Pilihan Formasi Persebaya Pasca Datangnya Rishadi Fauzi dan Mardiono

Rishadi Fauzi dan Mardiono. (Foto: Iwan Iwe/EJ)

EJ – Jelang ditutupnya pendaftaran pemain oleh PT. Liga Indonesia Baru (LIB) beberapa pekan lalu, Persebaya berhasil menambah dua tenaga baru untuk memperkuat tim. Dua pemain yang didatangkan manajemen Bajul Ijo adalah Rishadi Fauzi dan Mardiono. Rishadi Fauzi adalah seorang penyerang yang sebelumnya membela Madura United. Selain MU, Rishadi juga pernah membela Persita Tangerang dan Sriwijaya FC. Sementara Mardiono yang berposisi second striker adalah pemain yang dipinjam dari Semen Padang FC.

Hadirnya Rishadi dan Mardiono memang diwaktu yang tepat karena sebelumnya Persebaya dihinggapi krisis striker yang membuat lini depan mandul. Rahmat Afandi yang diharapkan menjadi sumber gol Green Force malah menderita cedera berkepanjangan hingga akhirnya dicoret dari tim. Kedatangan Rishadi dan Mardiono yang merupakan penyerang berbeda tipe akan menambah opsi Persebaya di lini depan, setelah sebelumnya sudah ada Irfan Jaya dan Yogi Novrian. Dengan adanya dua pemain baru di sektor penyerangan, maka Persebaya pun memiliki beberapa opsi strategi untuk menambah daya gedor di lini depan.

Tetap Menggunakan 4-2-3-1 dengan Rishadi Fauzi Sebagai Penyerang Tunggal

Masuknya Rishadi Fauzi yang bertipe striker murni akan membuat Persebaya memiliki satu target man yang bisa ditempatkan sendirian dalam pakem 4-2-3-1. Rishadi adalah seorang penyerang “nomor 9” yang tugasnya menyelesaikan serangan. Didukung postur tinggi dan tegap, Rishadi sangat unggul dalam bola-bola atas dan kuat dalam berduel fisik dengan bek lawan. Kemampuan finishing Rishadi pun sudah ia tunjukkan dalam pertandingan uji coba internal melawan PS Kota Pahlawan, dimana ia mencetak satu gol lewat sundulan kepala dari dalam kotak penalti lawan.

Kemampuan Rishadi sebagai striker murni memang cukup mumpuni. Ketika membela Persita Tangerang, rasio gol pemain berusia 26 tahun itu pun juga cukup tinggi dengan mencetak 30 gol dari 50 penampilan. Meski sempat kehilangan ketajaman saat membela Sriwijaya FC dan Madura United, namun kala itu menurunnya produktivitas Rishadi lebih banyak disebabkan oleh minimnya menit bermain yang ia dapatkan.

Tak hanya piawai dalam memanfaatkan peluang di depan gawang lawan, Rishadi juga memiki kemampuan ball keeping yang cukup baik. Ia pun juga bisa berperan sebagai wall pass kepada pemain lain yang berada di belakangnya. Kemampaun Rishadi sebagai tembok pemantul di lini depan pun akan sangat berguna untuk membuka ruang bagi Rendi Irwan ataupun Oktafianus Fernando yang kerap muncul dari lini kedua.

Sementara itu, Mardiono yang lebih berkarakter sebagai second striker bisa dimaksimalkan sebagai supersub. Nono, sapaan akrab Mardiono, merupakan tipe penyerang bayangan yang mengandalkan kecepatan dan ngotot dalam mengejar bola. Kemampuan itu sudah Nono tunjukkan kala memperkuat Persikad Depok. Umpan-umpan daerah dari Misbakhus Solikin akan sangat berbahaya jika tepat tertuju pada Nono. Kemampuan Nono pun akan menjadi sangat berguna jika lini depan Persebaya mengalami situasi deadlock dan membutuhkan pemain yang bisa memecah konsentrasi pertahanan lawan.

Persebaya 1-4-2-3-1

Kembali ke Pola Klasik 3-5-2 dengan Menduetkan Rishadi dan Penyerang Lain

Formasi 3-5-2 pernah sangat identik dengan sepakbola Indonesia pada masa lalu. Di era awal Liga Indonesia, formasi ini menjadi formasi paling digemari oleh klub-klub di Indonesia, tak terkecuali Persebaya. Berkat formasi yang identik dengan satu libero dan dua wing back handal tersebut, Persebaya pernah melahirkan pemain-pemain hebat macam Aji Santoso, Anang Ma’ruf, Mursyid Efendi, hingga Mat Halil.

BACA:  Tanpa Rian, Bagaimana Komposisi Bek Tengah Persebaya?

Dua gelar juara Liga Indonesia terakhir yang diraih Persebaya pun juga “lahir” berkat formasi 3-5-2. Persebaya meraih gelar juara Ligina III 1997 dan Liga Indonesia musim 2004 dengan mengandalkan formasi 3-5-2. Meski secara level skuad Persebaya musim 2017 belum bisa disamakan dengan dua skuad Dream Team 1997 dan 2004, namun tidak ada salahnya bila Persebaya angkatan 2017 mengambil pelajaran dari pola permainan dan gaya main para legenda tersebut. Apalagi, saat ini Persebaya memiliki materi pemain yang bisa dimaksimalkan dalam formasi 3-5-2, terutama setelah masuknya dua penyerang baru Rishadi Fauzi dan Mardiono.

Di lini depan, duet penyerang bisa diisi oleh Rishadi Fauzi sebagai striker utama, berpasangan dengan penyerang lain yang berbeda tipe. Sebagai pendamping Rishadi, pilihannya ada Rendi Irwan, Irfan Jaya atau Mardiono. Meski dalam beberapa laga terakhir sering dimainkan sebagai gelandang serang, namun Rendi yang memiliki kecepatan bisa disandingkan untuk mengimbangi gerak Rishadi. Sementara Irfan dan Nono yang bertipe breaker bisa juga dijadikan sebagai pendamping Rishadi. Opsi lain, Oktafianus Fernando yang punya eksplosivitas bisa didorong lebih ke depan.

Sedikit kendala jika memainkan formasi 3-5-2 adalah tidak adanya pemain bertipe gelandang bertahan murni di dalam skuad Persebaya saat ini. Di dalam skuad ’97 dan ’04, saat itu pemain-pemain Persebaya bisa bermain nyaman karena memiliki satu gelandang tengah yang sangat kuat dalam bertahan dan mampu melindungi tiga bek. Persebaya ’97 punya (Alm.) Eri Irianto, sedangkan Persebaya ’04 punya Ricardo Ramos. Persebaya ’04 bahkan memiliki opsi DMF lebih lengkap karena Leonardo Gutierrez dan Chairil “Pace” Anwar bisa bermain sebagai gelandang bertahan.

Di dalam tim 2017, sosok yang sebenarnya bisa meneruskan tugas (Alm.) Eri dan Ricardo Ramos adalah gelandang muda Sidik Saimima. Dari sekian banyak gelandang tengah yang dimiliki Persebaya, Saimima bisa dibilang adalah gelandang dengan naluri bertahan yang paling tinggi. Penempatan tiga gelandang tengah, bisa diisi oleh Saimima, Misbakhus Solikin dan Ridwan Awaludin atau menarik Rendi ke tengah, akan membuat lini belakang Persebaya lebih terlindungi. Tiga gelandang tengah ini akan berperan sebagai filter agar bek-bek Persebaya tidak langsung head-to-head dengan penyerang lawan saat terjadi serangan balik.

Selain itu, dengan memainkan dua wing back dan tiga bek maka skema pertahanan Persebaya bisa menjadi lebih rapi. Dua wing back yang bisa diisi oleh Abdul Azis (LWB) dan Kurniawan Karman (RWB) akan lebih berorientasi dalam me-marking lawan (man marking). Sementara tiga bek Rachmat Latief, M. Syaifudin dan Andri Muliadi akan bertugas dalam skema zonal marking. Namun jika ingin menggunakan skema 3-5-2, pemain Persebaya di semua lini dituntut untuk lebih pandai dalam berkomunikasi dan berkoordinasi di atas lapangan, selain tentunya harus meningkatkan stamina. (rvn)

Persebaya 1-3-5-2
Facebook Comments