Yoshimi Ogawa: Media Memegang Peranan Penting dalam Sepak Bola Indonesia

Iklan

EJ – Puluhan jurnalis di Surabaya dan sekitarnya antusias mengikuti Workshop Laws of The Game yang digelar oleh Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dan didukung Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Sabtu (18/4).

Program yang digelar di ruang Studio Gedung U5 Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) Unesa tersebut menghadirkan narasumber Ketua Komite Wasit PSSI, Yoshimi Ogawa.

Selama dua jam lebih, para jurnalis yang sering meliput kompetisi sepak bola Indonesia dari kasta terbawah hingga teratas serta pertandingan timnas di semua level usia mendapatkan banyak wawasan baru terkait aturan-aturan perwasitan sepak bola terkini dari Ogawa.

Pengalaman panjang selama 30 tahun berkecimpung di dunia perwasitan membuat Ogawa seperti seorang master yang membagikan ilmu seputar Laws of The Game kepada para jurnalis. Oleh karena itu, pengetahuan yang ia bagikan sangat bernilai.

Iklan

Ogawa bercerita, Komite Wasit PSSI telah menjalankan edukasi dan pelatihan wasit secara berkesinambungan dari level grassroots hingga level tertinggi. Termasuk memastikan lingkungan kerja yang nyaman dan keselamatan wasit sehingga dapat bekerja dengan sebaik-baiknya.

“Namun, masih ada bentuk kekerasan terhadap perangkat pertandingan dari level amatir hingga tertinggi,” tegas Ogawa.

Pria kelahiran tahun 1959 itu menyebut dirinya tidak dapat memahami perspektif bahwa ketika tim kalah, yang disalahkan adalah wasit.

Normalnya, kata dia, mereka yang bekerja di perwasitan tidak menerima komplain. Namun, Ogawa mengubah pola pikir tersebut. Dia membuka ruang komunikasi dengan pihak klub, bahkan rajin mendatangi klub-klub.

“Salah satu tujuannya, kami ingin memperdalam pemahaman klub-klub tersebut terhadap perwasitan. Dari situ kami dapat wawasan tentang bagaimana sepak bola Indonesia berjalan,” jelasnya.

“Kadang interpretasi klub berbeda dengan Laws of The Game. Kami memberi umpan balik sesuai dengan Laws of The Game,” imbuhnya.

Bahkan, Komite Wasit PSSI kini memiliki “Refer System” yang memungkinkan klub yang ingin bertanya atau menyampaikan komplain setelah pertandingan dapat melakukannya melalui aplikasi tersebut, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris.

Adapun poin-poin komplain difokuskan pada empat hal, yakni gol atau tidak, penalti atau tidak, kartu merah langsung atau tidak, dan mistaken identity.

“Setahu kami, hanya Indonesia yang memakai sistem ini di ASEAN. Di Asia pun hanya sedikit negara yang menggunakannya,” terangnya.

Terkait media briefing, Ogawa menjelaskan bahwa kegiatan ini telah dijalankan sejak pertengahan 2023 di Jakarta. Dia menyebut di JFA (PSSI-nya Jepang) kegiatan ini juga dijalankan secara reguler.

Berkaitan dengan media briefing tersebut, Ogawa menyoroti pemberitaan di beberapa media terkait pertandingan sepak bola. Menurutnya, masih ada media yang menulis berita berdasarkan opini maupun interpretasi pribadi, meskipun beberapa artikel sudah benar dari sisi Laws of The Game.

Padahal, lanjut dia, pemberitaan yang ditulis para jurnalis dapat berdampak pada masyarakat.

“Itulah mengapa teman-teman media juga memegang peranan kunci dalam sepak bola di Indonesia. Kami hadir untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang Laws of The Game agar kita bersama-sama bisa mengembangkan sepak bola Indonesia,” terang Yoshimi Ogawa dengan suara tegas.

Tidak hanya menyampaikan paparan, acara ini juga berlangsung interaktif dengan komunikasi dua arah.

Utamanya ketika Ogawa memutarkan cuplikan video pertandingan dari BRI Super League maupun Pegadaian Championship, termasuk momen key match incident (KMI) seperti keputusan penalti, pelanggaran berujung kartu merah, hingga handball.

Ogawa kemudian mengajak para jurnalis untuk menganalisis insiden tersebut, apakah termasuk pelanggaran atau tidak serta apakah layak diberikan penalti. Singkatnya, para jurnalis mendapatkan wawasan penting mengenai Laws of The Game sepak bola.

Mewakili Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Wakil Dekan 1 Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan Unesa, Prof. Dr. Or. Gigih Siantoro, S.Pd., M.Pd., mengatakan Unesa sangat mendukung agenda workshop tersebut.

“Kami dengan senang hati mendukung agenda yang sangat positif ini. Banyak pengetahuan baru yang kami dapatkan. Unesa membuka diri apabila agenda ini akan dilaksanakan kembali,” ujar Gigih.

Para peserta juga menyatakan senang dapat mengikuti workshop tersebut.

“Acara workshop ini sangat penting bagi kami untuk memperbarui wawasan seputar Laws of The Game. Ada banyak wawasan yang saya dapatkan dari penjelasan Pak Ogawa,” ujar Shava dari suarasurabaya.net yang menjadi salah satu peserta workshop.

Setelah workshop selesai sekitar pukul 12.30, acara beralih ke Lapangan Sepak Bola Unesa pada sore harinya. Sebagian peserta workshop melanjutkan kegiatan dengan bermain fun football melawan tim sepak bola Unesa yang diperkuat marquee player Yunus Nusi (Sekjen PSSI) dan Gusti Randa (mantan Presiden Direktur PSS Sleman dan aktor senior).

Tim fun football Waras FC dan Unesa FC/Foto: Dokumentasi Waras FC

Fun football yang berlangsung dalam suasana ceria itu berakhir dengan keunggulan 5-2 untuk tim Unesa. Di mana gol pembuka dicetak oleh Sekjen PSSI Yunus Nusi pada babak pertama.

Sekjen PSSU Yunus Nusi dalam kawalan Oscar Baadila dari Emosijiwaku/Foto: Dokumentasi Waras FC

“Pertandingan silaturahmi seperti ini harus sering dilakukan. Selain menjaga kesehatan, juga menjalin dan menjaga persaudaraan,” ujar Yunus Nusi.

Komentar Artikel

Iklan

No posts to display