Beradaptasi dengan Sepakbola Era Pandemi

Foto: Joko Kristiono/EJ
Iklan

Sebentar lagi kompetisi sepakbola kita akan mulai kembali. Ada pro dan kontra yang mengiringi, tentunya karena keputusan melanjutkan kompetisi di tengah pandemi Covid-19. Apalagi kondisi Indonesia masih dibilang sangat rawan dengan semakin meningkatnya jumlah kasus konfirmasi positif. Namun, di sisi lain tentu ada pula yang sangat berbahagia karena dapat segera melepas rindu dengan sepakbola.

Wabah Covid-19 cukup membuat banyak orang patah hati. Kita yang sedang enak-enaknya menikmati musim baru liga eh tiba-tiba harus berhenti. Rasanya seperti lagi sayang-sayangnya sama dia lalu mendadak disuruh putus.

Belum lagi penerapan protokol kesehatan yang cukup ketat demi memutuskan rantai penyebaran Covid-19. Penyebaran virus yang semakin masif membuat kita wajib menggunakan masker setiap keluar rumah dan selalu menjaga jarak dengan orang lain. Selain itu, mencuci tangan juga menjadi salah satu langkah untuk menjaga kebersihan diri.

Ingat tidak ketika mungkin kita biasanya dengan sadar memegang tangga tribun lalu dengan santai makan lumpia tanpa mencuci tangan terlebih dahulu?

Iklan

Atau mungkin setelah bersin dan menutupinya dengan tangan, lalu tak sengaja bertemu teman dan langsung saja berjabat tangan?

Kebiasaan-kebiasaan itu mungkin pernah kita lakukan dulu saat kita masih bebas menonton pertandingan Persebaya di stadion. Tapi kini, kita sementara harus berpuasa untuk tak datang ke stadion. Keputusan PSSI untuk melanjutkan Liga 1 memiliki konsekuensi bahwa sisa pertandingan musim ini tak bisa dihadiri penonton maupun suporter.

Bahkan dari draft protokol kesehatan yang diadaptasi dari milik Bundesliga itu juga menerapkan pembatasan jumlah personel di stadion yang dibagi dalam beberapa zona.

Yah, patah hati lagi donk!

Eits, tunggu dulu! Memangnya kita pernah tidak bisa memberikan dukungan sama sekali pada Persebaya? Tidak kan?

Pandemi kali ini mungkin memang cukup menjebak kita untuk lebih banyak berada di rumah. Tapi bukan berarti kita sama sekali tidak bisa beradaptasi dengan kondisi ini. Di luar pro kontra tentang kelanjutan liga yang terjadi, setidaknya kita bisa mencoba membuat inovasi untuk tetap mendukung Persebaya. Meski kita belum tahu akhirnya Persebaya akan benar-benar ikut melanjutkan liga atau epok-epok saja.

Misalnya, kita bisa membuat video kompilasi dukungan untuk Persebaya. Entah dari komunitas Bonek maupun Bonita, atau individu yang kemudian dipublikasikan ke media sosial dengan menandai akun ofisial Pesebaya. Bisa juga dengan membuat surat cinta.

Ehem… Surat cinta untuk Persebaya yang berisi dukungan maupun kata-kata penyemangat yang dikirim pada akun media sosial Persebaya atau dikirim langsung pada para pemain. Atau malah mungkin ada yang mau mengirimkan karangan bunga dengan kalimat dukungan ke mess pemain?

Kalau mungkin pilihan-pilihan di atas terlihat begitu romantis, kita juga masih tetap bisa menggunakan rubrik EJ Sharing untuk menuliskan dukungan maupun artikel cadas untuk mengobarkan semangat tim. Selain itu, kita juga tak boleh melupakan kekuatan doa yang selalu kita senandungkan demi kelancaran dan kesuksesan Persebaya tercinta.

Beradaptasi dengan sepakbola diera pandemi memang tak mudah, apalagi menahan nafsu untuk tidak hadir ke stadion. Tapi ketidakhadiran kita saat Persebaya bertanding bukanlah hal yang harus dianggap darurat saat ini. Keselamatan orang banyak adalah yang paling penting. Karena sepakbola itu akan selalu menggembirakan untuk siapa saja, tak elok jika kita justru membuat sepakbola menjadi sebuah kekhawatiran atau bahkan bencana bagi orang lain.

Nikmati sepakbolamu, nikmati kecintaanmu pada Persebaya.

Wani!

Komentar Artikel

Iklan

No posts to display