Mundurnya Pangeran Persebaya Surabaya

Rachmat Irianto/Foto : Official Persebaya
Iklan

Rahmat Irianto, namanya mulai muncul di permukaan begitu tepat waktunya, tahun 2017 saat usianya masih begitu muda, 17 tahun, bertepatan dengan tahun dimana kembalinya Persebaya Surabaya berkompetisi di sepak bola Indonesia.

Wajahnya tidak asing, gaya bermainnya begitu mirip, ya, sangat mirip dengan legenda Persebaya dan Timnas, Bejo Sugiantoro. Cara Ia berlari, passing bola, gestur tubuh, semuanya, seperti membangkitkan memori Bonek dan pendukung timnas medio tahun 2000an dengan ayahnya.

Namanya juga seperti tidak asing, Irianto, ya, seperti nama almarhum Eri Irianto, pemain Persebaya dan Timnas Indonesia asal Kraton, Krian, yang mengakhiri hidupnya pada insiden tabrakan dengan pemain lawan di stadion Gelora 10 Nopember.

Pada usia yang begitu muda, kemampuan sepak bolanya mungkin seperti umumnya pemain wonderkid lainnya, yang paling menonjol pada Rian muda saat itu adalah kedewasaannya, rasa-rasanya sulit dipercaya kalau ia masih 17 tahun.

Iklan

Sempat beberapa kali ketika momen panas di Stadion Gelora Bung Tomo yang membuat emosi Bejo Sugiantoro, justru Rian lah yang turun untuk menenangkan Ayahnya. Walaupun lebih sering bermain untuk timnas baik kelompok umur maupun senior, setiap Rian bermain di Persebaya merupakan hal yang istimewa.

Rian siap dan lebih sering dimainkan bukan pada posisi aslinya sebagai bek tengah, digeser sebagai bek kiri, gelandang bertahan, Ia lakukan hampir sama baiknya. Termasuk gol debut di Liga 1 ketika tendangan keras dari luar kotak penalti menjebol gawang Tira-Persikabo dirayakan dengan tangis dan haru, Rian terlihat begitu emosional membuat kita yang menonton merasakan begitu Boneknya seorang Rian.

Hingga tiba musim 2021/2022, Musim ini adalah musim pertama Rian ditunjuk sebagai kapten tim, masih sangat muda, 23 tahun, bermain reguler di timnas senior, satu posisi yang tak tergantikan walaupun dimainkan di posisi gelandang bertahan.

Bermain luar biasa sepanjang tahun bersama timnas dan berhasil membawa lolos ke final Piala AFF meskipun gagal juara karena kalah dengan Thailand merupakan prestasi luar biasa dengan squad muda pelatih Shin Tae-yong.

Penampilan yang bagus di timnas membawa harapan tinggi bagi Bonek ketika Rian kembali bermain ke tim Persebaya Surabaya. Namun, timnas dan Persebaya berbeda, Coach STY dan Coach Aji berbeda, rekan satu tim berbeda, gaya bermain pun berbeda.

Harapan tinggi Bonek tidak berhasil menjadi kenyataan. Rian sebenarnya tidak bermain jelek, tapi memang tidak seistimewa seperti ketika bermain di Timnas. Kompleksivitas antara kejenuhan orang terhadap pandemi dan larangan menonton sepak bola langsung di stadion menjadikan media sosial sebagai media untuk mendukung dan menunjukkan ekspresi.

Disaat naik-turun hasil yang diraih Persebaya membuat ekspresi Bonek bermacam-macam, ada yang menghujat dua penyerang asing Jose Wilkson dan Arsenio Valpoort yang bergantian masuk di tim, ada yang menghujat Coach Aji, ada juga yang menghujat pemain-pemain, termasuk Rahmat Irianto sebagai kapten tim.

Yang terparah memang tuduhan adanya nepotisme di klub Persebaya karena hubungan anak-ayah antara Rian dan Bejo Sugiantoro sebagai asisten pelatih. Ah, sial, sedewasanya Rian, Ia tetap manusia.

Ucapan “Persebaya tetap melekat pada kami! Selamat Bertugas Ayah! Bejo Sugiantoro” rasanya kalimat perpisahan yang menjanggal, seakan Rian sedang mundur sementara, legawa agar antara Bejo dan Ia tetap bisa berkiprah di sepak bola, mengalah dengan keadaan, jikalau bergabungnya dengan Persib Bandung, adalah keputusan yang sangat tepat.

Ada misi yang sedang Rian kejar, pertama sebagai pembuktian bahwa Ia adalah pemain hebat, kedua keluar dari zona nyaman di Persebaya untuk meningkatkan kualitas diri, apalagi Persib Bandung akan bermain di kompetisi Asia.

Masih segar memori ketika Bejo Sugiantoro menggendong Rian kecil saat selebrasi Persebaya juara musim 2004, Rian adalah Bonek, Rahmat Irianto adalah Pangeran Persebaya.

Semoga sukses pangeran, seorang Bonek punya mental WANI merantau, jika sudah saatnya, Bonek tau kapan waktunya pulang ke rumahnya, Persebaya Surabaya.

Persebaya Selamanya.

Komentar Artikel

Iklan

No posts to display