Musim ini Persebaya megulang kembali drama yang pernah terjadi di musim-musim sebelumnya, drama yang melibatkan pemain, pelatih dan manajemen. Dan kami masih ingat betul bagaimana presiden Persebaya berjanji untuk mengembalikan Persebaya Berjaya sebelum menyentuh satu abad usianya. Inilah yang men-triger bonek, guna megingatkan manajemen untuk terus berbenah.
Di awal musim ini Persebaya dinahkodai oleh coach Edu Perez dengan beberapa gerbong asisten pelatih yang menjajikan dengan mengganti asisten lama yang musim sebelumnya membersamai Persebaya. Namun sayang kebersamaan dengan coach Edu sepertinya tak berjodoh. Menyisakan lima match di putaran pertama, coach Edu resmi berpamit meninggalkan Persebaya. Disisa match putaran pertama Persebaya dipimpin coach Uston dan sempat pula pelatih fisik coach Shin Sang Gyu menemani pemain berlaga.
Akhir Desember 2025, Persebaya resmi merilis pelatih kepala baru, kali ini yang direkrut pelatih yang bukan kaleng-kaleng sih. Pelatih yang pernah membawa PSM Makassar berjaya di musim 2022/2023, yess coach Bernardo Tavares. Pelatih ber-pasport Portugal ini membawa satu asisten pelatih kepercayaannya, Coach Paulo Renato Duarte. Kali ini saya pribadi merasa berbeda ketika coach Tavares resmi diperkenalkan Persebaya. Ada aura kuat sang pelatih yang akan membawa perubahan di Persebaya. Dan secara resmi coach Tavares di ikat dengan durasi dua setengah musim. Serta diberi kekuasaan penuh untuk memilih amunnisi tambahan di putaran kedua.
Debut coach Tavares melawan Malut United menjadi awal bukti bahwa sang pelatih perlahan mengubah wajah Persebaya sebelumnya. Bermain dengan tanpa penyerang utama atau false nine menambah rasa penasaran saya. Mau dibawa kemana nih Persebaya, gumamku dalam hati. Benar saja bermain dengan sabar dan kedisiplinan tinggi, kita mampu menumbangkan Malut United yang kata netizen calon kandidat juara musim ini.
Setelah menang meyakinkan melawan Malut United, Persebaya merilis pemain baru pilihan coach Tavares, ternyata ia telah lama jauh mengamati sang pemain. Yups, semua berasal dari Brasil. Bruno Paraiba berposisi Penyerang, Jefferson Silva dengan kaki kirinya di plot di kiri pertahanan, serta menambah satu pemain di sector bertahan yaitu Gustavo Fernandes.
Terbaru ada satu pemain ber-pasport Portugal akan berlabuh, yaitu Pedro Matos mantan pemain semen padang yang sudah lama diincar oleh coach Tavares. Sepertinya coach Tavares akan mengentalkan irama samba ala amerika latin. Yang musim sebelumnya Persebaya telah mencoba era Balkannya.
So, kita tunggu racikan instrumental yang tersaji pada Orkestra megah Bernama Persebaya.
Perlu kita rewind kebali ketika itu Persebaya di era 90 an hingga tahun 2000 an, kita pernah sukses dan berjodoh dengan banyak pemain amerika latin khususnya Brasil. Sebut saja Jackson F Tiago, Charlos De Mello, Justino Pinhiero, Danilo Fernando, Anderson Da Silva, Dan masih banyak pemain lainnya. Entah kenapa memang pemain dari negeri samba ini mayoritas berjodoh dengan Persebaya, bahkan menjadi legenda Persebaya, namun tak semua pemain Brasil mampu membawa juara. Ada juga pemain yang B aja, bahkan flop. Tapi itu tak banyak.
Layak dinanti sepak terjang dan aksi debutan dari pemain pilihan coach Tavares, saya pun
penasaran irama samba yang akan tersaji di Orkestra Persebaya. Dengan tempo dan birama seperti apa, dimulai dengan tangga nada apa.
Bayangkan, Single Bruno saja sudah sedikit memberi nada samba, apalagi ada double Bruno yang nantinya akan bermain dengan nada samba yang menggoda. Sepertinya bonek bonita akan sangat menanti irama samba dari setiap lini perpindahannya.
Berkolaborasi dengan irama Balkan yang kental akan genre gipsi nya. Dan disempurnakan oleh pemain lokal kita yang lihai dalam goyangan ngoseknya. Semoga bonek bonita mampu membendung rasa sabarnya, karena proses aransemen indah akan muncul dari ide-ide nada yang out of the box. Sama sama kita semua nanti aksi dirigen dari orchestra megah Persebaya.
Coach Tavares akan menggoyahkan tongkat kecil yang digenggamnya hingga muncul instrument megah Persebaya. Semoga kita semua berjodoh dengan musim ini hingga musim selanjutnya. Pemain, pelatih, menejemen, bahkan presiden klub pun bisa saja datang dan pergi. Tapi satu yang abadi, supporter akan terus mendampingi. Apa pun yang terjadi.
Berbicara soal irama dan nada ala samba, saya jadi ingat salah satu musisi favorit saya. Yess, mister Santana. Komposisi yang kental amerika latinnya jadi pingin saya dengarkan dengan segelas kopi panas Kapal Api Mix plus ubi hangat. Apalagi jika Persebaya bisa angkat piala, ulala amboi rasanya.
NEVER GIVE UP PERSEBAYAKU !! WANIII !!










