Persebaya Juara Denda Musim Lalu, Apa Strategi Azrul Mengantisipasinya?

363
Azrul Ananda (tengah). Foto: Amozi/EJ

EJ -- Persebaya menutup perjalanannya di Liga 1 musim 2019 di posisi runner up. Hasil manis ini menjadi bukti bahwa tren prestasi Persebaya selalu meningkat dari tahun ke tahun. Saat kembali ke kancah sepak bola tanah air pada tahun 2017, Persebaya mengawalinya dari Liga 2.

Pada akhir musim, Persebaya langsung menyabet gelar juara dan berhak naik ke kasta Liga 1. Musim 2018, Persebaya berhasil mengakhiri musim dengan berada di zona papan atas pada peringkat kelima.

Sayangnya prestasi cantik yang diraih oleh tim berjuluk Bajol Ijo itu harus ternodai dengan denda dan sangsi akibat ulah suporter. Pada putaran kedua musim lalu, Persebaya dijatuhi hukuman berat oleh Komite Disiplin (Komdis) PSSI. Persebaya disanksi menjalani pertandingan kandang dan tandang tanpa Bonek sampai berakhirnya musim kompetisi 2019. Sudah jatuh tertimpa tangga, Persebaya juga dijatuhi denda sebesar Rp 200 juta.

Sebelum itu, Persebaya juga menjadi tim pemuncak dalam hal jumlah denda terbanyak. Sampai setengah musim 2019, Persebaya sudah mengoleksi total denda sebanyak Rp 1,19 miliar. Pelemparan botol, nyanyian rasis, penyalaan flare dan smoke bomb menjadi penyebabnya.

Menjelang musim 2020 ini tentu saja Persebaya harus berbenah. Persebaya mesti menyiapkan langkah-langkah jitu untuk meminimalisir catatan denda tersebut. Saat ditanya mengenai strategi menanggulangi potensi denda pada kesempatan tanda tangan sponsorship bersama MPM Honda (27/2/2020), Presiden Persebaya Azrul Ananda memaparkan, “Sebagai pimpinan perusahaan pasti kita semua akan hitung dan persiapkan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan terjadi di depan. Namun kita (manajemen) tidak bisa bergerak sendiri”.

Ia menambahkan jika manajemen tentunya akan berusaha mengontrol apa yang bisa dikontrol. Namun Azrul berpesan bahwa klub dan suporter adalah sebuah ekosistem yang saling berkaitan.

BACA:  Bertemu Bonek, Presiden Persebaya Janji Lebih Fokus ke Tim

“Jangan sampai karena perbuatan kita sendiri ada orang-orang yang mengambil manfaat dari itu,” pesannya. Sebab menurutnya jika suporternya tidak sehat maka klubnya juga tidak akan sehat. Jika klubnya tidak sehat maka otomatis suporternya juga tidak sehat.

Ia berharap suporter bisa terus menjaga nama baik tim kebanggaan mereka. Putra Dahlan Iskan ini mengatakan akan terus membawa Persebaya menjadi klub yang paling berkembang dan yang paling profesional pengelolaanya. Tetapi itu semua tak akan bisa terjadi tanpa andil besar dari suporter.

“Kami tahu teman-teman Bonek sudah menunjukkan itikad untuk terus lebih baik. Tidak apa-apa, prosesnya memang nggak bisa instan,” pungkasnya. (amz)

Azrul Ananda: Persebaya Berpotensi Jadi Klub Terbesar dan Tersehat di Indonesia

Komentar Artikel