PSIM Menang Atas Martapura FC, Ini Beberapa Hal yang Bisa Dipelajari

Starting eleven Martapura FC saat melawan PSIM Jogja. Martapura FC akan menjadi lawan Persebaya di pekan kedua Liga 2, Minggu (30/4). (Foto: Ervan Tria/EJ)

EJ – PSIM berhasil mengalahkan calon lawan Persebaya di pekan kedua Liga 2, Martapura FC dengan skor ketat 3-2. Keberhasilan Laskar Mataram menang atas Martapura FC tentu bisa menjadi pelajaran bagi Persebaya mengingat Minggu (30/4) nanti, Green Force akan melawat ke Stadion Demang Lehman kandang Martapura FC.

PSIM Gunakan Serangan Variatif untuk Membongkar Garis Pertahanan Rendah Martapura FC

Bermain di kandang lawan, Martapura FC menerapkan taktik deep defence line alias garis pertahanan rendah guna membendung serangan PSIM. Strategi yang digunakan Martapura FC ini hampir serupa dengan taktik yang diterapkan oleh Madiun Putra kala menahan imbang Persebaya di pekan pertama.

Alasan diterapkannya taktik pertahanan rendah oleh pelatih Martapura FC, Frans Sinatra Huwae, mungkin karena mereka melakoni laga tanda tandang. Namun, tentunya hasil melawan PSIM tetap bisa menjadi cerminan gaya main tim asal Kalimantan Selatan tersebut.

Kunci PSIM dalam mengalahkan Martapura FC adalah variasi serangan yang tak hanya mengandalkan serangan sayap saja. Gaya variatif PSIM dalam menghadapi Martapura FC pun bisa diadaptasi oleh Persebaya. Dua sayap PSIM, Rangga Muslim dan Dicky Prayoga memang dominan, namun lini tengah PSIM pun juga memiliki peran besar dalam memenangkan duel melawan Martapura. Dua double pivot PSIM yang dimainkan coach Erwan Hendarwanto, yakni Raymond Tauntu dan Pratama Gilang bermain baik dalam menguasai lini tengah.

Kerja keras Raymond dan Gilang, dibantu oleh Hendika Arga, dalam mendominasi lini tengah pun akhirnya memudahkan Rangga dan Dicky untuk menyuplai Engkus Kuswaha. Apiknya kerjasama di lini tengah PSIM pun diimbangi dengan rajinnya Rangga dan Dicky bertukar posisi untuk membingungkan bek-bek Martapura. Kredit terbesar tentu diberikan kepada Rangga Muslim. Pemain muda ini terlihat ada di mana-mana ketika PSIM memulai serangan.

Jika melihat materi pemain, Persebaya punya peluang untuk mengimbangi Martapura FC, dengan catatan pemain-pemain Persebaya harus meningkatkan kemampuan fisiknya. Karena Martapura FC esok akan main di kandang sendiri, kemungkinan besar Frans Sinatra Huwae tidak akan menerapkan pola pertahanan rendah.

Bermain di kandang, Martapura FC akan mengambil inisiatif serangan. Jika berkaca pada pertandingan melawan PSIM, serangan-serangan Martapura lebih banyak bersifat sporadis. Serangan Martapura lebih banyak dilakukan melalui dua winger mereka, Sandi Pratama dan Uko Wahyu. Dua winger ini akan banyak bergerak untuk mendukung Qischil Gandrum yang diplot sebagai penyerang tengah.

Pergerakan tiga pemain depan Martapura memang berpotensi menghadirkan bahaya bagi lini belakang Persebaya. Apabila lini belakang Persebaya bermain dengan standar seperti saat diimbangi Madiun Putra, maka Persebaya bisa saja gagal meraih poin. Rachmat Latief terlihat belum menemukan peak  performance sehingga kerap kalah jika diajak adu sprint striker lawan. Nama M. Syaifudin bisa dipilih untuk menjadi starter, menemani Andri Muliadi. Syaifudin yang punya tekel bagus dan kuat duel udara sudah memiliki koneksi yang apik dalam berduet dengan Andri. Hal tersebut sudah ia tunjukkan selama pramusim, dimana Syaifudin lebih banyak bermain sebagai bek tengah.

Salah satu kelemahan Persebaya saat ditahan imbang Madiun Putra adalah buruknya koordinasi lini belakang. Berkali-kali, dua bek tengah Green Force harus langsung head to head dengan striker Madiun Putra saat terjadi serangan balik. Hal ini terjadi lantaran tidak adanya filter di lini tengah serta terlalu agresifnya Abdul Azis (bek kiri) dalam membantu serangan.

Ketika ditahan 1-1 oleh Madiun Putra, nampak lini tengah Persebaya yang diisi oleh Misbakhus Solikin dan Muhammad Hidayat tidak berfungsi maksimal. Hidayat kalah telak saat Madiun Putra melakukan serangan balik, yang akhirnya membuat Rachmat Latief dan Andri Muliadi kocar-kacir. Ini masih diperparah dengan Abdul Azis yang kerap terlambat turun membantu pertahanan sehingga Nanang Wahyudi dari Madiun Putra “menang banyak” pada laga kemarin.

Dengan Martapura FC diprediksi akan mengambil inisiatif serangan, sepertinya memang coach Iwan harus mengubah komposisi lini belakangnya. Selain sektor pertahanan, duet double pivot juga mendapatkan rapor buruk. Sebagai solusi, Sidik Saimima bisa dipanggil untuk mengisi satu pos di lini tengah, mendampingi Misbakhus Solikin. Sidik yang bertipe “gelandang angkut air” bisa digunakan sebagai filter untuk membendung serangan Martapura FC. Sementara Solikin bisa dimaksimalkan untuk men-delay bola dan mem-build up serangan.

Maksimalkan Kecepatan Sayap dan Waspadai Faktor Non Teknis

Ketika kalah dari PSIM, tiga gol yang bersarang ke gawang Martapura FC berasal dari area sayap. Gol pertama PSIM yang dicetak Engkus Kuswaha berasal dari umpan lambung Rangga Musilm yang melakukan serangan dari sektor kiri (sektor kanan pertahanan Martapura FC). Kemudian gol kedua PSIM yang diceploskan oleh Dicky Prayoga pun juga berasal dari serangan sayap. Dicky yang melakukan serangan solo di sayap kanan berhasil lolos dari hadangan bek Martapura kemudian melakukan tendangan lob yang menghujam gawang Martapura. Pun demikian dengan gol  ketiga PSIM, yang juga diawali oleh pergerakan Rangga di sektor sayap.

Tiga gol dari pola serangan sayap yang dicetak PSIM menunjukkan bukti bahwa Martapura FC cukup kewalahan jika menerima serangan dari winger-winger lawan. Celah inilah yang bisa dimanfaatkan oleh Persebaya. Oktafianus Ferndando bisa dimaksimalkan untuk mencecar pertahanan sebelah kiri Martapura FC. Sementara di area kanan, nama Thaufan Hidayat bisa dicoba setelah dicadangkan di pertandingan pertama. Thaufan yang punya umpan bagus dan tidak selfish akan sangat berguna dalam membongkar pertahanan Martapura FC.

Namun dari semua taktik yang disiapkan Persebaya untuk menghadapi Martapura FC, akan tidak ada artinya jika sudah menemui satu masalah, yakni masalah non teknis. Masalah non teknis pertama yang harus diwaspadai pemain-pemain Persebaya adalah provokasi pemain-pemain Martapura. Di laga melawan PSIM kemarin, dalam beberapa momen, pemain-pemain Martapura FC sukses memancing emosi lawan. Hasilnya, di menit-menit terakhir Martapura FC berhasil mencuri gol, setelah pemain-pemain PSIM lengah. Jadi, pemain Persebaya yang punya “tensi tinggi” seperti Rendi Irwan harus pandai-pandai menahan emosi. Selain masalah provokasi, faktor non teknis yang harus diwaspadai adalah fakta bahwa Martapura FC akan bermain di kandang. Bukan bermaksud untuk berprasangka buruk, namun Martapura FC dikenal sebagai salah satu tim yang kerap mendaptkan “keuntungan” saat bermain di kandang sendiri. Satu lagi, jangan sampai Iwan Setiawan terlalu banyak mengumbar psywar yang akhirnya malah menjadi bumerang bagi tim sendiri. Memompa semangat tim memang perlu, tapi lakukanlah dengan cara-cara elegan tanpa harus mengundang kontroversi yang malah merugikan tim. Martapura FC memang kuat di kandang, tapi bukan berarti tak bisa dikalahkan. Tandang untuk tiga poin pertama? Jelas wani! (rvn)

Facebook Comments