Sepak Bola dan Perdamaian Dunia

Foto : Jawapos
Iklan

Olahraga, terkhusus sepakbola menjadi alat yang efektif dalam berbagai upaya diplomasi perdamaian. Begitu banyak kisah soal ini. Saat perang dunia pertama, tepatnya malam natal dan hari natal tahun 1914 prajurit tentara Inggris dan tentara Jerman yang berseteru secara tidak resmi melakukan genjatan senjata, meskipun para pemimpin eropa tidak pernah mengeluarkan perintah gencatan senjata.

Mereka menghentikan baku tembak dan berhenti saling membunuh. Pada malam itu, para prajurit dari kedua negara saling bertukar kado, bertukar rokok dan minuman, menyanyikan lagu natal, saling berjabat tangan, bercanda dan tidak lupa untuk bermain sepak bola bersama.

Pada tahun 1960-an, legenda sepakbola yang begitu terkenal asal Brazil, Edson Arantes do Nascimento alias Pele berhasil menghentikan perang saudara yang sedang berkecamuk di Nigeria. Pele datang ke Kota Lagos, Nigeria pada tahun 1967, karena kedatangannya itu kedua kubu yang sedang berseteru sepakat untuk melakukan genjatan senjata selama 48 jam demi menyaksikan secara langsung Pele memainkan si kulit bundar dengan skill magisnya.

Pantai Gading selama beberapa tahun juga sempat mengalami tragedi perang saudara antara penduduk Pantai Gading Utara dengan Pantai Gading Selatan, tetapi hal tersebut berhenti ketika Didier Drogba dkk, berhasil menundukan Sudan dengan kemenangan 3-1 dan meloloskan Pantai Gading ke Piala Dunia 2006 silam.

Iklan

Pasca pertandingan, Didier Drogba beserta rekan setimnya berlutut di hadapan sebuah mikrofon di depan kamera televisi dan memohon kepada masyarakat Pantai Gading untuk berdamai. Upaya tersebut ternyata berhasil dan sepakbola berhasil menjadi simbol perdamaian di Pantai Gading.

Piala dunia tahun 1998 di Prancis juga ikut andil dalam mendinginkan kerusuhan era Reformasi pasca lengsernya Presiden Soeharto saat itu. Semua ketegangan mendadak sirna pada 10 Juni 1998 karena bertepatan dengan Kick Off Piala Dunia 1998 di Prancis dan setelahnya nyaris tidak ada lagi kerusuhan besar yang pecah di kota-kota di Indonesia. Konflik pada era reformasi mendadak padam sejenak dan perhatian masyarakat Indonesia beralih ke Piala Dunia 1998.

Sebenarnya masih banyak cerita-cerita lain soal sepakbola yang berhasil menjadi alat perdamaian. Melalui kisah-kisah tersebut tidak dapat dibantah bahwa sepakbola menjadi alat yang efektif dalam mendamaian konflik.

Mungkin, sudah saatnya sepakbola, terutama sepakbola Indonesia kembali melakukan tugasnya untuk menyuarakan perdamaian atas peperangan yang terjadi di Ukraina antara Rusia dengan Ukraina. Para pemain Manchester United Vs Watword sebelum kick off menyuarakan pesan perdamaian untuk Ukraina,  Robert Lewandowski juga mengenakan ban kapten berwarna bendera Ukraina saat pertandingan bahkan  Federasi sepakbola Polandia menyatakan menolak untuk bertanding melawan Rusia dalam kualifikasi Piala Dunia 2022.

Hal ini seyogyanya juga diikuti oleh Persebaya dan pemain-pemain Persebaya serta Bonek untuk andil dalam hal ini, begitu juga tim-tim dan pemain lain yang bermain di Indonesia untuk menunjukan solidaritas dan pesan perdamaian.

Harus disadari secara penuh, sepakbola tidak layak menjadi sarana untuk memecah belah, menjadi sumber konflik dan perselisihan karena itu menodai kesucian sepakbola.

Sepakbola harus kembali kepada fitrahnya, yaitu sebagai alat pemersatu dan perdamaian. Tidak boleh lagi ada peperangan antar suporter atas nama sepakbola, tidak boleh lagi ada pertarungan elite klub dan federasi atas nama sepakbola.

 “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan” – Alinea Pertama Pembukaan UUD 1945.

 

 

 

 

Komentar Artikel

Iklan

No posts to display