala Dunia U-20 tetap sukses diadakan di Surabaya. Dan semoga hal ini bukan menjadi sebuah drama yang melahirkan sosok Calon Wali Kota Surabaya kedepannya.

PIALA DUNIA HANYA SEMENTARA, PERSEBAYA SURABAYA SELAMANYA

Song For Pride Terakhir di Musim 2019

Komentar Artikel