Tiga Hal Yang Bisa Muncul Jika Laga Tanpa Penonton

Iklan

Beberapa portal berita dan isu-isu santer yang diberitakan media sosial kali ini membahas kelanjutan Liga 1 dan 2 yang sempat mandek dikarenakan tragedy kemanusian yang menewaskan ratusan supporter Arema di Kanjuruhan Malang setelah pertandingan Arema melawan Persebaya 01/10/2022.

Setelah sekian banyak investigasi dan beberapa orang-orang tertentu yang ditetapkan sebagai tersangka. Opsi pemilihan lanjutan liga dengan format tanpa penoton ini akan melahirkan polemic nantinya khususnya bagi kalangan supporter.

Berikut kami rangkum 3 polemik yang nantinya akan terjadi jika liga dibentuk system bubble dan tanpa penonton.

Pertama berkurangnya pemasukan klub dari tiket. Jelas ini adalah faktor utama klub yang nanitnya akan hilang, bayangkan saja laga home akan mendatangkan keuntungan lebih terhadap team-team untuk menjalankan roda bisnisnya.

Iklan

Sekalipun tiket bukan pacuan utama, namun jelas akan merugikan team tersendiri. Kita ambil contoh kasus ketika wabah corona, liga dilanjutkan dengan system bubble klub banyak yang terancam finansial krisis, disisi lain faktor sponsorship dan hak siar masih simpang siur dan masih dinilai rugi, namun saat itu semuanya masih bisa mewajarkan, dikarenakan ancaman wabah virus yang masih sulit untuk dicegah, namun kali ini kasusnya berbeda, dan jika system pembayaran Hak Siar khususnya masih simpang siur nampaknya akan menjadi masalah  tersendiribagi klub-klub nantinya.

BACA:  Melarang Bonek Datang, Melanggar Regulasi AFC

Kedua terciptanya isu-isu saling tuduh. Mungkin yang ini sedikit aneh, namun  liga yang dimainkan terpusat menciptkan sebuah tanda tanya besar bagi supporter klub sendiri, semisal mengapa harus kota itu? mengapa harus daerah itu yang ditunjuk?.

Belum lagi antisipasi lonjakan masa yang sewaktu-waktu bisa hadir di kota yang ditunjuk sebagai pelaksana, apalagi jika laga tersebut penuh dengan tensi tinggi. Pasti akan ada banyak masa yang merangsak masuk untuk mendukung tim kesayanganya secara langsung, lantas dengan bubble atau tanpa penonton ini akan mampu meredam tensi tersebut ?jawabanya belum juga.

Ketiga setiap jari telunjuk akan menunjuk Arema dan Aremania sebagai dalang tragedy kerusuhan ini masih menimbulkan duka dalam dunia supporter. Khususnya bagi mereka yang dekat terhadap korban, masih banyaknya duka dan dukungan yang terus mengalir untuk menguatkan khususnya Aremania.

BACA:  Opsi Buat Pemain Persebaya, Dipertahankan, Dilepas, atau Dipinjamkan?

Namun masih banyak isu dan pertanyaan di luar sana, seperti mengapa Arema tidak dihukum degradasi? Atau pengurangan point?
Namun karena hal ini PSSI memutuskan jika laga akan dilanjutkan tanpa penonton akan menimbulkan sebuah reaksi yang sama, Kan team kami nggak berbuat kerusuhan kenapa kami ikut dihukum? Sebuah pertanyaan yang akan jadi refleksi di  dalambenak para supporter belum lagi masalah hukum yang diterima Arema dirasa belum cukup adil bagi beberapa pihak dan beban Aremania yang ibarat sudah jatuh tertimpa tangga.

Sudah masih berduka harus  melihat sebuah aturan PSSI yang mereka awalnya sebagai korban menjadi pihak yang paling bersalah, terlepas apapun yang terjadi saat tragedy itu berlangsung.

Itulah beberapa polemik yang nantinya akan terjadi / diprediksi terjadi jika liga berjalan dengan system bubble, harusnya PSSI dan operator liga lebih bijak dan menimbang apa yang akan terjadi jika liga akan tetap dilanjutkan tanpa penonton.

 

Komentar Artikel

Iklan

No posts to display