Persebaya, Klub Yang Tidak Sempurna Tapi Sempurna

Bonek mengenang 19 tahun kepergian Eri Irianto. Foto: Joko Kristiono/EJ

Persebaya merupakan salah satu klub tertua di Indonesia, lahir sejak 1927 dan tentunya memiliki sejarah panjang di republik ini. Banyak pemain, pelatih, dan pengurus datang silih berganti dengan berbagai rupa. Namun ada satu yang tidak akan berganti, yaitu dukungan suporternya yang disebut Bonek, yang selalu setia, militan, dan WANI.

Bonek tidak kemana-mana, tapi ada dimana-mana. Itulah quotes menarik tentang betapa banyaknya Bonek. Lantas bagaimana bisa klub yang bahkan pernah “dipaksaā€¯ mati ini seolah-olah tidak pernah kekurangan suporter?

BACA:  Tulisan untuk Persebaya, Bapak, dan Lek Dar

Saya melemparkan ingatan saya di masa kecil saya, tahun 90an. Kenapa di tahun tersebut? Ya bisa saja, saya ulas tulisan ini berdasar tahun 80an, 70an, dsb. Tapi saya menyukai fakta-fakta yang tersaji ketika saya alami sendiri karena lebih bisa diterima. Toh, saya yakin tahun berapa pun yang diulas, akan dapat ditemukan jawabannya. Kenapa?

Saat itu sekitar 4 tahun, saya belum mengerti soal sepak bola (melihat di tivi pun, saya tidak tahu, kenapa bola direbutkan banyak orang) namun saya sudah mencintai Persebaya. Saya lihat orang-orang di kampung saya selalu bicara soal Persebaya, betapa hebatnya permainan Persebaya. Di mana-mana nama Persebaya dan sepak bola dibicarakan. Bahkan saya dulu mengira negara kita adalah negara nomor satu sepakbola. Saking banyaknya obrolan seputar bola di mana-mana. Hehe, ya itulah anak kecil melihat apa yg diteladani lantas memupuk sense of belonging-nya akan Persebaya, rasanya harus bersyukur saya sudah lahir di tengah-tengah masyarakat Surabaya yang mencintai Persebaya.

Halaman 1 2 3 4 5

Komentar Artikel