Persebaya dan Bonek Menuju Sejarah Baru

55
Bonek di Gelora Bangkalan. Foto: Rizka Perdana Putra/EJ

Kompetisi tahun 1996/1997, mungkin itulah puncaknya saya begitu menyukai Persebaya dengan The Dream Team-nya era manajer Walikota cak Narto dan pelatih saat itu Rusdi Bahalwan.

JUARA. Ya, juara saat itu dengan permainan total football yang indah dan juga enak ditonton. Mengesankan!

Tapi, juara saat itu bukanlah suatu kebetulan. Maksud saya, Persebaya bisa berprestasi karena kita punya orang dan manajer yang suka sepak bola, mendukung penuh, mulai dari pemain yang berkualitas hingga pelatihnya. Tapi, dulu saat masih bisa gunakan dana APBD.

Di Kompetisi sekarang berbeda, semua klub berdiri sendiri tanpa bantuan APBD. Tanpa manajemen yang cerdas dalam mencari keuangan, saya rasa klub akan tertatih-tatih untuk mengarungi perjalanan satu musim kompetisinya.

Bagaimana dengan Persebaya saat ini?

Presiden klub dan manajemen Persebaya menurut saya sudah cukup bagus, bahkan bisa dibilang yang terbaik dari manajer klub-klub yang ada di negeri saat ini. Pandai dalam mencari sumber keuangan dengan sponsornya dan pandai menciptakan sumber keuangan juga dengan gerai-gerai Persebaya Store-nya. Semua ini bukan untuk satu kompetisi tapi jangka panjang mereka telah disiapkan.

Kadang kita sebagai suporter begitu kurang sabar, banyak menuntut karena kualitas pemain yang kurang baik. Padahal manajemen sudah pasti evaluasi.

Harapan saya agar kita selalu mendukung penuh, kita beri kepercayaan presiden dan manajemen klub saat ini untuk Persebaya. Di tangan mereka bagaimana Persebaya buat para Bonek dan Bonita tersenyum bahagia. Kuyakin itu.

Bonek Ikon Surabaya

Sebut Bonek, pasti orang tahu Arek Suroboyo bukan hanya milik Persebaya. Mesti kita harus akui Bonek lahir karena Persebaya, tapi tanpa Bonek, Persebaya akan hampa rasanya.

BACA:  Ngosek dan Ngeyel Lawan Covid-19

Bonek dulu berbeda dengan Bonek sekarang, meski jiwa dan semangatnya sama tak berubah. Bonek dulu yang dicap negatif, gak bondho tapi nekat mendukung Persebaya. Bahkan julukan maling gorengan sempat melekat karena segelintir oknum Bonek. Tapi maaf, itu dulu, tidak sekarang. Bonek dan Bonita sekarang buat bangga karena tidak anarkis.

Lagu kebesaran Song For Pride pun seperti punya magis yang kuat, mampu menghipnotis dan buat merinding pendengarnya.

Bonek sekarang jauh berubah. Tanpa mengesampingkan perubahan dari pribadi seseorang, kita harus akui bahwa peran para dirijen Bonek seperti Cak Hamim Gimbal, Capo Ipul, Cak Agus Tessy dan lainnya sekarang begitu kuat pengaruhnya untuk menjadikan Bonek luar biasa. Mulai sikap lebih dewasa, aksi sosial hingga aksi-aksi kreatifnya. SALUT!

Salam hormat juga buat cak Andie Peci dan para Bonek yang memperjuangkan Persebaya kembali.

Tapi saya masih punya mimpi dan berharap sekali, bahwa suatu saat nanti bagaimana kaos para suporter bisa satu warna satu kata PERSEBAYA di depan dada, di punggung nama komunitas Bonek wilayah masing-masing..

Saya yakin akan menjadi lebih menarik melihatnya.

Salam Satu Nyali! Wani!

*) Tulisan ini adalah salah satu tulisan yang diikutkan dalam “EJ Sharing Writer Contest” edisi Mei 2020. Dengan tema Persebaya dan Harapan Masyarakat, kontes dibuka hingga 31 Mei 2020. Kirim tulisanmu ke email: [email protected]

Komentar Artikel