Kapan Persebaya Menyusul Liverpool?

22
Foto: thisisanfield.com

Selasa 27 November 1990, Bleduk Ijo menggetarkan jagad sepak bola Indonesia. Bleduk Ijo adalah julukan tim Persebaya saat mengikuti turnamen Piala Utama. Sebuah turnamen yang mempertemukan tim Perserikatan dan Galatama saat itu.

Di tangani pelatih Rusdy Bahalwan, Soebodro, dan Zulkifli Yasin, skuad Bleduk Ijo yang diisi deretan pemain muda yang berasal dari kompetisi internal. Mereka berhasil menjadi juara Piala Utama dengan mengalahkan tim elit bertabur bintang dari Galatama, Pelita Jaya. Persebaya menang 3-2 atas tim asuhan Benny Dollo.

Tahun 1990 itu sama dengan tahun terakhir Liverpool tim Liga Inggris menjuarai kompetisi kasta teratas negeri Ratu Elizabeth II. Tigapuluh tahun penantian, malam tadi Liverpool untuk pertama kalinya kembali juara pada era Premier League. Jurgen Klopp membawa anak asuhnya meraih impian yang selalu dipupuk oleh siapapun fans Liverpool.

Dalam tiga tahun ke belakang, permainan gegen pressing ala Klopp memang menarik sekaligus mematikan. Juara Liga Champions 2019 dan gelar Super Cup serta Piala Dunia antar klub menjadi bukti. Kemenangan Chelsea atas Manchester City tadi malam membuat para pemain Liverpool yang nonton bareng di café berjingkrak.

Jutaan penggemar tim asal kota pelabuhan ini terharu dan gembira. Terharu dirasakan fans yang sudah menanti puluhan tahun. Bahkan dalam video BR Football digambarkan seorang tua menunggu juara yang menikmatinya justru dari anak dan cucunya karena dianya sendiri sudah meninggal. Video luar biasa yang menggambarkan betapa mereka “mengamalkan” lirik lagu dari Gerry and the Pacemakers yakni Youl’ll Never Walk Alone.

Liriknya kuat dan penuh daya magis. Ditunjang dengan music yang juga bisa menggetarkan siapapun yang mendengarkan. Lagu ini tidak hanya lagu wajib buat Liverpool tapi juga ada klub lain yang memakainya. Tetapi harus diakui bahwa di Liverpool lah lagu ini mendunia. #YNWA adalah Liverpool.

Perjalanan panjang untuk meraih impian tidak dilalui dengan mudah. Banyak halangan dan rintangan. Baik dari dalam maupun luar. Sinergi semua sisi untuk meraih satu mimpi menjadikan visi yang harus dijalankan secara bersama. Penghormatan kepada masa lalu, belajar kepada sejarah besar untuk dijadikan pijakan menciptakan sejarah baru. Tanpa nilai-nilai dan filosofi dari para legenda masa lalu maka tidak akan pernah tercipta visi besar saat ini. Keduanya saling terkait. Tidak hanya tentang klub tapi juga hubungan fans dan klub serta antar fans yang kuat.

Hubungan Liverpool dan Persebaya

BACA:  Jelang Lawan Sriwijaya FC, Djanur Benahi Finishing Persebaya

Liverpool adalah kota pelabuhan. Begitu juga dengan Surabaya. Sedikit banyak masyarakatnya memiliki kemiripan karakter. Sejak 2018 Surabaya sudah menjadi sister city bagi Liverpool.

Delegasi dari Liverpool yang dipimpin oleh Walikota Liverpool saat itu, Mr. Joe Anderson. Kedatangan delegasi dari Kota Liverpool bertujuan untuk melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) Sister City Surabaya-Liverpool. MoU tersebut ditandatangani secara langsung oleh Wali Kota Surabaya dan Wali Kota Liverpool pada 19 Maret 2018.

Salah satu poinnya adalah kerjasama dalam bidang sumber daya manusia. Untuk mendorong kapasitas SDM, khususnya atlet sepak bola, dilakukan pertemuan di Dinas Kepemudaan dan Olahraga dan kunjungan ke Stadion Gelora 10 Nopember, Tambaksari untuk melihat permainan bola dari siswa Sekolah Sepak Bola (SSB). Bahkan beberapa waktu kemudian Pemkot Surabaya mengirim beberapa pemain mudah termasuk Supriadi untuk belajar sepak bola.

Saat ini Supriadi menjadi pemain tim senior Persebaya. Jika Liverpool meraih juara menunggu 30 tahun, Persebaya meraih juara terakhir pada tahun 2004 atau 16 tahun lalu. Lebih dari separo waktu tunggu Liverpool juara.

Hal lain yang hampir mirip adalah Liverpool tidak boleh mengikuti kompetisi Eropa selama beberapa tahun. Peristiwa di Heysel Belgia menjadi penyebabnya. Sedang Persebaya juga mengalami hal yang mirip. Klub tidak diakui federasi hampir lima tahun.

Kedua peristiwa ini seperti penggalan lirik lagu YNWA yakni “When you walk through a storm”. Fans kedua klubpun sama–sama menegakkan kepala atas apa yang memang terjadi. Rasa memiliki dan semangat bangkit mereka miliki. “Hold your head up high” menjadi pesan dari lirik ini yang sangat kuat.

Tidak ada rasa takut akan kegelapan, mereka melewatinya dengan kepala tegak. Ada keyakinan dan percaya yang tinggi dalam hati dan jiwa para pemain, staf pelatih, manajemen serta fans Liverpool dan Persebaya. Bahwa selepas badai akan terlihat langit yang indah dan cerah yang akan menhantarkan mereka meraih impian.

Terus berjalan menjaga harapan. Berjuang, berusaha sungguh-sungguh sekuat tenaga dan dengan kesabaran serta saling percaya membuktikan bahwa lirik magis YNWA berhasil membawa Liverpool meraih mimpinya pada tahun ke-30. Dan mereka seperti sudah menjadi darah daging selalu optimis menatap juara musim depan. This Year is ours. Sudah terbukti.

Selamat untuk semua fans Liverpool khususnya dari Bonek.

Jadi kapan Persebaya akan menyusul Liverpool? #YNWA #KGMI Kon Gak Mlaku Ijenan. Wani.

Komentar Artikel