Hilangkan Gengsi, Mari Evaluasi

Pemain Persebaya memberi salut kepada Bonek usai laga melawan Barito Putera. Foto: Achmadino for EJ

Ketika Persebaya mati suri, dalam hati saya berharap nantinya Persebaya bisa bangkit dalam situasi seperti Askhabul Kahfi. kisah tujuh pemuda dan satu anjingnya yang lari dari kejaran penguasa dholim dan tertidur dalam sebuah gua kemudian terbangun ketika penguasa sudah berganti dan tidak dholim lagi. Pada 2017, harapan itu terwujud sebagian, harapan bahwa Persebaya bisa bangkit dan berlaga dikabulkan, tetapi harapan bahwa Persebaya bangkit layaknya situasi Askhabul Kahfi ternyata belum terkabul. Persebaya bangkit (lagi) masih di era kompetisi yang pengelolaannya belum benar-benar bagus.

BACA:  Refleksi 93 Tahun Persebaya: Bersama Merengkuh Kejayaan

Masih banyak kepentingan di luar sepak bola yang tumbuh subuh dan menumpang dalam kepentingan sepak bola itu sendiri. Masih kita alami bagaimana sebuah klub bangkrut karena investornya kalah dalam Pilkada. Masih kita alami bagaimana banyak laga usiran tanpa penonton terjadi. Masih kita alami juga penundaan kompetisi karena alasan Pilkada. Masih kita alami juga, bagaimana jadwal kompetisi tidak selaras dengan jadwal Timnas di level internasional serta sederet carut marut lainnya yang sudah sangat sering kita alami sebagai penikmat sepak bola di Indonesia.

Halaman 1 2 3 4 5 6 7 8

Komentar Artikel