Persebaya Selamanya, Kereta Akan Terus Berjalan

Azrul Ananda/Foto : Official Persebaya

Azrul Ananda, nama yang sangat familiar di usia saya tumbuh dan berkembang. Aza muncul melalui media Jawa Pos, memegang kolom Deteksi, yang saat itu merupakan terobosan bagi media dengan menyasar usia remaja. Selanjutnya produk keberhasilan Aza adalah Deteksi Baskeball League (DBL, yang sekarang menjadi Development Baskeball League). Semua anak SMP dan SMA bercita-cita bermain di DBL, menjadi juara di DBL, atmosfer suporter di kalangan anak sekolah tumbuh dan berkembang luar biasa. DBL tumbuh dan akhirnya digelar di seluruh Indonesia, saya yakin lebih dari 50% suporter sepak bola klub-klub di Indonesia saat ini adalah mereka yang memulai tumbuh dari kompetisi DBL.

BACA:  Apa Kabar Psikolog Persebaya?

Cukup sampai disitu, kembali ke Persebaya, 2011-2012 adalah periode kelam bagi Persebaya, prestasi jelek, dualisme kompetisi, keonaran yang dibuat Bonek menjadi stigma buruk dan seperti musuh banyak kelompok suporter lain dan masyarakat sekitar, akhirnya Persebaya tidak diakui dan tidak bisa berkompetisi. Sampai 2017, lebih kurang 5 tahun, setelah berbagai perjuangan kesana-kesini dalam tempo waktu yang lama, singkat cerita Persebaya kembali diakui dan memulai berkompetisi di Liga 2. Yang menyempurnakan kegembiraan saya waktu itu adalah Persebaya dipegang oleh Azrul Ananda, ya, Aza!

Halaman 1 2 3 4

Komentar Artikel