Benarkah GBT Angker untuk Persebaya?

294
Foto: Rizka Perdana Putra/EJ

Sabtu malam (29/2) lalu Persebaya akhirnya melepas masa lajang. Setelah masa libur panjang liga musim 2019, akhirnya Smereka kembali menjalani pertandingan dalam Liga 1. Laga yang mempertemukan Persebaya dengan Persik Kediri itu juga sebagai penanda Liga 1 musim 2020 telah resmi dimulai.

Sebelum pertandingan berlangsung, penonton dan Bonek disuguhi berbagai atraksi seru. Tak hanya kehadiran maskot para tim peserta Liga 1 yang mampu mengocok perut, bahkan ada tarian khas Tiktok yang cukup menghibur. Sayangnya, keasyikan sebelum laga tak lengkap tanpa kemenangan Persebaya yang nyatanya gagal diraih.

Ya, Persebaya gagal meraih kemenangan di laga perdananya musim ini. Meski mereka bermain dengan pemain-pemain yang sudah kembali dari timnas, tapi nyatanya belum memiliki pengaruh bagus pada performa tim. Beberapa pemain bahkan nampak mati kutu mendapat marking dari pemain Persik. Pertandingan pun harus berakhir dengan hasil seri 1-1.

Kita tentu masih ingat bahwa hasil pertandingan yang tak memuaskan ini juga terjadi dimusim lalu. Berdasarkan data dari @RawonStats, 10 pertandingan Persebaya di musim 2019 lalu hanya meraih 2 kali kemenangan, 7 kali seri, dan 1 kali kalah. Padahal mereka bertanding di kandang yang notabene didukung oleh puluhan ribu Bonek, suporternya sendiri.

Persebaya tak hanya mendapat keuntungan dengan adanya dukungan langsung dari puluhan ribu Bonek, mereka juga sudah akrab dengan Gelora Bung Tomo (GBT), dan tak perlu kelelahan akibat melakukan perjalanan jauh untuk mencapai tempat bertanding.

Lalu apa yang kurang?

Ada penelitian menarik yang membahas tentang fenomena tim yang mengalami kegagalan di kandang. Ketika biasanya kita berfokus pada banyaknya suporter dapat memberikan keuntungan pada pemain, ternyata saat itu pula kita telah mengaburkan kemungkinan bahwa banyaknya suporter dapat membuat pemain ‘keseleo’ karena merasa berada di bawah tekanan.

Penelitian berjudul Audience support and choking under pressure: A home disadvantage? memaparkan kemungkinan bahwa, tekanan yang dirasakan oleh pemain dapat timbul dari motivasi untuk mendapatkan hasil terbaik, yakni kemenangan. Nah, ketika mereka bertanding tapi buntu seperti saat David da Silva maupun Hambali berhasil mati kutu karena pemain Persik, tekanan pun makin besar. Tekanan dapat menjadi lebih besar ketika dukungan suporter jauh lebih tinggi, hal ini yang kemudian dapat menyebabkan pemain bermain lebih hati-hati atau malah makin kacau.

BACA:  Pemain Terbaik Persebaya vs Persik: Irfan Jaya

Hal yang perlu diingat adalah fenomena seperti ini hanya merupakan kemungkinan kecil. Kemungkinan lebih besar bahwa tim akan sukses meraih hasil maksimal karena mendapat dukungan dari banyaknya suporter yang hadir justru lebih besar. Jadi ketika Persebaya masih terjebak dalam kemungkinan kecil ini, yang harus mereka lakukan adalah mengelola motivasi dan emosi pemain dengan lebih baik lagi.

Beberapa cara relaksasi seperti mindfulness dapat dilakukan agar pemain tak merasa grogi mendapat dukungan maupun sorakan dari puluhan ribu suporternya. Teknik visualisasi dan teknik napas dalam merupakan teknik yang cukup mudah dilakukan dan dapat disesuaikan dengan kondisi pemain ketika di lapangan. Selain itu, membiasakan pemain untuk melihat sekeliling stadion atau arah suporter dapat membantu mereka berdamai dengan kondisi banyaknya pasang mata yang memperhatikan performa pemain di lapangan.

Pemain butuh motivasi untuk menang dan kepercayaan diri agar menampilkan performa terbaik mereka. pemain juga butuh merasakan kecemasan, bagaimana jika hasil akhir tak sesuai harapan mereka dan apa yang harus mereka lakukan untuk mencapai target keberhasilan. Namun, semua itu harus tetap dikelola agar tidak membuat pemain terjebak dalam tekanan yang mereka hasilkan sendiri.

GBT bukan angker untuk tim tuan rumah. GBT bukan angker untuk Persebaya, tapi GBT angker untuk tim-tim lawan Persebaya. Persebaya harus memastikan itu!

Aji Santoso Beri Pengarahan Khusus kepada David da Silva

Komentar Artikel