Sulit rasanya menerima kabar kepergianmu. Bagi kami yang pernah berjalan dalam satu barisan perjuangan, Andie Peci adalah seorang Bonek, tokoh buruh asal Madiun, sekaligus sahabat yang mengabdikan suaranya untuk sesuatu yang ia yakini benar.
Saya mengenalmu dekat pada masa-masa perjuangan mengembalikan Persebaya yang asli agar kembali diakui oleh PSSI, juga saat gelombang Revolusi PSSI menggema di berbagai penjuru negeri. Kita duduk bersama dalam rapat-rapat konsolidasi, menyusun langkah, menyatukan tekad, dan saling menguatkan ketika jalan terasa panjang.
Di setiap forum, engkau selalu berdiri paling depan. Bukan karena ingin dikenal, tetapi karena keberanianmu menyuarakan kebenaran. Sebagai seorang orator ulung, kata-katamu tidak sekadar membakar semangat, tetapi juga menumbuhkan keyakinan bahwa perjuangan ini tidak boleh berhenti. Suaramu menjadi penyemangat bagi ribuan Bonek yang menginginkan keadilan bagi Persebaya.
Perjuangan itu tidak mudah. Ada lelah, ada caci maki, ada kekerasan fisik, ada keraguan, bahkan ada rasa putus asa. Namun engkau tetap teguh. Bersama banyak pejuang lainnya, engkau menjadi salah satu motor penggerak yang terus mengawal perjuangan hingga akhirnya Persebaya kembali diakui oleh PSSI. Itu bukan sekadar kemenangan sebuah klub sepak bola, tetapi kemenangan atas keteguhan, solidaritas, dan keberanian untuk melawan ketidakadilan.
Atas nama pribadi dan sebagai bagian dari keluarga besar Bonek, saya mengucapkan terima kasih. Terima kasih karena telah memilih untuk tetap berdiri bersama kami ketika keadaan tidak berpihak. Terima kasih atas keberanianmu, atas suaramu, atas pengorbananmu, dan atas jejak perjuangan yang akan selalu dikenang.
Kepergianmu meninggalkan duka yang mendalam. Namun warisanmu tidak akan pernah hilang. Semangatmu akan terus hidup dalam setiap nyanyian di tribun, dalam setiap langkah perjuangan, dan dalam setiap Bonek yang percaya bahwa kesetiaan bukan sekadar slogan, melainkan tindakan.
Selamat jalan, Kamerad.
Namamu akan selalu menjadi bagian dari sejarah perjuangan Persebaya. Engkau mungkin telah berpulang, tetapi suaramu akan terus bergema di hati kami.
“Perjuangan boleh selesai, tetapi semangat para pejuangnya akan hidup selamanya.”










