Surya Antini, Bonita Single Parent yang Wani Mandiri Berwirausaha

295
Surya Antini.
454Shares

EJ – Menjalani kehidupan sebagai single parent membuat Surya Antini harus mandiri. Ia membuat usaha untuk mencukupi kebutuhan sendiri dan putra semata wayangnya. Perempuan yang akrab disapa Anti ini tak perlu menunggu lama untuk membuka usaha. Ia merintis beragam usaha usai berpisah dengan mantan suaminya. Bermacam-macam jenis usaha sudah dijalani oleh Anti.

Awalnya, Anti berjualan makanan pada 2012 dengan membuka warung di emperan depan rumah neneknya. Kebetulan rumahnya berada di pinggir jalan raya yang ramai orang lewat. Usahanya ramai dan bertahan 6 bulan. Karena ramai pembeli, ia memutuskan membuka warung sendiri. Sayangnya warung itu hanya bertahan dua tahun.

Lumpia yang dijual Surya Antini secara online.

“Karena ada persaingan bisnis yang gak wajar sampek saya sakit yang aneh. Itu masih ditambah pegawai saya menikah. Jadi saya putuskan usaha makanan online,” ujar Anti  kepada EJ.

Jenis makan yang dijual Anti berupa nasi kotak, tumpeng dan lain-lain. Alasan mengapa Anti memilih usaha berjualan makanan bukan tanpa sebab. Wanita yang tinggal di kawasan Donowati itu memang hobi memasak. Jadi, ia menjalankan hobi yang bisa membuahkan hasil. “Pilih usaha makanan karena saya suka memasak. Jadi menyalurkan hobi, sekaligus dapat uang,” ucapnya.

Apa yang dicapai Anti saat ini harus melalui perjuangan. Di awal usahanya, ia harus mengantarkan pesanan hingga 25 alamat dalam waktu 3 jam. Namun perjuangan Anti tidak sia-sia. Kepercayaan pelanggan pun ia dapatkan.

Tak berhenti sampai di situ saja, Anti juga merintis usaha lain berupa berjualan parfum impor dari Eropa. Sama seperti usaha makanan yang ia jalani, usaha parfum ini ia pasarkan secara online melalui Facebook dan WhatsApp. Pelanggannya tersebar mulai dari Surabaya hingga Sidoarjo.

BACA:  Menyerahlah untuk Menang, Karena Kita Persebaya
Surya Antini (kiri) saat mbonek.

Di tengah-tengah kesibukannya menjalankan usaha, Anti tidak pernah melewatkan pertandingan Persebaya. Maklum, sebagai warga Surabaya ia pun juga Bonek, pendukung Persebaya. “Keluarga suka mbonek. Kakak dan adik saya juga suka mbonek,” kata Anti.

Kesukaannya kepada Persebaya ia tuangkan di komunitas Bonek Garis Hijau. “Pastinya senang kalau Persebaya menang. Bisa teriak-teriak di stadion,” katanya.

Sama seperti Bonek lain, Anti juga punya cerita unik ketika mendukung Persebaya. Pernah suatu ketika, ia rela membeli tiket di calo dengan harga yang sangat mahal karena sudah kehabisan tiket.

“Waktu kemarin lawan Arema beli tiket di calo Rp 200 ribu, karena waktu antre 5 jam di Korem cuma dapat 1 tiket. Antre di Korem dari pukul 6 sampai pukul 1 siang,” cerita Anti.

Selain itu, ia juga punya pengalaman tak terlupakan ketika menyaksikan laga Persebaya  vs Persib. “Waktu lawan Bandung itu kan rusuh. Jadi setelah pertandingan saya belum bisa pulang karena saya bawa anak kecil.”

Meski banyak cerita-cerita kurang mengenakkan selama mbonek, namun Anti tidak pernah kapok mendukung Persebaya. Ia pun berpesan agar bonek tetap solid dan terus berusaha menjadi lebih baik. Tak lupa, ia berpesan agar Bonek semakin kreatif dalam hal apa saja. “Gunakan keahlian sebagai lahan berwirausaha. Tetap fokus dan kreatif,” pungkas Anti. (rvn)

Facebook Comments