Anniversary, Konspirasi, dan Pandemi: Sebuah Refleksi Kebahagiaan di Tengah Pandemi Negeri

Foto: Rizka Perdana Putra/EJ

Tahun 2020, jadi momentum perenungan bersama. Bagaimana tidak, tiba-tiba kita diperintah negara untuk hidup bersih, pakai masker, hingga cuci tangan setiap hari. Lebih-lebih anjuran untuk menjaga jarak jika bertemu sangat digencarkan di seluruh penjuru negeri. Aturan tersebut bukan sesuai kultur Budaya Indonesia. Budaya kita budaya sosial sangat toleran, guyup, gotong royong, dan tenggang rasa.

BACA:  93 Tahun, Persebaya yang Semakin Muda

Dugaan ‘pemufakatan jahat’ didengungkan. Alih-alih jadi pahlawan, ternyata hanya numpang tenar di tengah pendemi. Pemahaman dangkal, logika yang terbalik-balik kerap kali disampaikan melalui media sosial. Sehingga menambah carut marut kegaduhan masyarakat kita.

Sudah cukup, Stop!

Tundukkan kepala, mari sejenak merenung!

Renungan itulah, yang kemudian jadi penyemangat Bonek Bonita. Semangat berbenah, menjadi lebih baik dan tetap saling menjaga. Kebersamaan yang dipertemukan karena kecintaan terhadap kebanggaan. Kebanggaan kita semua, Persebaya Surabaya.

BACA:  Persebaya Sak Lawase

Kami, hanya sebuah titik kecil diantara banyak pecinta sepakbola di Indonesia. Suara kami, suara optimisme. Bahasa kami, bahasa  kejujuran. Ini cara kami mencintai kebanggaan. Jika suara kami dibungkam, maka lewat bahasa kejujuranlah kami bersuara.

Halaman 1 2 3

Komentar Artikel