Persebaya Panggilan Jiwa, Sebuah Refleksi…

399
Foto: Rizka Perdana Putra/EJ

Jakarta, 7 Februari 2020, petang hari di awal akhir pekan, penulis sudah berada di Terminal Pulogebang untuk bersiap menumpangi bus yang akan membawanya ke Surabaya untuk menyaksikan pertandingan Persebaya. Bukan pertandingan biasa memang, melainkan launching tim untuk Liga 1 musim 2020 yang dibalut dalam suatu “International Friendly Match” berhadapan dengan Sabah FA Malaysia yang dilatih oleh Kurniawan Dwi Yulianto, legenda Timnas sekaligus legenda Persebaya yang turut membantu Persebaya menjuarai Divisi Utama musim 2004.

Pertandingan sore itu seharusnya menjadi pertandingan Persebaya pada umumnya, kecuali dengan tambahan permainan lighting, pertunjukan kembang api, dan perkenalan pemain di awal pertandingan, sampai pada akhirnya muncullah satu pertanyaan dari teman penulis. Dia bertanya begini, “Mas, dengan akses yg seperti ini, arep parkir ae angel, dan parkirane becek, opo’o kok sampean sek tetep budal mrene?“. Yang kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia kira-kira seperti ini, “Mas, dengan akses yang seperti ini, mau cari parkir saja susah, dan tempat parkirnya juga becek, kenapa kamu tetap mau berangkat ke stadion?”

Jawaban klise dari dua pertanyaan tersebut akan sangat beragam. Mulai dari mengasosiasikannya dengan identitas, kebanggaan, agama kedua, passion hingga yang sering kita dengar di kalangan suporter bahwa “Persebaya Mengalahkan Logika” atau “Terlanjur Sayang”, di mana jawaban terakhir penulis pilih untuk menjawab pertanyaan kedua.

Ternyata, hingga keesokan paginya, pertanyaan tersebut masih enggan beranjak pergi dan kemudian memaksa penulis untuk memikirkan ulang kenapa penulis rela menempuh perjalanan darat sejauh 750 km membelah Pulau Jawa selama 10-12 jam hanya untuk pertandingan 2x45 menit dan segala dinamika seperti yang disebutkan teman penulis di atas tadi.

BACA:  Jangan Uji Loyalitas Bonek kepada Persebaya

Jawabannya mungkin bisa ditemukan dalam pemikiran Louis Althusser, seorang filsuf Prancis yang terkenal atas idenya mengenai “Interpellation”. Althusser menyebutkan bahwa interpellation adalah suatu proses konstitutif di mana individu mengakui dan memberikan respon terhadap ideology dan di saat bersamaan mengenali diri mereka sebagai subyek. Masih menurut Althusser, ideologi merepresentasikan hubungan imajiner antara individu terhadap eksistensi mereka yang sebenarnya.

Berdasarkan pemikiran tersebut, ketika Persebaya berlaga, home ataupun away, terdapat proses “interpellation” dengan Persebaya sebagai “ideology” dan suporter sebagai “subject”. Proses itu berjalan secara simultan dan ‘otonom’ sehingga ketika ‘subyek’ mendapatkan pertanyaan serupa seperti pernyataan di atas maka yang terlintas di pikiran adalah jawaban-jawaban klise itu tadi.

Interpellation adalah suatu pengalaman mengenai “dipanggil” dan ketika subject dipanggil maka kita merasa perlu untuk meresponsnya. Subject secara sadar mengidentikkan panggilan tersebut dengan dirinya karena mengasosiasikan eksistensi mereka dengan ideologi tersebut. Ketika kita kembalikan hal tersebut dalam konteks Persebaya dan budaya tret tet tet Bonek maka akan terlihat benang merahnya.

Jadi, kenapa masih mau pergi?

Karena Persebaya Panggilan Jiwa

Azrul Ananda: Persebaya Berpotensi Jadi Klub Terbesar dan Tersehat di Indonesia

Komentar Artikel