SAH! (Nazar Seorang Bonek Untuk Persis Telah Direstui)

Iklan

Masih ingat perihal aksi salah seorang Bonek yang bernazar jalan kaki dari Boyolali ke Stadion Manahan karena Persis naik kasta ke liga satu?

Seorang Bonek yang memilki mimpi bisa satu tribun lagi dengan Pasoepati dan bernyanyi bersama. Karena dari sanalah ia kali pertama mengenal sepak bola.

Sepak bola benar-benar mengalahkan logika dan gilanya, Tuhan merestui itu semua. Takdir seolah-olah berjalan mulus, persaudaraan ini semoga abadi.

Laga pertama yang boleh dihadiri banyak penonton setelah dua tahun para suporter dipaksa berdiam diri di depan televisi. Tentu saja banyak drama, dari perang tiket, akses jalan, kondisi stadion, maupun tindakan kriminal yang mengatasnamakan bonek.

Iklan

Ternyata bukan bonek saja yang menanti-nanti pertandingan besar ini, namun segerombolan kriminalis yang terstruktur dan masif dengan lihai berbaur menggunakan atribut sama untuk merampas barang berharga yang katanya (milik saudara).

Semboyan “Apik elek kui yo dulurmu” selalu menjadi akhir dari perdebatan. Mohon maaf, untuk segala tindak kejahatan dari kalangan apapun, bagi saya tidak ada yang namanya ampun. Atribut jangan dijadikan tameng, kalau benar bonek tidak akan merusak citra baik bonek.

“Musuh terberat kita bukan rival, tapi yang mengaku bonek dan ternyata kriminal”

Semoga pihak aparat ataupun yang berpengaruh bisa mengatasi masalah ini dan menjadikan kawasan stadion baik di dalam maupun di luar menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk semua orang.

Sebenarnya masalah ini juga muncul ketika banyak dari suporter yang tidak memegang tiket namun dengan mudah berkeliaran di luar stadion. Lalu timbullah kemacetan dan juga tindak kriminal dari sesama bonek ataupun yang menyerang aparat karena memaksa masuk.

Memang, berebut tiket online pun sangat susah. Pada akhirnya saya juga sudah pasrah jika tidak bisa nribun kali ini, namun salah seorang teman dari Bonek Boyolali, Mas Wahid, menawarkan dua buah tiket untuk saya, dan ternyata itu tiket away untuk Solo Fans.

Dengan harga yang sedikit tinggi dari harga normal, akhirnya saya mengambil tawaran itu. Jatah tiket suporter lain pun akhirnya saya sikat. Demi apa coba?

Demi menyaksikan sebuah mimpi yang terwujud dari nazar seorang bonek yang rela berjalan kaki lintas kota untuk sebuah arti persaudaraan. Mas Wahid, akhirnya nazar yang kau jalani diijabah Tuhan!

Berangkat dari Boyolali kota pukul 7 pagi dengan rombongan sekitar 19 orang dan sampai di stadion pukul setengah satu, sedangkan saya berangkat dari Jombang bersama seorang teman pukul 9 pagi dan harus mampir dulu ke Stasiun Gubeng untuk mengambil tiket yang sudah di pesan mas Wahid pada hari sebelumnya. Jumlah tiket yang kami ambil ada enam, empat untuk rombongan mas Wahid dan dua untuk saya dan teman.

Jalanan mulai macet dan padat, sedang kami harus mengejar waktu karena bertanggung jawab membawa empat tiket dari rombongan mas Wahid. Rencana mau parkir di luar stadion karena motor tidak bisa gerak sama sekali, namun saya tetap ngeyel untuk parkir di sekitar stadion karena malas juga berjalan jauh dengan suhu bumi yang lagi panas-panasnya haha.

Sampai stadion pukul tiga kurang, istirahat dan beribadah sebentar di masjid. Sembari menghubungi Mas Wahid dan kawan-kawannya. Dari sini sinyal mulai sedikit susah. Tiba-tiba saja mas Wahid dan kawan-kawan datang menghampiri kami di masjid. Akhirnya kami bisa nribun bareng untuk yang pertama kali.

Suasana stadion cukup ramai, kami memilih tribun yang bersebelahan dengan Persis Fans. Suasana haru menyelimuti semua tribun, pertemuan ini yang selalu dinanti-nantikan. Tetes air mata mas Wahid keluar tak terbendung di antara lantunan ribuan suara.

Akhirnya nazar yang ia lakukan tidak sia-sia, berjalan dari perbatasan kota Boyolali/Semarang ke Stadion Manahan. Dikira gelandangan, menahan haus dan lapar, dihajar angin malam dan pada akhirnya tidak ada sambutan ataupun perayaan.

Namun semua itu terbalaskan pada hari ini, sambutan dan perayaan yang dirayakan oleh ribuan Bonek dan Pasoepati.

“Menurutku ya semua kejadian/pertandingan seru semua, tetapi bertemu beda klub beda cerita. Namun ini sangat luar biasa, Ada beberapa momen yang mungkin tak pernah ku lupakan” ucap mas Wahid.

Semoga dengan pertandingan kali ini bisa menjadi contoh untuk menebar virus perdamaian di semua kalangan suporter. Bahwa suporter sepak bola akan terus dan terus berbenah. Tetap saling mengingatkan dan menegur bila ada yang salah. Jangan pernah lelah untuk berubah!

 

Komentar Artikel

Iklan

No posts to display