Berdamai dengan Harga Tiket

Kick off Liga 2 belum juga dimulai, di Surabaya bola itu sudah ditendang kesana kemari. Antara Bonek dan Manajemen sudah tersaji saling jual beli serangan. Tentu ini dalam arti yang positif.

Tak ada yang salah sebenarnya dengan rewelnya para pendukung fanatik Persebaya. Begitupula dengan ngeyelnya manajemen terkait harga tiket Persebaya. Bagi sebagian, utamanya para Bonek harga tiket itu tak wajar. Terlalu tinggi, mahal dan tak masuk akal karena rentang sosial Bonek yang sangat lebar dengan standar pendapatan yang juga tak rata diantara mereka. Belum lagi tak semua Bonek telah memiliki pekerjaan dan pendapatan yang tetap. Tentu sulit dan perlu dicari titik tengahnya.

Di sisi sebaliknya, manajemen pun tak salah menelurkan kebijakan harga tiket yang dikritisi Bonek tersebut. Ada 4 harga tiket yang sengaja dibuat berbeda oleh mereka. Dua tiket bentuknya tiket terusan Bonek Card yang dibanderol masing-masing 200 ribu untuk kategori Fans dan 750 ribu untuk Superfans. Tiket tersebut untuk menonton 7 kali laga home Persebaya. Sedangkan dua tiket sisanya merupakan single ticket atau tiket sekali nonton dengan harga jual masing-masing 50 ribu untuk kelas Fans dan 250 ribu untuk Superfans.

Tiketnya Kemahalen Cak

Mahal tidaknya harga tiket itu relatif. Memang relatif. Tergantung melihatnya dari sudut dan sisi yang mana. Supaya fair bagaimana kalau sekarang kita bersama-sama melihatnya dari kedua sisi yang berbeda. Baik dari sisi Manajemen maupun Bonek.

Dari sisi manajemen, hitung-hitungannya njelimet. Mengapa? karena angka-angka pemasukan penjualan tiket berkorelasi pada keberlanjutan klub. Jika sebuah klub mau maju dan hidup, punya cita-cita untuk jadi penantang atau juara sekalipun maka komponen pendapatan dari tiket ini harus dihitung maksimal karena berimplikasi terhadap sarana dan prasarana berupa infrastruktur penunjang latihan dan pertandingan, pelaksanaan pertandingan, gaji pemain, pelatih dan para anggota staf beserta bonusnya, asupan gizi, mental para pemain, hingga posisi di klasemen. Tinggi rendah pemanfaatannya di masing-masing klub berbeda-beda menyesuaikan strategi manajemen dalam pengelolaan pendapatannya.

Bagaimana dari sisi Bonek? Sebagai pendukung setia dan militan, dimanapun lokasi pertandingannya baik home atau away sekalipun, mereka akan menyanggupi untuk datang mendukung Persebaya. Ini sudah dibuktikan ketika Dirgantara Cup di Sleman, beruji tanding di Semarang, maupun saat laga homecoming game di Gelora Bung Tomo silam. Sebelum dikelola oleh Jawa Pos Sportainment pun militansi para Bonek ini sudah mendarah daging dan total dalam mendukung. Meski, dalam beberapa kesempatan kemarin masih terlihat beberapa rekan Bonek yang belum sadar bahwa menonton sepakbola di stadion tanpa membeli tiket itu sama halnya dapat mengganggu keberlanjutan dan masa depan karir para pemain pujaan mereka maupun penyelenggaraan pertandingan.

Kembali ke awal, mungkin mayoritas bonek bicara mengenai tiket yang terlampau mahal bagi teman-teman mereka yang lain. Teman-teman yang utamanya memang selalu terpanggil ingin datang ke stadion jika tahu Persebaya bertanding. Ada atau tidak ada uangnya.

Bonek memang unik, strata sosial mereka sangat lebar karena sekalipun tak dibentuk mereka telah menjadi seorang Bonek pendukung Persebaya bahkan sejak mereka kecil. Entah itu ditularkan oleh orang tua atau karena lingkungan sosial dan pertemanan disekitarnya. Jadi, karena itulah mengapa secara struktur ekonomi, pendapatan para Bonek ini memang sangat tak seragam karena fansnya juga beragam.

Menurut pendapat pribadi penulis, empat harga tiket itu sebenarnya wajar dan sudah win-win solution karena Bonek telah difasilitasi dan diberikan kemudahan harga tiket yang nilainya sudah turun dari rencana sebelumnya sebesar 250 ribu rupiah untuk Fans dan 2.5 juta rupiah untuk Superfans. Keduanya untuk menonton 7 laga home. Dengan harga saat ini, masing-masing tiket terusan sebenarnya telah turun 20 dan 70 persen.

Dari sisi harga, Bonek diberi kemudahan secara nilai dan fasilitas dengan membeli tiket terusan Bonek Card. Untuk tiket terusan versi Fans saja yang dibanderol 200 ribu rupiah tersebut, Bonek telah mendapatkan harga tiket kurang lebih Rp. 28.600 per laga home. Itupun sudah termasuk dengan asuransi seperti masukan dari salah seorang anggota Bonek dari kawasan Sumatera saat Bonek Conference lalu. Bandingkan dengan harga single ticket seharga 50 ribu rupiah untuk sekali laga. Ini sama artinya dengan Bonek mendapatkan keuntungan harga 43 persen lebih rendah jika membeli dengan tiket terusan.

Lebih jauh artinya manajemen sebenarnya juga tidak tuli. Mereka sudah menyerap aspirasi dan menghitung kekuatan keuangan pendukungnya dan kekuatan keuangan mereka tentunya. Karena dalam sepakbola industri, arus keluar masuk pembukuan mereka ini harus dipikirkan masak-masak. Kalau tidak, tinta merah akan mendominasi pembukuan mereka. Belum lagi jika dana yang digunakan untuk membiayai perjalanan Persebaya di kompetisi ternyata didapat dari pinjaman bank atau lembaga keuangan (investasi) lainnya yang tentu harus mereka kembalikan dengan tambahan bunga dibelakangnya. Kembali lagi, dampaknya bukan pada manajemen ataupun Bonek melainkan pada keberlanjutan perjalanan klub ini di depan.

Sebuah Niat Baik      

Manajemen, kebetulan di Persebaya Surabaya ini dipegang oleh Jawa Pos Sportainment, sudah mempunyai niat baik untuk mengembalikan Persebaya ke masyarakat Surabaya dan tetap bertanding di Surabaya. Tanpa sekalipun ikut gelombang latah jual beli lisensi klub yang bisa membuat klub ini hilang berganti nama dan homebase atas nama industri. Biaya yang dikeluarkan diyakini tak sedikit dan mungkin juga tak masuk akal untuk “menghidupkan” kembali Persebaya. Tapi memang terkadang di suatu waktu, kecintaan tidak bisa lagi diukur dengan sejumlah besar nominal uang.

Sayangnya niat baik ini teramat sangat tidak didukung dengan situasi dan waktu. Wis kebacut rek! Ucapan ini harus dipahami dengan sangat baik oleh Bonek maupun manajemen. Hitung-hitungan harga tiket ini mungkin tidak masuk bagi sebagian Bonek dan tidak masuk pula dari sisi manajemen. Tapi ada sejumlah tantangan yang harus dipahami bersama mengapa menurut analisis kami pilihan ini mau tidak mau memang harus terpaksa dilakukan.

Regulasi dan woro-woro mengenai Liga, kita tahu bersama baru bergulir 1 bulan belakangan dari pihak regulator. Dampaknya tentu yang paling terasa ada di tingkat manajemen. Hitung-hitungan biaya investasi mereka berpotensi berantakan sedari awal lalu. Apalagi, Persebaya baru kali ini masuk kembali ke Liga setelah beberapa musim vakum. Tentu tidak ada gambaran pasti dari tahun-tahun sebelumnya, seperti apa pemasukan potensial klub ini dan dari sektor mana saja. Sehingga dampaknya mereka akan sangat bergantung dengan pendapatan yang utama-utama dulu yaitu sponsor, tiket, komersial dan broadcasting.

Regulasi yang kelewat mepet ini pastinya sangat berdampak pada masuknya pihak sponsor dan juga pemasukan tiket.

Siapa yang saat itu berani menjamin jika Liga 2 akan dimulai pada waktu yang telah ditentukan atau malah mundur?

Siapa yang tahu kalau pemain umur 35 tahun benar-benar tidak boleh lagi merumput dan siapa yang tahu pula kalau setelah itu regulasinya bisa direvisi?

Siapa yang tahu kalau laga Liga 2 ternyata dimainkan antara hari Senin sampai Kamis saja dan lagi-lagi akhirnya direvisi dengan tambahan ada laga weekend namun minus siaran langsung dari pemilik hak siar?

Terakhir, siapa yang tahu kalau ternyata Liga 2 turut terkena imbas dari kontrak hak siar dimana masing-masing klub kini tidak bisa lagi lakukan live streaming? Tidak ada yang pernah benar-benar tahu. Kecuali yang sudah tahu.

Sialnya regulasi-regulasi ini justru memperparah keadaan. Contohnya seperti ketika terlanjur kontrak pemain usia tua, diputus kontrak lalu direvisi untuk dikontrak lagi, hilangnya potensi pendapatan karena jadwal yang tak berpihak pada klub, ditambah lagi dengan klub yang tak boleh lakukan streaming karena sudah ada kontrak hak siar dengan pihak televisi. Lengkap sudah.

Hal-hal seperti ini justru makin membuat pundi-pundi pemasukan klub berkurang. Padahal online streaming bisa jadi tambahan pemasukan yang lumayan buat klub jika bisa dimanfaatkan. Manfaatnya juga banyak, selain tambahan pendapatan karena masuknya iklan, streaming juga bisa dikomersilkan dengan membuatnya jadi pay-per-view alias tidak gratisan. Bedanya harga jual tiketnya bisa direduksi menjadi hanya 20 ribu rupiah saja misalnya, karena potensi penontonnya jauh lebih besar dan bisa ditonton oleh para Bonek yang bertebaran di luar negeri. Terakhir, layanan streaming dapat jadi pelipur lara bagi Bonek yang tidak bisa datang ke stadion karena harus kerja maupun Bonek yang tak memiliki Bonek Card maupun biaya lebih untuk membeli single ticket di stadion. Juga mengurangi potensi beberapa Bonek yang masih suka penekan. Artinya, manajemen bisa tenang memaksimalkan pemasukan dari ticketing. Sayangnya, dengan jadwal main antara Senin sampai Kamis mereka mau tidak mau kembali lagi harus menyandarkan pemasukan mereka hanya pada rating dan kontrak hak siar. Itu juga jika mendapatkan banyak jadwal Live dari pihak televisi. Kalau tidak, ya mereka kembali hanya harap-harap cemas saja menunggu kerugian datang.

Di pikiran kami, manajemen mungkin juga deg-degan dengan regulasi yang ada. Bukan hanya manajemen Persebaya tapi seluruh manajemen klub-klub di Liga 2 yang bersungguh-sungguh dan kreatif untuk mencari pundi-pundi pemasukan buat keberlanjutan klubnya. Di Persebaya dampaknya kini terasa, akibat regulasi yang mepet dan waktu yang bergulir terlalu cepat menyebabkan dalam beberapa kesempatan (juga saat ini) Bonek dan manajemen kembali saling melemparkan gagasan, jawaban dan edukasi mereka ke publik.

Sekali lagi tidak ada yang salah dengan keinginan Bonek. Begitupula dengan keputusan manajemen dalam isu harga tiket kali ini. Berdiskusi bisa menjadi solusi, tapi apapun keputusan dan hasil akhirnya semua harus siap menghormati. Karena sejatinya bukan manajemen ataupun para Bonek yang akan terkena dampaknya, tapi keberlanjutan dan konsistensi perjalanan skuad Persebaya dan lambang ikan Sura dan Buaya di dada menuju cita-cita masuk Liga 1 lah yang harus dipikirkan bersama. Wani!

*) Adipurno Widi Putranto, tinggal di Surabaya 7 hari setiap bulannya. Bisa ditemui di akun @analisiscetek atau analisiscetek@gmail.com

  • Yoga Dinata

    mantap analisisnya, awas diomong orang JP sama bonek Arus Tsunami wkwkwk

    • Glamvian

      heuheuheu arus lalulintas ganok mas?
      mesti ngakak aku moco arus tsunami