Serial Budi Johanis (1): Dua Kali Menembus Skuad Persebaya Junior

628
Budi Johanis.

Persebaya melahirkan banyak bintang. Namun hanya satu nama yang tak pernah berpindah klub, Budi Johanis.

***

Cukup lama penulis mengetuk pintu di sebuah rumah di kawasan Rungkut Bharata VII pada Rabu sore (7/9/2016). Pintu depannya terkunci dan tak ada sahutan dari dalam.

Tapi, tak lama berselang, sebuah sahutan terdengar dari dalam rumah. Sang empu rumah pun mempersilahkan masul.

Untung, penulis datang bersama dengan Lulut Kistono. Pelatih Persebaya di saat tak berkompetisi tersebut ternyata masih ada hubungan dengan Budi Johanis,sang pemilik rumah.

Ibu Lulut dan ibu Budi merupakan kakak beradik. Keduanya pernah sama-sama tinggal di kawasan Ambengan, Surabaya.

”Ayo duduk. Ya beginilah rumah saya,” jelas Budi.

Rumah yang sudah ditempati sejak1983 tersebut termasuk sederhana.Tak ada barang-barang mewah yang ada di teras.

Padahal, Budi merupakan salah satu bintang lapangan hijau yang pernah dimiliki oleh Persebaya dan juga Indonesia. Sampai sekarang, dia masih disebut-sebut sebagai salah satu playmaker terbaik Pasukan Garuda, julukan Timnas Indonesia.

”Sejak kecil, saya sudah berlatih sepak bola di Indonesia Muda. Latihannya di Lapangan PJKA Pacar Keling,” terang Budi mengawali cerita tentang perjalanan panjang karir sepak bolanya.

Dengan skill yang dimiliki, Budi, yang merupakan kelahiran 1957, mendapat kepercayaan membela Persebaya Junior pada 1976. Sayang, setahun kemudian, namanya tak masuk dalam skuad yang sama.

Budi Johanis (dua kanan atas).
Budi Johanis (dua kanan atas).

Ketidaksukaan seorang pengurus membuat dia gagal bergabung. Meski, masih banyak pihak yang menginginkan dia kembali.

”Tapi, pada 1978, saya dipanggil dan masuk lagi. Dari junior ini, saya bisa menembus senior,” lanjut Budi.

Debut perdananya, ungkap dia, tidak terlalu mengecewakan. Persebaya mampu dibawanya menjadi juara di Piala Surya yang dilaksanakan di Gelora 10 Nopember, Surabaya.

BACA:  Serial Budi Johanis (2): Banyak Tawaran Usai Balik dari Brasil

”Dari situ pula,saya mendapat panggilan seleksi PSSI Binatama. Dari Persebaya selain saya ada Joko Irianto (sekarang sudah almarhum),” kenang Budi.

Masuk PSSI Binatama membuat dia harus meninggalkan keluarga selama enam bulan. Budi digembleng di Brasil.

Pulang dari Negeri Samba, tawaran banyak menghampiri, khususnya klub-klub Galatama. Mengapa? (Bersambung)