Mbak Rum, Tiket Final di GBK Rp 5.000, dan Sederet Catatan Bersejarah

51
Tri Suryaningrum. (Joko Kristiono/EJ)
314Shares

EJ – Bung Karno pernah mempopulerkan istilah Jas Merah: Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Tampaknya pesan itu melekat pada benak Tri Suryaningrum, yang berupaya merawat ingatan melalui sebuah kliping tentang kenangannya bersama Persebaya.

Perempuan yang akrab disapa Mbak Rum ini masih menyimpan kliping yang berisi tiket pertandingan, tanda tangan pemain, serta sederet catatan hariannya saat mendampingi Bajol Ijo berlaga. Siapa sangka, kini catatan itu menjadi coretan yang memiliki nilai sejarah tinggi.

Tri Suryaningrum. (Joko Kristiono/EJ)

Betapa tidak, kliping itu merekam sepak terjang Green Force di era 90-an, setidaknya khusus mengenai laga yang pernah disaksikan Mbak Rum.

“Semua koleksi ini didapat setelah saya menyaksikan laga Persebaya. Saat kuliah di Surabaya dari 1994, saya tak pernah bolos untuk melihat Persebaya bermain di Gelora 10 November,” ujarnya saat berbincang dengan EJ, Selasa (25/3).

Di antara himpunan kliping itu, terdapat tiket pertandingan pada 30 April 1995 antara Persebaya vs Arema di Stadion Gelora 10 November. Selain itu ada pula pertandingan lain di stadion yang sama, dalam kompetisi Liga Dunhill Indonesia pada Minggu 24 november 1994 dengan harga tiket Rp 3.000.

Tri Suryaningrum. (Joko Kristiono/EJ)

Melalui kliping tersebut, Mbak Rum juga menyimpan karcis kereta dari Surabaya tujuan Jakarta pada 23 Juli 1997. Bahkan, tiket semifinal dan final Liga Indonesia 1996/1997 juga masih terdokumentasikan dengan sempurna.

Masing-masing dari tiket tersebut tercantum nominal harga Rp 5.000, berlaku untuk 1 orang. Selebihnya, banyak koleksi lain yang barangkali kini masuk kategori barang langka.

Tri Suryaningrum. (Joko Kristiono/EJ)

“Karcis pertandingan ini dari 1994 sampai 2000, kelar pertandingan langsung saya tempel biar enggak hilang,” kata Mbak Rum yang juga wartawan senior Duta Masyarakat tersebut.

BACA:  Laga Pertama Hugo Samir Tiago

Mbak Rum sendiri bukanlah seorang yang lahir di Surabaya, melainkan Bojonegoro. Namun, sejak berseragam SMP dia sudah mulai menaruh hati pada Persebaya.

“Dulu bapak saya sering mendengarkan radio setiap Persebaya berlaga lewat saluran radio RDS. Bahkan skripsi saya soal Persebaya. Kecintaan sejak SMP menjadikan ada semua ini (koleksi tiket dan tanda tangan),” bebernya.

Tri Suryaningrum. (Joko Kristiono/EJ)

Kini, karena kesibukannya Mbak Rum sudah tak lagi sesering dulu menyaksikan pertandingan secara langsung. Aktivitas di buku klipingnya pun terhenti pada Kamis 17 Februari 2000, saat Persebaya menjamu PSM di Stadion Gelora 10 November Surabaya.

“Setelah itu saya sudah ndak pernah lihat Persebaya lagi karena balik ke Bojonegoro,” pungkasnya. (dit/rul)

Facebook Comments