Mencintai Persebaya Meski Bukan Klub Tanah Kelahiran

Bonek berada di luar stadion tetap memberikan dukungan untuk Persebaya. Foto: Rayhan for EJ

Bahagia, sedih, senang, luka tidak bisa dihindari dari ranah kehidupan manusia pada umumnya. Setiap individu pasti mempunyai perspektif yang berbeda-beda. Entah itu kebahagiaan yang terlahir dari diri sendiri maupun terorganisir dari orang lain.

Begitu juga dengan saya, semenjak melihat olahraga yang bernama sepak bola. Entah, raga ini begitu melekat untuk mengenal lebih dalam tentang sepak bola. Terlahir dari pelosok kampung, yang jauh dari segala sarana lingkungan yang unggul, sebisa mungkin saya ingin melihat permainan sepak bola dari segi manapun. Dan menjelang usia remaja, saya mengenal sepak bola ada di kancah nasional.

BACA:  Persebaya dan Bonek Menuju Sejarah Baru

Dan dari sini saya agak sedikit berpikir aneh, mengapa klub asal daerah saya tidak ikut berlaga di kancah nasional. Dari situ saya berpikir, “Oh iya, kotaku kota kecil dan belum begitu terkenal. Hanya bisa melihat sepak bola di layar TV di mana klub-klub luar kota yang hanya bisa saya nikmati permainannya tanpa mengenal rivalitas”.

BACA:  Tulisan untuk Persebaya, Bapak, dan Lek Dar

Dan semenjak saat itu, entah kenapa hati ini melekat kepada klub bernama Persebaya. Bukan dari klubnya yang bikin saya mengenal Persebaya, tapi suporternya yaitu Bonek. Di kala banyak berita yang menyebut Bonek sebagai biang kerok kerusuhan atau media yang sering mencitrakan bahwa Bonek itu bukan suporter melainkan perusuh.

Halaman 1 2 3

Komentar Artikel