Dua Cinta, Satu Hati: Kisah Bonek Mencintai Persebaya dan Persija

137
Foto: Rizka Perdana Putra/EJ

Saya ini pecinta olahraga, tak terkecuali sepak bola. Lahir di Kota Pahlawan membuat saya jelas memiliki darah Bonek, begitupun dengan keluarga dan lingkungan sekitar. Dari kecil hingga sekarang ketika mendengar istilah Bonek, saya merasa menjadi bagian itu. Dan saya bangga.

Tapi bagi saya, 6 tahun adalah waktu yang cukup lama untuk bisa menyukai klub bola. Saya mulai membeli jersey, merchandise, bahkan datang ke stadion untuk melihat langsung pertandingannya. Mencoba ikut senang saat pemain favorit mencetak gol, bahkan ikut teriak bersama suporter lain. Awalnya kurang nyaman, tapi melihat pacar saya berteriak dan menyanyikan lagu-lagu kebanggaan, saya pun menikmati. Nada dan kalimat dari lagu itu bahkan terngiang di setiap isi perjalanan. Hingga sampai 6 tahun saya pun menjadi sayang dengan semua tentang olahraga ini.

Oiya, saya lupa. 6 tahun yang saya ceritakan itu adalah saat saya merantau di Jakarta, dan klubnya adalah Persija Jakarta. Ironis memang, darah Bonek tapi juga mencintai Persija. Tapi apa salah?

Itulah mengapa saya merasa lama untuk juga menyukai sebuah klub lain selagi saya harus merantau dari Surabaya. Dan juga merasa kurang nyaman ketika datang ke SUGBK untuk mendukung, bernyanyi, berteriak menyebut nama pemain yang mencetak gol. Tapi walaupun pada akhirnya saya juga menyayangi klub Ibukota ini, tapi jauh di lubuk hati terdalam perasaan sedih itu muncul ketika darah di jantung Bonek ini berdetak. Apalagi saat Persebaya turun kasta di Liga 2, Persija adalah klub favorit saya di Liga 1. Aneh memang, tapi saya memang tidak merasakan apa yang sebagian besar Bonek rasakan ketika mengeluarkan kata kotor untuk Persija dan The Jack. Saya lebih memilih diam daripada membela Persija, atau pergi meninggalkan Bonek. Juga saat The Jack mencemooh Persebaya, saya memilih mengambil headset dan memainkan Lagu Song For Pride.

Hingga pada akhirnya mulai tahun 2019 saya bisa kembali ke Surabaya dan bisa mendukung dari dekat Klub yang menjadi darah saya, Yakni Persebaya. Saya pasti memakai Jersey hijau ketika dua tim ini bertemu. Saya juga akan tersenyum saat Persebaya menang. Tapi saya pasti akan selalu senang ketika melihat Persija bermain.

Dan harapan saya hanya satu, saya bisa menonton pertandingan Persebaya vs Persija bersama kekasih saya di stadion bersebelahan. Saya pakai Jersey Hijau dan kekasih saya memakai Jersey Orange.

Terakhir, Terimakasih Persija. Persija memang menjadi bagian hidupku, tetapi Persebaya menjadi alasan kenapa aku mencintai sepak bola. (*)

*) Tulisan ini adalah salah satu tulisan yang diikutkan dalam “EJ Sharing Writer Contest” edisi Mei 2020. Dengan tema Persebaya dan Harapan Masyarakat, kontes dibuka hingga 31 Mei 2020. Kirim tulisanmu ke email: [email protected]

Komentar Artikel