5 Pemain Asing yang Sangat Dicintai Bonek

mario
Mario Karlovic dengan kue ulang tahun saat pertandingan IPL di Gelora Bung Tomo. (Foto: antaranews.com)
Iklan

Meski terkenal sebagai salah satu tim yang menghasilkan banyak pemain lokal berkualitas dari kompetisi internalnya, Persebaya juga menggunakan pemain-pemain impor untuk meningkatkan daya saing dengan tim-tim lainnya yang mengggunakan pemain asing.

Tiap tahunnya, sejak tim-tim Perserikatan dan Galatama melebur dalam format Liga Indonesia, Persebaya selalu dihuni oleh pemain asing yang datang dari lintas benua, baik Eropa, Afrika, Amerika, hingga Asia sendiri.

Kehadiran pemain asing diyakini dapat memberikan efek positif yakni selain transfer ilmu ke pemain-pemain lokal, meningkatkan daya saing kompetisi, hingga menarik animo penonton.

Berikut saya rangkum lima pemain asing yang pernah membela Persebaya dan amat dicintai oleh Bonek, sebutan suporter Persebaya:

Iklan
jacksen
Jacksen F Tiago. (Foto: beritasatu.com)

1. Jacksen Ferreira Tiago  

Rasanya mustahil tidak memasukkan Jacksen dalam daftar pemain asing yang dicintai oleh Bonek. Hal ini didasarkan pada fakta pria berkebangsaan Brazil ini berhasil membantu Persebaya meraih titel juara Liga Indonesia pada musim 1996/1997 setelah mengandaskan perlawanan Bandung Raya di final dengan skor 3-1.

Saat itu Jacksen juga turut menyumbangkan salah satu gol bagi Green Force di pertandingan yang digelar di Senayan tersebut. Di musim itu juga, Jacksen berhasil menyabet gelar pencetak gol terbanyak dengan torehan 26 gol.

Jacksen kembali berhasil mengantarkan Persebaya meraih juara Liga Indonesia di tahun 2004. Bedanya, jika di tahun 1997 Jacksen berperan sebagai pemain, kali ini ia menyandang status sebagai juru racik kesebelasan yang bermarkas di Karang Gayam itu.

Menggantikan M Zein Al-Haddad yang berhasil membawa Persebaya promosi ke Divisi Utama (kasta tertinggi sepakbola Indonesia saat itu), Jacksen yang mengawali karir kepelatihannya di Assyabab ini dipercaya oleh Bambang DH (ketum Persebaya saat itu) untuk menukangi Persebaya.

Kepercayaan itu tak disia-siakan oleh pelatih yang gemar makan Rawon itu. Kesebelasan Bajul Ijo berhasil diantarnya menjadi puncak kelasemen Liga Indonesia dan berhak atas trofi Piala Presiden.

danilo
Danilo Fernando. (Foto: mediasepakbola.co)

2. Danilo Fernando

Danilo Fernando direkrut Persebaya di tahun 2004 setelah di musim sebelumnya berhasil tampil memikat bersama Petrokimia Putra Gresik. Tak butuh waktu lama bagi Bonek untuk menaruh hati bagi pemain berkebangsaan Brazil ini.

Gaya mainnya yang ngotot nan skillfull ala pemain Amerika Latin, membuat Danilo benar-benar menjadi andalan lini tengah Persebaya. Bermodalkan tendangan geledeknya, acapkali pemain yang mengenakan nomer punggung 12 saat ber-jersey Persebaya ini berhasil menyarangkan gol baik dari luar kotak penalti hingga tendangan bebas.

Salah satu gol terpentingnya adalah saat menang melawan Persija di pertandingan terakhir Liga Indonesia 2004. Melewati dua pemain lawan, Danilo melepaskan tendangan keras yang berhasil merobek sisi kanan jala gawang Samsidar, kiper Persija saat itu.

Dengan kemenangan tersebut, Persebaya menahbiskan diri menjadi tim pertama yang memenangkan gelar juara Liga Indonesia sebanyak dua kali.

Danilo Fernando bermain dua musim di Persebaya.

Setelah mempersembahkan gelar juara di musim pertamanya, ia juga berhasil mengantarkan Persebaya mencapai babak 8 besar di musim berikutnya.

Di tahun 2006, karena manajemen Persebaya yang dinilai tak lagi ambisius, Danilo memutuskan hengkang ke Persik Kediri. Saat ini pemain yang semasa bermain Persebaya mendapat julukan ‘Ajaay’ ini telah pensiun sebagai pemain sepakbola dan sedang berkonsenterasi mengembangkan bisnis kulinernya.

Leonardo Gutierrez
Leonardo Gutierrez

3. Leonardo Gutierrez

Pemain berkebangsaan Chile ini cukup lama membela Persebaya. Tercatat empat musim pemain yang berposisi asli sebagai stopper ini membela Bajul Ijo. Musim perdana Leonardo Gutierrez adalah saat Persebaya bermain di Divisi Satu di tahun 2003. Selang satu musim, ia berhasil mempromosikan Persebaya ke Divisi Utama dan menjadi satu-satunya pemain asing yang dipertahankan oleh manajemen Persebaya.

Di musim berikutnya ia juga berhasil mengantarkan Persebaya menjadi kampiun di tahun 2004.

Gaya mainnya yang lugas dan perawakannya yang tinggi besar dengan rambut panjang yang dikuncir membuatnya menjadi salah satu bek yang ditakuti oleh para penyerang lawan.

Leo juga termasuk pemain multi-fungsi dengan kemampuan bertahan dan long-passing-nya yang baik, pemain yang semasa berada di Surabaya lebih suka mengendarai motor bebek dibanding mobil ini sangat fasih memerankan posisi gelandang bertahan.

zeng
Zeng Cheng. (Foto: tribunnews.com)

4. Zeng Cheng

Ditinggal kiper utama saat itu, Hendro Kartiko, yang hengkang ke Persija di musim 2005, manajemen Persebaya memutuskan untuk mendatangkan Zeng Cheng. Tak banyak rekam jejak mengenai Zeng Cheng saat datang karena memang kiper berkebangsaan Tiongkok ini datang di usia yang masih sangat belia yakni 18 tahun.

Zeng Cheng langsung menaruh perhatian para Bonek selain karena performa apiknya dalam menjaga gawang Green Force, Zeng Cheng juga berparas cukup menawan.

Putih, tinggi, hidung mancung, rambut panjang yang diwarnai ala pemeran utama serial pendekar Tiongkok ini sanggup memancing para Bonita (sebutan Bonek Wanita) datang langsung ke Stadion Gelora 10 November untuk menyaksikan aksiya secara langsung.

Tak hanya kaum hawa, Zeng Cheng juga berhasil menarik animo para warga Surabaya keturunan Tionghoa yang untuk turut serta hadir langsung di stadion.

Zeng Cheng hanya bertahan satu musim saja di Persebaya. Di tahun 2006, ia kembali ke negaranya dan membela klub lokal di sana. Saat ini Zeng Cheng membela salah satu klub elit di Tiongkok, Guangzhou Evergrande, dengan torehan 3 medali juara China Super League dan 2 medali juara Asian Champions League.

Marcello Lippi pernah berujar bahwa ia sangat mengagumi talenta Zeng Cheng dan menyebut bahwa mendatangkan Zeng Cheng dari Henan Jianye ke Guangzhou Evergrande adalah salah satu transfer terbaiknya di Negeri Bambu itu.

mario
Mario Karlovic. (Foto: bola.net)

5. Mario Karlovic

Mario Karlovic datang ke Persebaya saat tim yang lahir di tahun 1927 itu berlaga di tahun pertama kompetisi Indonesian Premier League (IPL). Pemain yang berjuluk Super Mario ini memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Bonek. Ia memiliki kebiasaan yakni saat mencetak gol, ia selalu merayakan golnya dengan berselebrasi bersama para Bonek.

Masih teringat jelas saat ia mencetak gol perdananya bagi Persebaya saat berhasil menceploskan bola melalui tendangan bebas ke gawang PSM. Saat itu juga ia berlari ke tribun timur Stadion Gelora 10 November, merayakan golnya bersama Bonek dengan memanjat pagar pembatas suporter.

Hal lain yang membuat Mario begitu dicintai oleh Bonek adalah saat ia turut serta memberi suara dukungan terhadap Persebaya saat tim tersebut dikebiri dan dizolimi oleh federasi.

You Can’t Buy History, History Can Only Be Made”.

Quote yang sangat melegenda sampai saat ini itu adalah bentuk ketidaksetujuannya saat mengetahui klub yang saat itu ia bela dikebiri oleh federasi. Saat ini Mario berlaga di kompetisi teratas Malaysia Super League bersama ATM dan masih sering meng-upload foto-fotonya saat berseragam Persebaya dulu di akun media sosialnya. Itu merupakan bentuk kerinduannya terhadap salah satu klub tertua di Indonesia itu.

We miss you too, Mario!

Komentar Artikel

Iklan

No posts to display