Mengapa Sebaiknya Kita Sudahi Predikat “Persebaya Pembunuh Raksasa”

Bonek Gate 21. Foto: Joko Kristiono/EJ

Belakangan ini Persebaya dikenal sebagai “pembunuh raksasa”. Julukan ini disematkan pada klub kebanggaan Bonek karena keberhasilannya mengalahkan beberapa klub yang sedang bercokol di papan atas klasemen sementara Liga 1 2018. Skornya pun mencolok. Setelah membenamkan Persib Bandung di kandang usirannya dengan skor 1-4, Bajul Ijo berhasil mengandaskan perlawanan tim-tim papan atas lain tanpa kebobolan satu gol pun di Gelora Bung Tomo. Madura United berhasil dibuat bertekuk lutut dengan empat gol. Persija Jakarta dan PSM Makassar tidak bernasib lebih baik karena dihujani tiga gol tanpa balas oleh Rendi Irwan cs. Meskipun begitu, apakah tepat bagi kita untuk membiasakan diri dengan predikat Persebaya sebagai “pembunuh raksasa” karena rentetan kemenangan tersebut?

BACA:  Azrul Minta Pemain Tidak Takabur, Ingin Akhiri Musim dengan Strong

“Pembunuh raksasa” sebenarnya bukan predikat yang pantas untuk Persebaya. Julukan tersebut biasanya disematkan pada tim non-unggulan (underdog) yang mampu mengalahkan tim yang dengan kemampuan yang lebih mumpuni atau berkompetisi di kasta yang lebih tinggi. Di Inggris, julukan ini biasa muncul dalam gelaran Piala FA. Di kompetisi tersebut, klub-klub premier league bisa bertanding dengan tim-tim dari kasta di bawahnya. Di Piala FA, acap kali tim dari kasta yang lebih rendah mampu menumbangkan tim yang lebih diunggulkan. Di website-nya, penyelenggara Piala FA bahkan membuka voting bagi tim pembunuh raksasa favorit. Dengan demikian, julukan “pembunuh raksasa” secara implisit mengasosiasikan Persebaya sebagai tim guram sehingga merendahkan posisinya dalam konstelasi persepak bolaan di tanah air.

Halaman 1 2 3 4

Komentar Artikel