Tradisi Flop Putaran Pertama, Akankah Menumbalkan Aji?

427
Saat peluit tanda berakhirnya laga Persebaya vs Persik dibunyikan. Foto: Rizka Perdana Putra/EJ

Kapan terakhir Persebaya bermain ala tim medioker? Sebelum laga pembuka lawan Macan Putih, permainan ala medioker itu ditunjukkan saat takluk oleh Elang Jawa, sebelumnya enam laga tak pernah menang, di kandang terakhir musim lalu. Yang mendapat reaksi luar biasa dari Bonek. Buntut dari kekesalan yang menumpuk dari fans. Yang sanksinya membuat banyak pihak mengelus dada dan juga ada yang mensyukurinya, terusir dari Surabaya dan tanpa penonton.

Musim ini target tim Bajol Ijo ini lebih dari musim lalu.Tentu saja juara. Harga mati. Perjalanan tim ini semenjak mentas dari Liga 2 mengalami progres. Puncaknya musim lalu, mampu berada di posisi kedua. Maka, tahun ini realistis jika targetnya juara. Oleh karenanya ramai dibicarakan mega transfer itu. Sebagai senjata untuk juara. Salah satunya dengan mendatangkan Makan Konate. Bahkan pemain nomor 10 itu langsung menjadi kapten.

Turnamen pramusim dilalui anak asuhan Aji dengan catatan mengesankan. Selain beberapa nama anak muda yang moncer, rekrutan baru juga tampil sesuai ekspetasi. Madura united, Arema, dan Persija berhasil ditundukkan. Bukan hasil akhir saja, tetapi secara organisasi permainan sangat atraktif.

Oleh karenanya, tiga poin di laga pembuka lawan tim pomosi dan bermain di kandang menjadi hal yang awalnya logis. Tetapi itulah sepak bola. Babak pertama pembukaan Liga 1 ini, kita hanya bisa menyaksikan 11 laki-laki berkostum persebaya melawan satu tim bernama Persik. Sangat jelas tidak ada visi bermain. Belakang amburadul. Tengah mampet. Depan tersandera.

Ricky Kambuaya, Oktafianus, dan Wanggai masuk di babak kedua. Hanya Kambuaya yang mampu memberikan sentuhan signifikan. Kengeyelannya memberikan tenaga baru di lini tengah. Sangat jauh intensitas permainannya dengan yang ia gantikan, Hambali Tholib. Sementara dua lainnya malah tenggelam.

BACA:  Aji Santoso vs Joko Susilo, Pertemuan Dua Sahabat

Di bench masih ada Hidayat. Juga bocah ajaib Rizki Ridho. Juga ada Alwi Slamat. Tetapi mungkin pelatih ingin lebih ofensif. Padahal umpan silang khas tim ini seperti yang diperagakan Ruben dan Novan/Rodeg musim lalu, gagal dijalankan Rian dan Koko. Keduanya hanya bermain di areanya sendiri.

Setelah pertandingan Aji bilang tim hanya kurang beruntung. Saya setuju. Untung saja Persik tidak memiliki targetman. Sehingga serangan sporadis mereka, terutama di babak pertama hanya menghasilkan satu gol.

“Tenang masih awal,” hiburan ala admin Persebaya Official merupakan racun. Jika target juara tidak ada lagi demam panggung, grogi, atau sejeninsnya. Apalagi masih awal dan seterusnya.

Dua musim beruntun Persebaya flop di putaran pertama. Hasilnya? Jeblok di klasemen. Pelatih tergusur. Nah, sinyal itu datang di laga pembuka musim ini. Alfredo dan Djanur sudah mengalaminya. Akankah Aji juga serupa? Masih terlalu dini untuk membicarakannya. Tetapi juga bukan sesuatu yang mustahil terjadi.

Salam satu nyali, WANIII…

Sidoarjo, 1 Maret 2020

Song For Pride Awali Perjalanan Persebaya di Liga 1 2020

Komentar Artikel