Bonek Kampung Kaliasin, Mencintai Persebaya Dengan Cara Berbeda

Anak-anak Kampung Kaliasin berfoto bersama di Bazar Ramadhan.

EJ – Woro-woro perayaan ulang tahun Persebaya yang ke-89 tahun ini hanya berselang beberapa hari bersamaan dengan gayengnya kami yang sedang mengadakan rapat Karang Taruna Kampung Kaliasin. Woro-woro untuk memasang banner atau spanduk di setiap kampung di Surabaya yang memang warganya mencintai Persebaya.

Saya dan Bayu, teman saya satu komunitas Bonek Campus, mempunyai pemikiran yang sama. Kebetulan di Kampung Kaliasin sedang dilaksanakan event Bazar Ramadhan dengan tema Kampung Lama Soerabaja Kaliasin sejak 17-19 Juni 2016. Kami kemudian menyampaikan masukan dari pusat Arek Bonek 1927 agar Kampung Kaliasin ikut membuat dan memasang banner ucapan ulang tahun untuk tim lokal kebanggaan kami. Hal ini mengingat Arek-Arek Kaliasin juga selalu update dan menyempatkan waktu untuk mbonek bareng, seperti Kampung Bonek pada umumnya.

18 Juni 2016, banner ucapan ulang tahun Persebaya sudah terpasang di depan gapura masjid samping Mall Tunjungan Plaza. Kami sepakat memakai t-shirt dan atribut Bonek saat pelaksanaan Bazar Ramadhan hari kedua. Alhamdulillah atas respon positif dan kekompakan panitia, semua memakai kaos Bonek selama acara. Mungkin ini terkesan biasa dan umum dilakukan.

Kami tidak bisa hadir dalam peringatan HUT Persebaya yang dirayakan teman-teman Bonek di depan Taman Mundu karena harus menunggu acara ini sampai selesai. Namun kami tetap memperingati dan larut dalam euforia perayaan meski hanya di dalam kampung. Antusias pengunjung dan pengisi tenant bazar pun beragam. Celetukan khas omongan warga kampung terdengar.

“Yo ngene lak Bonek iku ojok pas Persebaya main. Ulang tahun iku yo kompakan panitiae masio gak nyumet mercon warna warni koyok nang dalan-dalan,” omongan seorang bapak saat memaknai flare dan mercon kepada kami.

Selama tiga hari, kami yang mencintai Persebaya pun ikut mengisi tenant. Dengan seijin dan berkolaborasi dengan Bonek Campus, kami memamerkan artikel, foto skuad Persebaya, dan lettering art yang sempat ditampilkan saat Mahakarya Bonek Campus History of Persebaya. (kan gagal move on dari pameran itu soro ngene iki hahaha…)

Saya dan Bayu juga memamerkan beberapa jersey dan buku koleksi pribadi kami dengan harapan saat pengunjung memasuki area bazar, mereka tidak hanya lewat atau selfie dengan latar Persebaya. Namun, kami ingin mengajak pengunjung lebih mempunyai kepedulian dan kemauan untuk membaca buku dan artikel yang terpampang di sisi kanan kiri. Tujuannya agar Persebaya tidak hanya menjadi milik kami, tetapi juga mereka yang tidak paham bola dan yang tidak suka Bonek untuk perlahan-lahan mencintai dan ikut menjaga sejarah hebat Persebaya.

BACA:  Tak Dapat Ijin Kepolisian, Laga Persebaya-Arema Indonesia Batal

Ada kisah menarik yang saya temui. Saat saya sedang asyik mengobrol, beberapa anak kecil yang setiap tarawih bermain mercon tiba-tiba menghampiri booth kami. Mereka meminta foto bersama dengan latar banner Bonek. Ya, itu hanya permintaan anak kecil yang mungkin biasa. Tetapi kami mempunyai pendapat berbeda. Kami berharap mereka yang hanya tahu jika atribut hijau itu Bonek menjadi Bonek yang berwawasan. Mereka yang menganggap tim di Surabaya hanya Persebaya bisa memaknai apa tujuan menjadi Bonek. Mereka yang hanya familiar dengan nama Andik Vermansyah dan Evan Dimas menjadi generasi Bonek yang lebih baik. Anak-anak yang datang Stadion Tambaksari untuk nonton menjadi tahu tujuan ke stadion bukan sekedar menonton atau mbonek.

Jika kita menanamkan pemikiran untuk bangga menjadi warga Surabaya, yang beridentitas bonek, mendukung, dan merasa memiliki Persebaya, saya pikir saat besar nanti mereka akan jauh lebih memahami sejarah Persebaya. Mereka akan berjuang untuk Persebaya dan tetap menjadi bagian dari Surabaya seiring dinamika dan perubahan pada zamannya kelak. Kebanggaan mereka kepada Persebaya mungkin jauh lebih besar dibanding kebanggaan yang dimiliki Ibu Wali Kota.

Menanamkan rasa bangga dan mencintai Persebaya bisa dimulai dari skala kecil. Ketika satu keluarga adalah Bonek, maka kami juga ikut berperan mem-Bonek-kan Kaliasin.

“Ayo mbak mas ajaken awak dewe ndelok Persebaya karo gowo syal yo,” pinta anak-anak itu kepada kami.

Kami hanya mampu mengamini, seperti doa dan harapan seluruh Bonek, agar Persebaya cepat bangkit. Jangan terlelap dengan tidur panjangmu. Sejarah tidak dapat dibungkam saat mulut selalu berteriak, berucap, dan lantang membicarakan Persebaya. Perjalanan panjang ini akan terus berjalan seiring masih kuatnya kami mengawal Persebaya untuk berlaga kembali.

Meski berasal dari kampung, kami akan tetap mencintai Persebaya dengan cara yang berbeda. Wani!

Banner HUT Persebaya dipasang di Kampung Kaliasin.
Banner HUT Persebaya dipasang di Kampung Kaliasin.
Hiburan akustik di Bazar Kampung Kaliasin.
Hiburan akustik di Bazar Kampung Kaliasin.
Anak-anak Kampung Kaliasin.
Anak-anak Kampung Kaliasin.
Panitia acara Bazar Ramadhan Kampung Kaliasin.
Panitia acara Bazar Ramadhan Kampung Kaliasin.