Isabella Angelita, Mendukung Persebaya dari Bundesliga

angelita
Foto: kusukasuka.com
Iklan

Slogan Bonek Tidak Di mana-mana Tetapi Ada di Mana-mana cukup mewakili pendukung Persebaya yang basis massanya memang tidak hanya ada di Surabaya. Bahkan ada yang di luar Indonesia. Salah satunya adalah Isabella Angelita Jaya, yang akrab dipanggil Bela.

Gadis cantik ini merupakan penggemar Persebaya sejak SMP kelas 2, sekitar tahun 2007. Dan kini Bela sedang berjuang menyelesaikan kuliah di kampus Hochschule Hannover, Jerman, jurusan Economic Business Studies.

Ketika dihubungi Emosijiwaku.com, Bela bercerita tentang awal suka sepak Bola dan Persebaya. ”Dimulai dari lingkungan keluarga yang memang suka sepak bola, jadi ya akrab dengan sepak bola, lalu mulai fokus dukung Persebaya, ketika datang ke acara yang ada stand suporter Persebaya, saya datangi dan mereka mengajak menonton bareng Persebaya,” tutur Bela.

I said “Somebody should do something about that.” Then I realized I am somebody. -Lily Tomlin

A photo posted by Isabella Angelita (@isabellangelita) on

Iklan

Bela mengaku sangat menikmati debut menonton Persebaya secara langsung di stadion. Padahal, saat itu dia tidak diizinkan orang tua. Tapi, Bela tetap semangat. Apalagi, dia mendapat tugas untuk memotret arek-arek Bonek.

“Sulit diungkapkan perasaan saya wak tu itu. Pokoknya, waw!” katanya.

Ada pengalaman menarik dan cukup berkesan ketika mendukung Persebaya. Bela pernah didaulat menjadi dirijen dadakan di tribun papan skor. Sebab, dirijen tidak ada saat itu. Bela kaget bukan buatan.

“Tenyata tidak mudah menjadi seroang dirjen,” katanya lantas tertawa.

Jika “prestasi” Bonek adalah kebanggaan mendukung Persebaya di luar kota Surabaya, Bela juga mempunyai “Prestasi” tersendiri. Yakni, foto-foto Persebaya dan Bonek dipamerkan pada acara ultah Persebaya. Waktu itu, foto dia dipamerkan di Balai Pemuda saat acara ultah Persebaya. “Seingat saya Ultah Persebaya ke 84,” katanya.

Mbonek ke Jerman

Pada tahun 2011, Bela merantau ke Jerman untuk kuliah. Akibatnya, dia kurang update dengan perkembangan Persebaya. Namun, info tentang dualisme Persebaya sampai di negeri panser tersebut. Bela mendapatkan info dari teman-teman Bonek di Surabaya.

“Saya sedih ketika mendengar Persebaya pecah (dualisme), dan perpeceahan tersebut juga berdampak terpecahnya Bonek. Andai balik Indonesia (Surabaya red), saya akan bingung berteman dengan Bonek yang mana, karena saya dengar juga antar Bonek sempat terjadi saling serang gara-gara dualisme Persebaya,” ungkap Bela.

Bagaimana perbedaan suporter Indonesia dan Jerman? Apalagi, Bela kerap menonton pertandingan klub seperti Hannover, Bayer Muenchen, dan Dortmund.

“Kalau dari segi militan, bisa dikatakan sama. Semisal Hannover jadi tuan rumah, pendukung Hannover akan menghijaukan tribun, jika Munchen ya dibuat merah isi tribun atau Dortmund akan dibuat kuning,” tuturnya. 

You have power over your mind – not outside events. Realize this, and you will find strength. -Marcus Aurelius, Meditations A photo posted by Isabella Angelita (@isabellangelita) on

Intinya, kata Bela, sama seperti suporter dalam negeri. Loyalitas terhadap klub yang didukung tidak diragukan. Yang membedakan adalah di Jerman, supporter tim tamu disambut seperti saudara, jarang ada bentrok supporter. Rivalitas mereka sekadar pertandingan. Apapun hasilnya mereka akan terima.

Rasa rindu mendukung Persebaya dan Mbonek sangat dirasakan Bela. Dia juga kangen dengan guyonan dan nyanyi bareng di tribun. “Saya kangen semuanya,” katanya.

Bela berharap Bonek kembali bersatu. Tidak terpecah-pecah seperti sekarang. Selain itu, dia ingin Persebaya kembali berjaya. Sedangkan untuk temen-temen Bonita, dia berharap mereka bisa menjaga diri ketika mendukung. “Dulu terkadang saya melihat Bonita kerap dilecehkan di stadion, semoga sekarang tidak. Gawe arek-arek Bonek tolong dijaga teman-teman Bonita dan semoga semakin dewasa,” katanya.

Bela adalah salah satu contoh pendukung Persebaya, yang tidak lupa dengan bahasa Suroboyoan. Meski berada di luar negeri, ketika ngobrol dengan Emosijiwaku.com, Bela mengobrol dengan bahasa Suroboyan seperti cak, cuk dsb.

Dia bilang, setiap kali bertemu dengan warga Indonesia, Bela selalu memperkenalkan diri berasal dari Surabaya. Biasanya mereka akan bertanya tentang Persebaya. Hal ini tentu menjadi kebanggan tersendiri bagi seorang Bonita, meski berada di luar negeri masih ada yang bertanya tentang Persebaya.

Komentar Artikel

Iklan

No posts to display