Jika Kisah Cinta Persebaya adalah Drama Korea

224
Foto: Joko Kristiono/EJ

Seorang perempuan terlihat sedang berdiri sendirian di depan pintu keluar Terminal Osowilangun. Ia mengenakan kaus hijau seperti warna kebesaran Persebaya. Raut mukanya terlihat gelisah. Sesekali melihat jam tangan yang menempel di tangan kirinya.

Tak lama kemudian ia dihampiri oleh beberapa orang pemuda-pemudi menggunakan 7 sepeda motor. Salah seorang pemuda memberinya helm. Perempuan tersebut bergegas memakainya dan langsung menepuk bahu pemuda yang memboncengnya. Sosok rombongan pemuda-pemudi itupun hilang membaur dengan rombongan Bonek dan Bonita yang juga memenuhi hampir seluruh jalan raya.

Sayup-sayup terdengar suara nyanyian menyebut Persebaya. Ya, hari itu adalah harinya Persebaya alias Persebaya day. Saatnya menghijaukan Gelora Bung Tomo (GBT).

Sepanjang jalan yang terlihat hanya manusia-manusia berkostum hijau. Bahkan penjual kepiting yang biasa berjualan di dekat pergudangan Maspion hampir tak terlihat. Mereka seperti tertutup oleh ribuan orang berkostum hijau yang bergantian melewati jalan menuju GBT.

Pemandangan ini yang mungkin belum biasa dinikmati perempuan itu. Matanya berbinar. Takjub. Tapi ada sedikit rasa khawatir dalam benaknya. Mungkin dalam hati ia membatin, “Inikah yang namanya Bonek? Benar-benar sefanatik inikah mereka pada Persebaya? Benarkah aku akan merasa aman bersama dengan orang-orang sebanyak ini nanti?”

Raut mukanya tak henti memberikan ekspresi bingung antara takjub dan khawatir. Bahkan ketika teman-temannya mengisyaratkan turun terlebih dahulu agar para pemuda dapat memarkir sepeda motor mereka di tempat parkir depan area stadion, ia hanya mengangguk tanpa berkata apapun.

Perlahan bersama teman-temannya, ia berjalan menuju pintu masuk stadion. Ia melihat begitu banyak orang bergandengan tangan, berpelukan, menggendong anak-anak, bahkan ada yang bersusah payah melewati tambak untuk mencapai stadion.

Lalu ia mengantri untuk pemeriksaan tiket dan barang bawaan. Lolos. Tak banyak yang ia bawa, hanya beberapa bungkus jajanan kecil sebagai camilan. Ia masih ingat bahwa temannya berjanji akan membelikan lumpia khas GBT sebagai upah mau ikut menonton langsung Persebaya.

BACA:  Harapan untuk Bonek, Ayo Jaga Sikap Dewasa!

Saat akan memasuki pintu stadion, tiba-tiba seorang pemuda menepuk bahunya. Ia terkejut, ternyata pemuda itu memintanya masuk duluan agar tidak berdesakan. Padahal ia tak kenal pemuda itu. Justru pemuda itulah yang ikut berdesakan mengantri masuk stadion dengannya. Ia pun tersenyum sambil mengucapkan terima kasih.

Kejutan tak berhenti di situ. Saat mencari tempat duduk, ia melihat ada banyak perempuan yang sedang bercanda tawa dengan beberapa lelaki di dekatnya sambil melihat ke arah lapangan. Ceria. Sesekali mereka terlihat berbagi makanan. Seperti sedang piknik ke taman hiburan.

Sebagai perempuan yang baru kali ini menikmati Persebaya di GBT, pemandangan yang dilihatnya mungkin seperti keajaiban. Bagaimana mungkin ada banyak perempuan yang begitu nyaman berada di stadion yang mayoritas diisi dengan lelaki. Anak-anak pun terlihat senang dan tak menangis meski berada di tempat yang sangat ramai. Mereka ikut menikmati pertandingan Persebaya. Bahkan saat terjadinya gol, merekapun ikut bersorak, berteriak, sampai berpelukan dengan orang di sebelahnya, yang entah dikenalnya atau tidak.

Ya, bagi Bonek, semua adalah keluarga ketika berada di GBT. Persebaya adalah kebanggaan yang menyatukan banyak orang. Ada berbagai macam bentuk emosi yang terungkap ketika mencintai Persebaya, senang, sedih, marah, takjub, ceria, cemas, dan lain sebagainya. Seperti kisah dalam drama Korea yang dapat membuat kita ikut terbawa perasaan. Kita bisa ikut tertawa, marah, bahkan menangis ketika menontonnya. Padahal kita hanya menonton.

Ah jika kisah mencintai Persebaya dengan segala suka dukanya dijadikan serial seperti drama Korea, seharusnya akan memiliki akhir yang indah. Meski harus membuat kita menangis, setidaknya itu adalah tangisan haru. Bahagia. Seperti saat Persebaya juara, misalnya. (*)

*) Tulisan ini adalah salah satu tulisan yang diikutkan dalam “EJ Sharing Writer Contest” edisi Mei 2020. Dengan tema Persebaya dan Harapan Masyarakat, kontes dibuka hingga 31 Mei 2020. Kirim tulisanmu ke email: [email protected]

Komentar Artikel