Muasal Nama Bonek, Berkembang di Kalangan Suporter, Dipopulerkan Jawa Pos

Foto: Joko Kristiono/EJ
Iklan

EJ – Istilah Bonek pertama kali muncul pada akhir era 1980an. Sejarahnya tak bisa dipisahkan dari fenomena suporter Persebaya bertandang ke kandang lawan alias Tret Tet Tet yang diinisiasi harian Jawa Pos. 

Persebaya, pada musim 1986/87 berhasil melaju hingga babak 6 besar (putaran final) Divisi Utama Perserikatan. Sesuai regulasi yang berlaku, seluruh partai babak 6 besar sampai final diselenggarakan di Stadion Senayan, Jakarta. 

Nah, demi memuluskan ambisi juara, Dahlan Iskan melalui Jawa Pos memobilisasi puluhan ribu suporter untuk mendukung Persebaya secara langsung di Jakarta. Mobilisasi suporter itu lantas dikenal dengan nama Tret Tet Tet.

“Diorganisasi dengan naik bis bareng-bareng. Pertama (musim 1986/87) 40 bus, tahun berikutnya ketika juara (1987/88) 135 bus. Kemudian ada yang naik kereta api dan pesawat Garuda. Ketika itu belum ada nama Bonek,” tutur Slamet Oerip Prihadi, salah satu redaktur Jawa Pos saat itu.

Iklan

Budaya Tret Tet Tet itu terus berlangsung dari tahun ke tahun. Tidak hanya menggunakan moda transportasi resmi seperti kereta api dan bus tetapi juga banyak yang memilih nggandol truk.

Suporter Persebaya, yang rela melakukan berbagai cara untuk mendukung tim kesayangannya itu, akhirnya sering disebut Bondo Nekat alias Bonek. Berawal dari celetukan suporter, mulai musim 1989/1990, Jawa Pos pun mulai menyematkan sebutan Bonek untuk suporter Persebaya.

“Musim 89 ini lho, (satu tahun) setelah juara, pas mau away ke Jakarta, saya ada di sebuah warung di Tuban. Ada orang nyeletuk, teman juga, iki Bonek-Bonek kate nang endi nonton Persebaya? Ada yang nggandol truk. Heroisme suporter Persebaya saat itu terlihat,” cerita Slamet.

“Begitu saya dengar teman saya ngomong Bonek, wah jadikan ini (Bonek) aja (di koran). Menarik. Kalau Persib punya nama Bobotoh, Persebaya biar beda Bonek ae wis,” tambahnya.

Kebetulan, saat itu suporter Persebaya memang belum memiliki nama. Setelah berdiskusi dengan wartawan dan staf redaksi lainnya, Jawa Pos akhirnya menggunakan nama Bonek untuk mengidentifikasi suporter Persebaya. Nama Bonek semakin mantap digunakan karena dianggap menggambarkan karakter khas arek Suroboyo.

“Memang karakter kita sejak tahun 45 Bonek. Tentara Perang Dunia 2 yang punya senjata tajam, dilawan dengan senjata seadanya seperti bambu runcing. Masak sepak bola juga tidak bisa menang, semangatnya itu,” tutur Slamet.

“Jadi semakin pas karena suporter memang mengidentifikasi diri sebagai Bonek. Jadi kami hanya menangkap istilah yang ada di suporter.”

Sejak saat itu (musim 1989/90) Jawa Pos semakin gencar mempublikasikan nama Bonek sebagai julukan suporter Persebaya. Selama berhari-hari sampai berbulan-bulan nama Bonek terus ada di pemberitaan Jawa Pos. 

“Kalau sekarang mungkin bahasanya diviralkan. Berhari-hari pakai nama Bonek, akhirnya menjadi (dikenal) nasional,” tutur Slamet.

Sampai saat ini, nama Bonek pun masih menjadi istilah yang paling tepat untuk menggambarkan suporter Persebaya. Tidak hanya di wilayah Surabaya, Jawa Timur, atau Indonesia, nama Bonek juga mampu menarik perhatian suporter dari luar negeri.

“Yang pasti, orang sekarang tahu kalau Bonek suporter Persebaya.” (riz)

Komentar Artikel

Iklan

No posts to display