Bonek Power, Sinergi Strategis Persebaya

24
Foto: Joko Kristianto/EJ

Merdekaaa!

Pekikan lantang Bung Tomo menggelora di sudut kota Surabaya. Seorang pemuda bernama asli Sutomo dilahirkan di Surabaya pada Oktober 1920. Bung tomo adalah salah tokoh kunci dalam peristiwa peperangan melawan Inggris pada 10 November 1945 silam. Kini tanggal peristiwa tersebut diabadikan menjadi salah satu nama perguruan tinggi dan nama stadion di Surabaya.

Peran Bung Tomo dalam menggelorakan semangat keberanian melawan penjajah dapat diteladani dengan hal sederhana bagi Bonek untuk berbenah Wani Berubah. Aksi Wani Berubah menjadi energi positif bagi bonek yang notabene berbasis di di Surabaya sebagai salah satu suporter paling beken seantero nusantara.

Tak banyak yang tahu bahwa kini bonek yang bagi masyarakat identik dengan tawuran, kerusuhan suporter kini telah banyak berubah. Sebagai catatan, banyak kegiatan positif yang kini dilakukan oleh bonek diantaranya adalah, kampanye anti rasis di stadion, membangun panti asuhan bonek, aksi saling membantu dengan menggalang donasi kala ada salah satu bonek yang mengalami musibah, kampanye peduli kanker dan aksi kecil positif lain yang dilakukan di luar stadion maupun di dalam stadion.

Sebagai salah satu suporter terbesar di Indonesia, Bonek memiliki modal kekuatan kelompok yang cukup dalam menggerakkan anggotanya. Terbukti dalam beberapa kesempatan aksi merespon suatu isu atau peristiwa, Bonek yang tersebar luas di beberapa daerah kompak untuk bersolidaritas melakukan hal positif.

Meskipun suporter termasuk kerumunan yang merupakan suatu kelompok sosial sosial yang bersifat kontemporer (Soekanto, 2007:128), Bonek memiliki sifat yang peka kala ada kerusuhan yang terjadi dengan bersolidaritas antar sesama. Tentu ini menjadi energi bagi semua Bonek berani berubah menjadi lebih baik.

BACA:  Jangan Salahkan Miswar Saputra

Beberapa kasus solidaritas bonek yang patut untuk dijadikan contoh. Pertama, solidaritas untuk anak-anak penderita kanker dengan One Man One Doll, Aksi pelemparan boneka sebagai bentuk dukungan untuk anak-anak penderita kanker dengan tujuan tetap optimis untuk sembuh.

Kedua, kampanye anti rasisme, bonek membentangkan spanduk bertuliskan “Say No To Racism, Surabaya-Papua bersaudara ketika terjadi insiden rasis di beberapa daerah di Indonesia.

Ketiga, #BonekWaniBerbagi, di tengah pandemi covid-19 tak menyurutkan Bonek untuk saling membantu warga terdampak Covid-19. Ini menjadi spesial karena kegiatan ini juga dilakukan meskipun kompetisi sepak bola Indonesia dihentikan sementara. Begitula dengan Persebaya yang mengadakan program wani berbagi untuk memerangi Covid-19 dengan menyumbangkan bantuan kebutuhan APD untuk tenaga medis dan bantuan kepada masyarakat terdampak Covid-19.

Sepak bola kini telah menjadi entitas ekonomi, kultural, dan sosial yang menguasai hajat hidup orang banyak. Persebaya sebagai salah satu klub yang memliki sejarah panjang selayaknya membangun cara baru dalam membangun Persebaya. Mulai dari kemandirian secara finansial yang dibangun dengan pengelolaan kerjasama sponsorship yang bagus menjadi modal besar dan menunjang keberlangsungan klub yang tentunya diiringi penataan skuat yang baik, peningkatan fasilitas suporter dan manajemen klub yang baik. Suporter yang menjadi modal sosial utama bagi Persebaya hendaknya dilibatkan dalam proses evaluasi dan pembenahan ke depan agar sejarah kejayaan  tak hanya dikenang tapi diperjuangkan sampai sekarang.

Salam Satu Nyali, Wani!

Komentar Artikel