93 Tahun sebagai “93netik Pembeda”

468
Foto: Joko Kristiono/EJ

Persebaya terlahir dengan 93netik pembeda, tahu kenapa? Dia selalu hadir pada momen-momen istimewa dan dibutuhkan.

Dari sejarah berdirinya pun sudah ada bau-bau pembeda, ambu-ambune nyeleneh lek jare arek saiki. Sepak bola dijadikan ajang perjuangan bumiputera di Surabaya, Soerabajasche Indonesische Voetbalbond (SIVB) sebagai antitesa dari klub milik orang Belanda, Soerabaiasche Voetbal Bond (SVB). Pun pada saat berdirinya PSSI, bersama beberapa klub bersuara lantang untuk mendirikan PSSI sebagai ladang untuk menyemai benih-benih nasionalisme di dada para pemuda Indonesia.

Sekali lagi klub ini adalah pembeda, The Differenter, baik bagi persepak bolaan Indonesia, media maupun suporternya. Ibarat iklan, “Gak ada Loe gak Rame”, gak ono awakmu sepo (tidak ada kamu hambar), You are too sexy to avoid (Persebaya terlalu sexy untuk dilewatkan).

Sebagaimana yang pernah ditulis oleh sang Presiden, Azrul Ananda, di buku-nya, yang dibutuhkan sebuah tim bukanlah Star (Bintang) tapi Differenter (Pembeda). Pembeda bisa membuat suatu perbedaan di timnya, bukan hanya dalam pertandingan tapi juga di luar pertandingan. Sang pembeda bisa menjadi “game changer”, “Perekat”, menjadikan suasana segar, happier (lebih gembira), mood booster, dan penuh passion.

Kalau saat ini sang pembeda adalah Rendi Irwan bukan Da Silva, kejahilannya bikin suasana tim lebih menyegarkan. Jamannya Persebaya Dream Team, sang pembeda adalah Khairil Anwar bukan Jacksen F Tiago , dengan kejahilan maupun sosok antagonisnya. Era 88-90-an sang pembeda justru Seger Sutrisno, bukan Syamsul Arifin atau Mustaqim atau Budi Johannis (opini pribadi).

Demikian juga Persebaya bagi PSSI, meskipun terkenal sebagai “anak nakal”, bukan penurut. Tapi sosok Persebaya benar-benar tampil sebagai pembeda, mewarnai sepak bola negeri ini, dari sepak bola gajah, gol bunuh diri Muryid efendi di PSSI Rasa Persebaya (Karena PSSI di perkuat oleh 11 pemain Persebaya) pada piala AFF 1998. Pada Liga Indonesia 2002 melakukan aksi mogok tanding menghadapi PKT yang berujung pada degradasi, dan kemokongan itu diulang kembali 3 tahun kemudian saat mengundurkan diri pada delapan besar yang sekali lagi membuat terdegradasi. Dan lagi-lagi, karena dizolimi, pada musim 2009/2010 Persebaya menolak melakukan pertandingan dengan Persik Kediri karena merasa di permainkan. Alhasil Persebaya kembali terdegradasi dan terlunta-lunta di LPI yang akhirnya berujung pada dualisme.

Coba bayangkan klub mana yang mempunyai serba-serbi seperti persebaya di atas, kalau dikata manusia, Persebaya selama 93 tahun merasakan asam garam gula lombok kehidupan (saking akehe pengalamane). Saya yakin PSSI pun di buat kan93n oleh ulah anak nakal-nya ini, coba lihat hak siar selama Persebaya berlaga? Hampir 100 persen disiarkan! Benar-benar kelakuan Sang Pembeda!

BACA:  93 Tahun Persebaya, Menjaga Konsistensi di Jalur Prestasi, Bukan Mentradisikan Tragedi

Dan bagi suporternya, Persebaya benar-benar pembeda yang luar biasa. Bagi saya, terutama, 35 tahun mengenal klub ini, dari era Divisi utama; usia 11 tahun tahun musim 87-88 sudah ikut tret-tet-tet ke Senayan, mengawal hingga juara, hapal nama pemain satu per satu di usia SD, apalagi setelah Persebaya juara, selalu membayangkan jadi I Gusti Putu Yasa pada saat bermain jadi kiper di jalan depan rumah, menjadi playmaker handal layaknya Budi Johanis atau menjadi Kapten yang berwibawa seperti Nuryono hariyadi. Wuiih begitu bangganya walau cuma mengkhayal saat itu.

Waktu bergulir dengan digabungnya kompetisi Divisi Utama dan Galatama, satu-satunya kota yang mempunyai 3 klub dalam divisi/kasta teratas, Persebaya, Mitra Surabaya, dan Asyaabab (Kemudian berubah menjadi ASGS). Meski pemain Mitra dan ASGS lebih mentereng tapi hati tetap Persebaya, lek gak Persebaya gak, saking apane, dadi duduk perkoro pemain bintang tapi sisi Pembeda yang melekatkan.

Saat Persebaya kalah, dunia seperti mau runtuh, malas membaca beritanya, mematikan TV, malah aras-arasen kabeh. Tapi saat Persebaya menang, koran berisi kemenangan Persebaya berkali-kali di baca sampek lungset kabeh, tayangan gol-gol dilihat tidak ada bosannya, kerja atau sekolah begitu semangatnya, bergairah, ada apa? Begitulah Sang Pembeda selalu memberikan energi dan aura positif.

Dan kini di usia 93 tahun, segalanya punya dan ada (suporter loyal, manajemen handal) tetaplah jadi pembeda, tetap menjadi 93netik pembeda dari sananya, selalu men93jar impian, “I am living a dream, i never want to wake up.” — Ronaldo

Cause Everyday is Chan93 to 93t Better, To93ther We Stand, To93ther We Can!

Salam Satu NYALI! WANI!

*) Penggemar Persebaya, tinggal dan kerja di Palembang, Suporter khusus sabtu minggu di GBT.

*) Tulisan ini adalah salah satu tulisan yang diikutkan dalam “EJ Sharing Writer Contest” edisi Juni 2020. Dengan tema Arti Ultah 93 Persebaya Bagimu, kontes dibuka hingga 30 Juni 2020. Kirim tulisanmu ke email: [email protected]

Komentar Artikel