Fetisme Komoditas dalam Sepak Bola

Azrul Ananda. Foto: Rizka Perdana Putra/EJ

Sepak bola adalah salah satu olahraga yang banyak digandrungi oleh umat manusia di seluruh belahan bumi. Hal itu dibuktikan dengan jumlah penonton yang menyaksikan laga el-clasico Real Madrid vs Barcelona, dilansir dari CNN Indonesia “ada sekitar 400 juta orang yang menyaksikan laga ini di seluruh dunia”[1], hal ini dapat membuktikan bahwa sepak bola adalah olahraga paling tenar di dunia.

Ketenaran sepak bola ini, tidak lepas dari peran kapitalisme. Kapitalisme mengindustrialisasi sepak bola sedemikian rupa hingga dapat dinikmati oleh masyarakat dunia dengan mudah. Kapitalisme menciptakan sebuah fetisme komoditas dalam sepak bola yang mengubah konstruksi sosial pada sepak bola.

Fetisme komoditas adalah proses di mana ketika orang membayangkan relasi merupakan hal yang alami, padahal kenyataannya dikontruksikan secara sosial[2]. Kaum yang mendominasi dalam hal ini adalah kapitalisme, mereka dapat membuat perubahan secara konstruksi sosial demi mencapai tujuan mereka. Tujuan mereka sendiri jelas adalah untuk memperkaya diri dan mempertahankan status quo mereka terhadap kaum yang terdominasi. Kapitalisme mendominasi kebutuhan real manusia dengan kebutuhan semu untuk melakukan pertukaran[3].

BACA:  Jika Kisah Cinta Persebaya adalah Drama Korea

Perubahan konstruksi sosial pada sepak bola sendiri dapat dilihat secara fungsi dan perannya pada dahulu dan sekarang. Dahulu sepak bola hanya sebatas hiburan semata bagi kaum buruh untuk melepaskan penat pada akhir minggunya. Namun saat ini sepak bola menjadi komoditas yang menjual di masyarakat. Penyebabnya, kapitalisme menciptakan hegemoni sepak bola menjadi sebuah momen yang tidak dapat terlepaskan dan membuat masyarakat tergila-gila pada produk yang berhubungan dengan sepak bola serta memanfaatkan ke-fanatisme-an fans.

Fans dari klub yang dicintai, mereka rela melakukan apapun agar klub dapat terus ada dan menunjukkan eksistensinya. Seperti kesuksesan penjualan jersey klub Paris Saint Germain yang bertuliskan Neymar, pendukung dari PSG rela mengahabiskan uang mereka untuk jersey tersebut. Pemilik PSG memanfaatkan Neymar yang berhasil mereka transfer dari Barcelona menjadi sebuah komoditas yang sangat menjual, serta nike sebagai brand ambasaddor dari klub dan Neymar juga memanfaatkan situasi tersebut dengan memproduksi jersey Neymar sebanyak-banyaknya.

BACA:  Entitas Itu Bernama Persebaya dan Upaya-Upaya Menjaga Tradisi Afeksi

Benar adanya bahwa hasil dari penjualan merchandise klub, dapat membantu keuangan klub tersebut agar tetap hidup dan bisa menjalani kompetisi secara penuh. Namun, pengeksploitasian yang dilakukan oleh kapitalisme dalam sepak bola benar-benar mengubah konstrusksi sosial di sepak bola itu sendiri yang membuat kehilangan jati dirinya sebagai olahraga yang menghibur semua kalangan masyarakat pada akhir pekan.

Salam Satu Nyali! Wani!

Iqbal Satrio Pinanyugan (20 Mei 2020)

[1] https://www.cnnindonesia.com/olahraga/20160329113618-142-120205/el-clasico-pertandingan-terbesar-dan-terkaya-di-dunia (diakses pada tanggal 20 Mei 2020 pukul 16:02)

[2] Ben Agger, Teori Sosial Kritis (Kritik, Penerapan, Dan Implikasinya) (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2003).

[3] Agger.

*) Tulisan ini adalah salah satu tulisan yang diikutkan dalam “EJ Sharing Writer Contest” edisi Mei 2020. Dengan tema Persebaya dan Harapan Masyarakat, kontes dibuka hingga 31 Mei 2020. Kirim tulisanmu ke email: [email protected]

Komentar Artikel