Pemecatan Iwan, Bukti Keberhasilan People Power-nya Bonek

Spanduk tuntutan Iwan Out dibawa Bonek. Foto: Joko Kristiono/EJ
Iklan

Drama itu sudah menemui ujung ceritanya. Iwan Setiawan yang selama beberapa pekan terakhir jadi sorotan dan seakan menjadi public enemy bagi Bonek karena sikap provokatifnya di Martapura diputus kontrak oleh manajemen Persebaya. Ini merupakan jawaban bagi mayoritas tuntutan Bonek untuk melengserkan Iwan dari kursi kepelatihan.

Acungan jempol patut diberikan kepada manajemen yang merespon tuntutan ini karena kita tahu manajemen akan memberikan kompensasi yang tidak sedikit jika memutus kontrak Iwan di tengah perjalanan kompetisi.

Ini bisa jadi sebuah blunder dan masalah jika manajemen tidak segera menemukan pengganti Iwan karena performa tim yang lagi menanjak. Tentunya manajemen tidak mau kehilangan momentum itu.

Kembali ke istilah people power, you can’t stop it. Kisah perseteruan Bonek-Iwan seakan menjadi kemenangan bagi Bonek untuk kesekian kalinya setelah manajemen memilih memecat Iwan.

Iklan

Kita flashback sejenak beberapa tahun silam ketika PSSI lebih memilih mengakui Persebaya PT MMIB sebagai Persebaya yang asli. Begitu luar biasanya resistensi Bonek terhadap kehadiran tim ini sehingga mereka menggunakan cara boikot (people power) untuk menunjukkan perlawanan mereka terhadap pemangku kekuasaan waktu itu. Karena cara ini dipandang lebih efektif untuk mengintervensi kebijakan yang tidak berpihak kepada mereka

Kejadian selanjutnya ketika “mengusir ” Saleh Ismail Mukadar dan Cholid Goromah dari jajaran manajemen Persebaya waktu itu dengan alasan Persebaya tidak ada prestasi di era kepengurusan mereka dan justru Persebaya terbelit hutang. Namun dengan bebalnya Saleh dan Cholid tidak mau mundur karena beralasan mereka memiliki saham di Persebaya. Sekali lagi, Bonek menggunakan people powernya agar keduanya melepas saham mayoritasnya sehingga investor baru bisa masuk

Yakinlah manajemen, Bonek hanya menginginkan yang terbaik untuk Persebaya karena membangkitkan Persebaya dari “tidur panjangnya” butuh proses dan perjuangan yang sangat panjang.

Tak salah jika ada anggapan Kota Surabaya adalah kota pejuang bukan kota pecundang. Selalu kritis dengan ketidak berpihakan dan kata-kata tersebut telah dibuktikan Bonek. (*)

(*) Eka Prasetya Surya, Mahasiswa UB

Komentar Artikel

Iklan

No posts to display