Sunnah, Diajak Sang Ayah ke Stadion Saat Masyarakat Memandang Wanita Tabu Nonton Persebaya

58
Bonita Sejak Kecil. Foto: Machsunnah
374Shares

EJ – Istilah Bonek yang dulu bermakna negatif di benak masyarakat, tentu perlahan berubah di era yang sekarang. Hal tersebut dirasakan oleh Bonita ini. Gemar menonton Persebaya sejak kecil, Nurul Machsunnah adalah Bonita yang setia mendukung Green Force.

Berawal pada 2002, perempuan yang akrab disapa Sunnah itu diajak sang Ayah untuk melihat laga Persebaya di stadion Gelora 10 Nopember. Memiliki Ayah seorang Bonek membuat Sunnah diperkenalkan ke dunia sepak bola, yaitu Persebaya. Meskipun awalnya sang Ibu tidak setuju anak perempuannya diajak untuk nonton, sang Ayah mencoba untuk membujuk agar Sunnah bisa mbonek untuk pertama kalinya.

Bonita Sejak Kecil. Foto: Machsunnah

“Ketika itu ada hal lucu sih waktu masih SD. Aku dijemput sama Ayah Ibu buat diizinkan ke guru aku, bilangnya izin karena ada acara tapi sebenernya bohong. Padahal nonton Persebaya,” jelasnya sambil mengingat. “Itu aku sudah pakai baju Persebaya terus dirangkepin baju sekolah,” imbuhnya.

Sang Ayah dianggap oleh orang-orang sekitar sedikit ngawur karena anak perempuannya diajak menonton Persebaya. “Karena dulu di pikiran masyarakat terutama Surabaya sendiri menganggap Bonek itu anarkis, urakan, dan lain lain. Wajar dulu belum ada istilah Bonita, yang ada cuman Bonek. Karena wanita masih dianggap tabu kala itu jika menonton Persebaya,” ungkapnya

Bonita Sejak Kecil. Foto: Machsunnah

Bonita yang sekarang berusia 24 tahun itu dulu selalu diajak sang Ayah duduk di bangku VIP, kadang-kadang di Utama. Padahal dia selalu ingin duduk di tribun ekonomi karena dia merasa melihat para Bonek di sana bisa jingkrak-jingkrak dan bernyanyi sepanjang pertandingan.

Wanita yang mengidolakan Bejo Sugiantoro itu mengaku ketika kecil tak pernah berpakaian seperti anak-anak perempuan pada umumnya. “Ayah aku dulu pingin anak laki-laki, tapi ternyata perempuan dan aku dulu gak pernah pakai rok, selalu celana. Terus rambut itu selalu pendek gak pernah panjang,” ungkapnya.

BACA:  Akhir “Drama” Rendi, Lega Bisa Bertemu Keluarga
Bonita Sejak Kecil. Foto: Machsunnah

Sempat vakum saat SMA akibat Persebaya mati suri, Sunnah akhirnya bisa menikmati kembali nostalgia masa kecilnya ketika di Gelora 10 Nopember. Setelah di awal 2017 Persebaya akhirnya namanya kembali diakui oleh PSSI. “Meskipun sekarang bermain di Gelora Bung Tomo, yang jelas jauh lebih bagus fasilitas dan kapasitasnya. Tapi Gelora 10 Nopember gak tergantikan buat aku. Gelora 10 Nopember jelas lebih angker untuk lawan ketimbang di Gelora Bung Tomo,” tutur Sunnah.

Bonita satu ini berharap agar Persebaya bisa bertahan di Liga 1 musim ini dan mencoba yang terbaik demi menjadi juara musim ini. Wanita yang juga mengidolakan Irfan Jaya itu berharap agar Bonita-Bonita tetap semangat. “Jadilah Bonita yang santun dan jaga diri, jangan mau kita diinjak-injak sama siapapun. Harus jaga nama baik Bonita,” pungkas Sunnah kepada EJ. (ets)

Facebook Comments