Serial Syamsul Arifin (6): Tak Ada Penerus di Lapangan Hijau

Syamsul Arifin masih sering disebut jika Persebaya Surabaya bermain. Namanya begitu terkenal. Hanya, tak ada satu pun anaknya yang bersinggungan dengan sepak bola.

***

Beberapa anak muda berkumpul di sebuah rumah di kawasan Tenggilis Timur, Surabaya. Mereka tengah asyik membicarakan tentang sepeda motor.

”Anak saya yang paling kecil ada. Dia memang ahli menservis sepeda motor khususnya untuk balapan,” jelas Syamsul Arifin, salah satu bintang sepak bola Indonesia.

Hendra Kurniawan, anak Syamsul, terangnya, sebenarnya tahu bahwa sang bapak merupakan pesepak bola tersohor. Tapi, itu tak membuat dia ingin mengikuti jejak.

”Kecilnya, Hendra pernah ikut berlatih sepak bola di Indonesia Muda. Dia latihan usai pulang sekolah di SD,” tutur Syamsul.

Hanya, jika latihan terlalu keras, Hendra akan sakit. Hingga akhirnya, Syamsul dan istrinya, Sumartiningsih tak mengizinkan anak keempat tersebut tak bermain sepak bola. Seperti sang kakak Arif Darmawan, si sulung. Dua anak lainnya dari Syamsul dan Sumartiningsih adalah perempuan yakni Tita Aryanti dan Marisa Ramadani.

”Saya dan istri tak memaksa pilihan anak-anak. Kami hanya mendukung selama itu positif,” ucap Syamsul.

Dengan hobi mekanik sepeda motor, rumah Syamsul jadi bengkel. Saat berkunjung Rabu (31/8/2016) itu, ada sebuah sepeda motor yang kondisinya berantakan. Motor itu, jelas dia, tengah diperbaiki Hendra.

”Di dalam  banyak sepeda motor yang diperbaiki Hendra. Saya tak merasa terganggu dengan hobi dia,” ujar lelaki yang kini berusia 61 tahun tersebut.

Syamsul sendiri, selain masih bermain sepak bola, dia juga mengurus beberapa burung peliharaan. Ada  enam tempat burung yang di dalamnya ada unggas dengan kicauan merdu.

BACA:  Serial Syamsul Arifin (7-Habis): Tercapai Keinginannya Tinggal Dekat Masjid

”Tapi, gak mahal harganya. Buat isi waktu dan bisa mendengarkan  kicauan,” lanjut Syamsul.

Namun, dari semua aktivitas tersebut, ada satu hal yang paling rutin dilakukan. Apa itu? Syamsul selalu menjemput istrinya yang mengajar di Sekolah Dasar Kendangsari III, Surabaya.

Sumartiningsih akan menelpon rumah agar Syamsul segera menjemput. Untung, jarak rumah dan sekolah tidak terlalu jauh.

Saat penulis mengunjungi, telepon rumah berbunyi. Kebetulan, istri yang menelpon.

”Saya tinggal dulu ya. Saya harus jemput istri,” pungkas Syamsul.

Dengan usia uzur, Syamsul semakin religi. Meski sebelumnya, dia sudah dikenal sebagai sosok yang agamis. Ada satu hal yang membuat dia rela pindah. (Bersambung)