Rasionalisasi Persebaya

Tim EPA U14 Persebaya 2022/Foto : EJ
Iklan

Saya seorang pecinta sepak bola nasional, mengikuti kabar dari timnas, Liga 1, Liga 2, Liga 3.. mungkin gak selalu update cuma liga di Indonesia cukup menarik untuk disimak.. dari sosmed yang saya punyai mulai Instagram, Twitter, FB, Youtube dan akun akun yang berbau sepak bola nasional difollow, mulai yang official, meme, troll, pundit juga ga ketinggalan..

Melihat perkembangan sepak bola nasional, ada kabar bahwa CEO/Presiden Persebaya Azrul Ananda (AZA) dikabarkan mengajukan pengunduran diri. Sebuah kabar yang mengagetkan bagi khalayak khususnya Bonek/Bonita. Setelah mengelola Persebaya sejak tahun 2017, sejak itupun Persebaya di bawa lebih berprestasi, juara Liga 2 promosi ke Liga 1, sampai dibawa ke posisi ke 2 liga 1 musim 2019.

Kericuhan di Gelora Delta Sidoarjo Kamis 15 September 2022 pasca kekalahan melawan Rans merupakan puncak dari rasa kekecawaan dan kekesalan bonek atas performa tim yang dari 10 kali bermain, 6 kali kalah. Bukan performa yang baik untuk klub sekelas Persebaya yang dari musim ke musim bersaing merebutkan juara. Kekalahan itupun juga membuat Bonek menuntut perbaikan dari manajemen.

Press conference pada Jumat 16 September 2022 oleh manajemen diwakili bung Azrul ternyata isinya pengumuman pengunduran dirinya sebagai presiden klub. Sinyal atau kode pengunduran diri itupun sudah lama dihembuskan oleh nya ketika di beberapa podcast YTC atau media lain.

Iklan

Di konferensi pers itu pun di jelaskan kenapa bung AZA mundur,, dari beberapa bonek yang hadir pun juga menyampaikan aspirasinya.. Bung AZA koyoke wes kesel, mangkel,, tak usahakno kabeh, tak rewangi golek duit nombok i, kog sik di paido ae.. lek coroku ngene salah, ga terimo ya wes tak culno malah enteng uripku (paling ngunu nang atine). heheheehe

Secara garis besar manajemen dari bung AZA musim 2022-2023 menginginkan rasionalisasi dlm mengarungi liga dengan harapan agar klub tetap sustainable.  Beberapa pemain yang dikontrak pun kurang mentereng dibanding musim-musim sebelumnya.

Yang direkrut “hanya” pemain ex liga 2, jebolan SSB,  dan liga internal yang pastinya dari nilai kontrak lebih terjangkau.. tapi dengan tim pelatih bertangan dingin sekelas Aji Santoso yang harapannya bisa memunculkan bintang-bintang baru. Dengan skuad yang ada, rasanya memang sangat sulit buat Persebaya untuk bersaing di papan atas liga 1 musim ini.

Menganalisa alasan dari bung AZA rasionalisasi yang dimaksud  cukup beralasan. Karena ada klub lain yang jor2an untuk belanja pemain tapi juga ga keluar jadi juara.. dengan iklim sepakbola Indonesia saat ini, belum ada kepastian jadwal liga, pendapatan klub pun juga tidak tentu, asosiasi yang masih banyak kontroversi, mafia sepak bola, dll membuat manajemen mengkalkulasi ulang bagaimana klub tetap sehat dari sisi financial tapi tetap exist di persepak bolaan Indonesia tanpa ada masalah dan lebih maju.

Apa lagi sepakbola Indonesia masih banyak di gunakan alat untuk mencari dukungan kontestasi politik. Mungkin masih ingat ketika klub asal sumatera yang dikelola oleh oknum politik awalnya dihuni pemain dan pelatih top, dan ketika jagoan politiknya kalah klub nya juga ditinggal yang akhirnya degradasi.

Nampaknya pilihan manajemen kurang disosialisasi dan dimengerti oleh suporter. Khususnya kelompok grass rooted yang tahunya klub kesayangan ketika main hanya bondo nekat.. simpelnya, ketika nonton persebaya main modal nya nekat. Akhirnya malak, ga punya tiket, menjebol pintu stadion ngertinya menang dan harus menang bagaimanapun itu caranya. Apalagi melawan klub rival tetangga sebelah..

Persebaya sebagai salah satu klub sisa perserikatan, mempunyai sejarah panjang harusnya bisa keluar dari situasi ini. Momen ini sbnernya buat kita bercermin, bahwa langkah yang di tempuh manajemen untuk mengkalkulasi atau rasionalisasi perlu diapresiasi. Bung AZA membuktikan jargon Wani nya untuk menanggung semua konsekuensi dan akibat atas langkah yang di ambil. Memang langkah yang kurang populis, cuma ini yang di ambil AZA untuk persebaya.

Mengutip dari bung AZA, Jangan jangan kita ini memang terjebak di dalam lingkaran setan yang hanya muter-muter tanpa ada selesainya. Manajemen selalu dituntut menang oleh suporter, tidak boleh ada cela, sedikitpun. Ketika ada klub memperoleh hasil buruk, baik pelatih, manajer, pemain, manajemen diminta mundur seolah olah itu satu-satunya solusinya. Bung Tomy Wely dalam Channel Youtubenya “Gojek Bung Towel” menyampaikan istilah resultis dictatorship. Yang artinya menang adalah satu-satunya ukuran buat sepak bola Indonesia. Liga di indonesia belum ada standarisasi atau ukuran keberhasilan mengelola klub yang mungkin kita tahu nya kalau tim nya menangan dan juara itu sudah berhasil.

Padahal harusnya lebih dari itu. Keberhasilan tidak hanya di ukur dari menang dan juara. Harusnya ada ukuran lain selain menang, misalnya perolehan laba perusahaan, jumlah pemain yang di ambil timnas, tidak adanya tunggakan gaji kepada pemain dan official, pengembangan pemain muda, training center, stadion, medical, komersial dll.

Sebagai pendukung harusnya juga kita lebih rasional dalam mendukung tim, apapun langkah positif manajemen harus di dukung. Tapi manajemen juga harus punya komitmen, visi misi atau pun roadmap 5-10 tahun ke depan. Ada target yang harus dicapai tiap tahunnya.  Di sisi suporter juga seperti itu ada visi-misi 5-10 tahun ke depan. Juga harus ada target yang di capai. Selalu monitoring dan evaluasi tiap tahun.

Dari manajemen perbaikan dan suporter juga adanya perbaikan. Ga ada lagi kerusuhan, keonaran, penjarahan, korban materi dan nyawa cuma-cuma. Ga ada lagi cerita pemain pergi dari klub karena celotehan suporternya. Dan istilah gak ada leader just together dalam perkembangan sepak bola harusnya dikaji kembali karena dibutuhkan pemimpin untuk menyatukan dan mengorganisasikan suporter.

Nampaknya sepak bola kita belum sampai sana. Komitmen pengembangan sepak bola kita masih jangka pendek. Dari nilai investasi yang di tanam oleh investor atau pemilik klub, mungkin hanya berjalan 1-2 tahun yang mungkin alasan utamanya karena ketersediaan dana dan sifat investasinya pun coba-coba ataupun hibah kalau untung syukur kalau rugi ya udah. Dengan idealisme nya Bung AZA mencoba cara lain yang diterapkan di persebaya. Sepertinya metode yang dilakukannya belum sepenuhnya dipahami oleh suporter. Sulit memang, tapi bukan hal yang tidak mungkin. Kita tunggu siapa penerus dari bung AZA di Persebaya, akankah lebih baik atau malah tambah ambyar.. kemudian suporter menuntut evaluasi dan mundur.

Komentar Artikel

Iklan

No posts to display